Berenang, Cemplungkan Galau

image

Hampir seluruh sekolah di Kota Makassar, memasukkan berenang dalam kurikulum pelajaran penjasnya. Sejak dari SD, guru olahraga selalu mengajak kami untuk berenang khususnya di akhir semester, menjelang ujian. Memasuki SMP, sama dengan guru olahraga SD, materi berenang pun menjadi andalan guru kami untuk mengambil nilai. Dari rumor yang beredar, sang guru tersebut mendapat untung dari retribusi siswa yang berenang. Entahlah, terlepas dari rumor tersebut, saya adalah salah satu siswa yang sangat menantikan jadwal renang ini.

Rupanya guru olahraga SMA ku berbeda dengan kebanyakan guru olahraga di Makassar. Kurikulum yang beliau buat lebih runut dan teratur, sangat mendasar serta memiliki tujuan yang jelas. Misalnya minggu ini penguatan otot lengan, minggu depan penguatan otot kaki, minggu berikutnya kelincahan, lalu kelenturan dan sebagainya. Ujiannya merupakan aplikasi dari semua materi yang sebelumnya diajarkan. Tidak ada materi berenang. Satu-satunya alasan yang membuatku tetap mencari kolam renang waktu SMA, karena sulitnya air di asrama kami. Berenang di salah satu kolam renang di Malino berfungsi ganda, untuk mandi sepuasnya sekaligus sebagai sarana rekreasi melepas penat dengan padatnya jadwal belajar di sekolah.

Ketika memasuki masa kuliah, seorang teman sering mengajak saya berenang di salah satu kolam renang di Makassar, Tirta Lontara.

Berenang sejak SD hingga kuliah membuat saya tentu bisa berenang, meski tak dapat dikatakan berenang yang sesungguhnya. Saya hanya mahir mengapung di tengah kolam dan melakukan gaya berenang yang salah. Mengayunkan tangan sekuat tenaga dan kepala menoleh kekiri kekanan di atas air. Yah, gaya yang salah. Gaya berenang itu memang mampu membuatku menyebrangi lebar kolam saat itu, tetapi membuatku mudah lelah.

Hingga pada suatu hari, pada seleksi calon anggota pecinta alam, kami diberikan ujian berenang. Karena merasa sering berenang sebelumnya, saya percaya diri saja langsung terjun di kolam yang cukup dalam. Kedalamannya 3 meter kalau tidak salah. Namun yang tidak saya sadari, kondisi badanku tidak cukup fit saat itu. Berenanglah saya dari sisi kolam ke sisi sebrang dengan gaya “berenang sungai”. Tiba-tiba saya kehabisan tenaga di tengah kolam renang. Sejenak saya mencoba rileks dan mengapung seperti biasa tetapi rupanya tenagaku tak juga mampu. Kepanikanpun melanda. Saya mulai menggelepar di tengah kolam sambil terus berusaha meraih sisi kolam yang tinggal beberapa meter lagi. Tetapi panitia terlalu sigap, mereka langsung terjun menolong. Karena panik, bukannya tertolong, malah saya membuat sang panitia ikut tenggelam bersamaku. Pada akhir cerita, saya mampu mencapai sisi kolam. Entah itu atas bantuan panitia yang lain, atau atas usahaku sendiri, saya lupa. Sejak saat itu, saya tak pernah lagi menyentuh kolam renang.image

Berat badan yang terus bertambah semenjak menikah, membuat saya sedikit galau. Olahraga menjadi solusi yang menurutku paling “masuk akal”. Minum obat pelangsing terlalu beresiko, slimming spa cukup mahal apalagi sedot lemak bukan hanya mahal tapi juga berbahaya. Setelah menimbang-nimbang jenis olahraga yang akan saya lakukan, renang pun menjadi pilihan.

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah kurang lebih 6 tahun, saya berenang lagi. Sengaja saya mengajak suami, pertama supaya ada yang menemani, kedua supaya dia ikut berolahraga, ketiga supaya dia tidak terlalu protes saat kulitku terbakar akibat berenang. Ternyata ini pengalaman pertama dia berenang di kolam renang.

Beberapa saat setelah renang pertama itu, ada yang menawarkan kartu member. Jelas, dengan kartu member, renang menjadi lebih hemat. Saya pun mendaftar dan mengikutkan sang suami. Hanya sekali pertemuan dan mendapatkan pengarahan dari master Amad (Guru berenang sekolah plurk makassar) saya pun mampu melakukan gaya berenang yang benar. Dulu yang hanya bisa menyebrangi lebar kolam (dengan kelelahan luar biasa), sekarang sudah bisa menyebrangi panjang bahkan sampai dua kali tanpa henti.

Renang yang niat awalnya untuk olahraga dan mengurangi sedikit berat badan, semakin menyenangkan karena kehadiran teman-teman plurker. Sebenarnya rutinitas berenang mereka sudah lama, saya saja yang baru bergabung. Hampir setiap jadwal renang, ada makanan dan tentu tawa yang membuat aktivitas renang ini makin menyenangkan. Bukan hanya olahraga tetapi sekaligus mengurangi stres.

Ah… Tidak sabar menanti jadwal renang selanjutnya.

0 thoughts on “Berenang, Cemplungkan Galau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *