Kejernihan “Lontara Rindu”

Begitu membaca nama S Gegge Mapangewa pada sebuah buku yang DSC_9835saya lihat di Gramedia, saya langsung mengambilnya. Membaca sinopsis novel tersebut dan tanpa pikir panjang untuk membeli novel yang menyandang gelar sebagai novel terbaik pada lomba novel Republika 2012. Sejak SMP, saya akrab dengan karya S Gegge Mapangewa, karya-karyanya kerap hadir di majalah Aneka Yess dan Annida yang biasa saya beli. Tulisannya yang selalu berlatar belakang Makassar dan sekitarnya, membuat saya terinspirasi untuk ikut merangkai kata. Melihat namanya di sebuah sampul novel, membuat saya makin mengagumi konsistensi dan kelihaiannya dalam menulis.

Judul : Lontara Rindu
Penulis : S Gegge Mapangewa
Penerbit : Republika
Cetakan Pertama, Maret 2012
Tebal : 342 halaman

Lontara Rindu berkisah tentang sepasang anak kembar Vito dan Vino yang terpaksa harus berpisah karena perceraian Ayah dan Ibunya. Vino ikut bersama Ayahnya yang merupakan penganut Tolotang dan Vito tetap bersama ibunya tinggal disebuah desa kecil di sebuah pegunungan di Kabupaten Sidrap, Pakka Solo. Di tengah kehangatan kisah masa pubernya bersama teman-teman SMP-nya yang hanya berjumlah 8 orang, Vito menyimpan kerinduannya sendiri. Bahkan ia menyembunyikan kerinduan itu dari Pak Amin, guru penjas sekaligus guru yang selalu menanamkan moral yang baik, tempatnya selalu bercerita tentang apapun. Kerinduan itu pula yang membuatnya nekad mencari ayahnya di Perriyameng, Amparita, belasan kilometer dari kampungnya. Sayangnya Vito tak menemukan ayah dan saudara kembarnya disana. Hingga akhirnya suatu takdir yang mengantar Vito bertemu dengan kedua orang yang sejak lama dirindukannya.

Sebagai penulis yang telah lama malang melintang di dunia penulisan fiksi, imajinasi S Gegge Mapangewa memang tidak diragukan. Ia mampu membuat kerinduan yang dialami Vito begitu mengalir dan masuk ke relung pembaca. Beberapa adegan membuat saya sebagai pembaca ikut merasakan kesedihan akibat rindu yang membuncah. Kata-kata yang dirangkai membuat saya sulit melepaskan buku ini sebelum selesai membacanya.

Tokoh-tokoh yang diciptakannya pun memberikan banyak pencerahan bagi pembaca. Tokoh Pak Amin, seorang guru yang berusaha menanamkan pendidikan karakter bagi siswanya. Meski mengajar dipedalaman ia tetap ikhlas mengajarkan siswanya tentang budaya yang harus dilestarikan, menanamkan agama dan moral yang begitu kuat serta memotivasi siswanya untuk mencapai mimpinya. Mengajarkan budaya-budaya yang harus dipertahankan dan yang seharusnya ditinggalkan. Bu Maulindah yang meski takdir membawanya kembali ke kampungnya sebagai guru honorer setelah tak juga mendapatkan pekerjaan selulusnya kuliah,  tetap meyakini mimpinya akan terwujud. Hingga berita tiba bahwa ia mendapatkan beasiswa ke Jepang. Juga kisah I Cinnong, sang nenek yang rajin bersedekah dan mendapat rejeki melimpah dari kebiasaan baiknya itu.

Novel Lontara Rindu ini bertutur tentang hubungan manusia di dalam keluarga dan lingkungannya yang kompleks dengan lokalitas yang amat pekat dan kental. Dalam karya ini, penulis yang bernama asli Sabir,ST, memperlihatkan totalitasnya dalam menulis. Tampak jelas dia melakukan riset yang mendalam pada setiap part dalam novelnya. Sebagai orang Bugis, buku ini seolah membawa saya yang telah terbiasa dengan aktivitas kota kembali ke kampung halaman. Mulai dari deskripsi alam pegunungan yang indah, kisah tentang pernikahan adat Bugis dengan gotong royong yang sangat kental, bentuk rumah adat Bugis dengan segala filosofinya, kembar reptil yang banyak dipercayai, hingga kepercayaan dan kebiasaan lain yang banyak berkembang di masyarakat Bugis. Beberapa kali saya mengangguk mengiyakan adat kebiasaan orang Bugis yang tertulis di novel ini. Unsur lokalitas yang sangat pekat ini sekaligus membuat saya bangga, sebuah novel terbaik tingkat nasional berkisah tentang Bugis. Meski demikian, ada pula beberapa hal yang sebenarnya berlaku umum tapi diakui sang penulis sebagai adat kebiasaan Bugis. Seperti menu hambar tanpa sambal, tentang bentuk nisan yang berlaku bagi semua penganut Islam bukan hanya bugis, juga tentang minyak tokek. Penulis seolah mem-bugis-kan hal yang berlaku umum.

Kerinduan, kekuatan tokoh dan lokalitas dalam novel ini saling tarik menarik menciptakan novel yang mengagumkan, wajar kalau novel ini menjadi juara.

Iring-iringan Towani Tolotang menuju lokasi Parinyameng

Iring-iringan Towani Tolotang menuju lokasi Parinyameng

Penulis yang lahir di Sidrap ini juga membagi pengetahuaannya tentang kepercayaan Tolotong, sebuah kepercayaan yang masih berkembang di Amparita, Sidrap. Dengan sederhana dan mudah dipahami penulis membuat kepercayaan Tolotang begitu menyatu dalam cerita. Sejarah, adat kebiasaan bahkan upacara adat orang Tolotang yang terkenal sangat sakral dideskripsikan dengan sangat apik. Sebagai orang yang baru sekali menginjakkan kaki di Amparita, saya memperoleh banyak pengetahuan tentang kepercayaan Tolotang dibuku ini.

Namun terdapat beberapa hal yang membuat logika saya sebagai pembaca agak sedikit terganggu, terutama di bagian awal novel ini. Masih di halaman pertama, di paragraf pertama tertulis “Di awal musim kemarau” namun di paragraf berikutnya tertulis “Telah setahun hujan tak turun”. Menurut saya jika telah setahun hujan tak turun, itu bukan berarti awal musim kemarau.

Jujur, saya tidak begitu tertarik membaca Lontara 1. Disitu dikisahkan anak-anak mencuri diary Bu Maulindah di dalam laci. Saya kurang sreg dengan kisah ini. Jika yang dimaksud adalah laci di dalam kelas, tak mungkin ada seseorang yang menyimpan diarynya sembarangan. Pun kalau diary itu di simpan di ruang guru, sulit jika seorang siswa nekad mencuri diary gurunya. Selain itu, menurut pendapat saya, mimpi Bu Maulindah mengenai jodohnya sebenarnya bisa dibuat lebih menarik jika sosok yang dimimpikan itu sebenarnya ada di Pakko Solo hanya saja Bu Maulindah tidak berani mengungkapkannya.

Dalam novel ini dikisahkan SMP tempat Vito bersekolah telah dilengkapi dengan lab komputer padahal sebelumnya sang penulis bertutur bahwa desa itu belum tersentuh listrik. Ada juga beberapa kata dalam percakapan yang kesannya terlalu tinggi untuk anak seumuran SMP yang tinggal di sebuah pegunungan yang jauh dari sumber informasi.

Terlepas dari segala kekurangannya, novel ini sangat patut untuk diapresiasi dan sangat saya anjurkan untuk membacanya. Dengan kejernihan cara penulisannya novel ini mampu mencerahkan, membuka mata bagi orang-orang yang begitu melangitkan budaya dan mengenyampingkan agama. Novel ini sekaligus menanamkan  pendidikan karakter untuk anak yang baru dewasa. Pada akhirnya buku ini sangat menarik bagi mereka yang senang mempelajari budaya, juga sangat dianjurkan bagi guru, serta bagi pembaca yang punya latar belakang Bugis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *