Romansa Cinta Habibie & Ainun

image

Buku best seller Habibie & Ainun adalah salah satu hadiah yang suamiku berikan sebagai hadiah tanggal 11 nya. Saat itu, buku ini baru saja terbit. Membacanya membuat saya terhenyuk, betapa dalam cinta pak Habibie kepada istrinya dan betapa besar pengorbanan yang dilakukan Ibu Ainun untuk suaminya.

Mendengar buku ini akan di filmkan, saya tentu sangat antusias. Biasanya saya sangat malas nonton film Indonesia, selain karena film yang banyak beredar tidak begitu bermutu juga karena tak beberapa lama film-film itu akan diputar di televisi. Tetapi untuk beberapa film, ada pengecualian termasuk film Habibie&Ainun ini.

Saat film ini sudah tayang di bioskop, saya mengajak suami untuk nonton. Sepulang kantor, kami langsung ke MP, sayangnya tiketnya sudah habis. Kami pun menunggu sampai hari minggu. Namun, meskipun saat itu masih siang, tiket sudah hampir penuh sampai pemutaran terakhir. Ada kursi yang masih kosong, tapi saya tidak pernah tertarik untuk duduk di depan, apapun alasannya. Mending tidak nonton, daripada harus capek mendongak. Hari kamis saya sengaja ke mall untuk beli tiket, tetapi sepertinya penggemar film ini cukup banyak, tiket pun telah habis. Tiket yang tersisa tinggal pemutaran terakhir, jam 10 malam. Terlalu malam, pikirku. Hari itu, saya pun tidak jadi menonton. Tadi, akhirnya suamiku berhasil mendapatkan tiket, lagi beruntung dapat 2 kursi kosong di baris B namun pada pemutaran terakhir. Okelah, demi menonton film ini, saya rela pulang jam 12 malam. Begitulah perjuangan menonton film ini.

image

Film ini berkisah tentang kisah cinta Pak Habibie, Presiden RI ketiga, dengan istrinya terkasih, Ibu Ainun. Kisahnya berawal dari masa SMA keduanya, saat itu Habibie atau yang dipanggil Rudi adalah kakak kelas Ainun. Mereka memiliki banyak kesamaan, termasuk sama-sama jenius, hingga mereka acap kali dijodohkan oleh teman-teman bahkan guru mereka. Karena suka berenang, kulit Ainun pun hitam, hingga pada suatu hari Rudi mengejeknya. “Kamu ini jelek, gendut, hitam, kayak gula jawa”. Ainun yang mendengar komentar Rudi, tetap kalem, dan mengulas senyum.

Selanjutnya film dikisahkan saat Rudi menempuh pendidikan di Jerman. Disana, banyak yang memuji kecerdasannya, hingga ia pun dinyatakan sakit TBC. Sedangkan Ainun melanjutkan kuliah di Fakultas Kedoktoran, Universitas Indonesia.

Saat pulang ke Indonesia, sang Ibu menyuruh Rudi membawa kue ke rumah keluarga besar Ainun. Bertemulah Rudi dan Ainun untuk pertama kali setelah belasan tahun mereka tak bertemu. Saat itu Ainun sedang asyik menjahit, kebetulan dia mengambil cuti dari profesi dokternya di RSCM. Betapa kaget Rudi saat itu melihat Ainun yang terlihat makin cantik, gula jawanya telah berubah jadi gula pasir.

Meski banyak yang hendak melamar Ainun, tetapi Rudi tetap menjadi pilihannya. Merekapun menikah pada tanggal 12 Mei 1962.

Setelah menikah, Ainun pun diajak Rudi menemaninya untuk menyelesaikan program doktornya di Jerman. Kehidupan mereka disana serba terbatas, uang beasiswa yang sedikit, tempat tinggal yang kecil. Mau tak mau mereka harus berhemat, hingga Rudi rela berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya. Walaupun demikian, Rudi tetap meyakinkan Ainun, mereka dapat melewati semuanya.

Perlahan kehidupan mereka mulai membaik. Impian Rudi untuk mengabdi di Indonesia akhirnya terwujud. Pak Soeharto yang menjabat sebagai presiden saat itu, memanggilnya untuk mengaplikasikan ilmunya di Indonesia.

Karir Habibie pun masuk ke ranah politik. Ia masuk dalam kabinet sebagai salah satu mentri. Ia pun mulai mendapat cobaan dari pengusaha-pengusaha nakal yang coba menyogoknya, namun beliau tetap bertahan dengan kejujurannya.

Tahun 1995, Habibie berhasil menerbangkan pesawat perdananya. Dengan dukungan keluarga, impiannya setelah sekian lama pun terwujud. Atas prestasinya, Habibie dilamar sebagai wakil presiden Indonesia, tepat disaat Reformasi Indonesia sedang bergejolak. Saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada tahun 1998, Habibie pun diangkat sebagai Presiden ketiga RI. Keputusannya melepaskan Timor Timur dari Indonesia, menjadi alasan kuat DPR saat itu menolak laporan pertanggungjawabannya.

Merasa kecewa, sekaligus ingin menebus kurangnya waktu untuk keluarga, Habibie dan istrinya kembali ke Jerman. Setelah merasa sudah cukup lama di Jerman, merekapun kembali ke Indonesia.

Dua bulan sebelum Ainun meninggal, Habibie baru mengetahui penyakit kanker ovarium istrinya telah memasuki stadium 4. Sebelumnya, Ainun telah dioperasi 2 kali, namun kanker itu rupanya masih berkembang. Habibie mengira setelah operasi kedua, penyakit istrinya telah sembuh namun rupanya tidak, istrinya menyembunyikan penyakit itu darinya.

Mengetahui hal itu, malam itu juga ia membawa istrinya berobat ke Jerman dengan segala teknologi terbarunya. Begitu setia, Habibie mendampingi istrinya. Meyakinkan bahwa Ainun kuat. Ainun pun harus melewati 9 kali operasi untuk membersihkan kankernya yang telah menyebar, namun Tuhan berkehendak lain, Ainun pergi meninggalkan kekasihnya lebih dulu.

Film ini banyak menyiratkan nilai positif. Tentang kesetian seorang istri yang selalu ada mendampingi suaminya, dikala susah dan bahagia. Istri yang begitu perhatian pada suaminya, memastikan gizi yang akan dimakan tiap hari oleh sang suami, mengingatkan untuk minum obat, mengingatkan untuk istirahat hingga memperingatkan akan bahaya yang akan dihadapi suaminya dikala mereka memasuki ranah politik yang begitu kejam. Disaat Habibie terpuruk saat penolakan pertanggungjawaban dan bangkrutnya IPTN yang dibangunnya, Ibu Ainun tetap setia mendampinginya.

Film ini juga menanamkan nilai suatu pengorbanan. Pengorbanan Habibie yang rela berjalan kaki demi berhemat, bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Di satu sisi, juga memperlihatkan pengorbanan seorang istri. Ainun yang cerdas sekaligus seorang dokter, dalam egonya tentu ingin bekerja mengaplikasikan ilmunya. Namun Ainun melupakan semua ego itu, ia memilih mendampingi suaminya, menjadi dokter pribadi untuk suaminya, menjadi perawat yang membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Berbeda dengan perempuan masa kini, yang lebih mementingkan karirnya meskipun harus meninggalkan suami dan membiarkan anaknya dibesarkan oleh baby sitter. Ibu Ainun dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata, memilih mengabdi untuk keluarga, menjadi dokter sekaligus guru terbaik untuk anak-anaknya.

Demi menjaga agar suaminya tetap fokus bekerja dan agar suaminya tetap sehat, Ainun menyembunyikan penyakit kanker yang dideritanya. Padahal tentu tidak mudah untuk menyembunyikan penyakit itu. Bahkan di saat ia telah sekarat, Ibu Ainun tetap mengingatkan suaminya untuk meminum obat.

Jika masih ada yang meragukan adanya cinta sejati, sepatutnya mereka menonton film ini. Habibie seperti memperlihatkan bahwa cinta saja sudah cukup untuk membangun suatu keluarga sakinah. Karena cinta, Habibie rela bekerja keras. Karena cinta, Ainun rela mengabdikan seluruh hidupnya demi keluarga. Cintalah yang membuat mereka bertahan, cintalah yang membuat mereka kuat.

image

Salah satu adegan yang sangat mengharukan

Kualitas film ini makin terasa dengan akting Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari yang sangat totalitas. Secara pribadi, saya makin mengagumi Reza Rahardian yang mampu berakting begitu alami seperti Pak Habibie, mulai dari cara berbicara hingga cara berjalan yang sangat mirip. Selain itu, akting di masa akhir kehidupan Ibu Ainun, sungguh sangat menyentuh.

Meski dengan banyak keunggulan, ada beberapa hal yang membuat saya terganggu dengan film ini. Kehadiran chocolatos sebagai sponsor sangat mengganggu di tengah film, mana ada chocolatos tahun 80 sampai 90-an. Saat foto wakil presiden diganti menjadi foto Reza Rahardian menurut saya tidak cocok, terkesan lucu. Mungkin ada baiknya scene itu dihilangkan saja. Akting anak-anak Habibie di film itu juga sangat merusak suasana yang haru yang coba disajikan di akhir film.

Namun secara keseluruhan, film ini tetap bagus dan sangat saya rekomendasikan untuk ditonton terutama bagi mereka yang belum yakin adanya cinta sejati. Film ini juga cocok ditonton bagi pasangan-pasangan baru yang baru merajut asa, pasangan yang ingin bercerai agar mereka mengurunkan niat itu, maupun pasangan pasutri yang telah menikah cukup lama untuk kembali membangun romatisme mereka.

0 thoughts on “Romansa Cinta Habibie & Ainun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *