Perubahan Iklim, Berubah atau Mati

save me

Hari ini, pagi akhirnya merekah. Seminggu terakhir, langit berselimut hitam, raungan hujan terus menggema  dan sapuan angin  seperti tak ingin berhenti. Pagi ini berbeda. Saat saya membuka jendela, cahaya mentari menerpa begitu silaunya. Sang surya seolah tersenyum menyapa pagi yang cerah.

Perubahan Itu Mutlak

Akhir-akhir ini cuaca memang sulit diprediksi. Terkadang hujan turun begitu sangar tetapi tak berapa lama matahari kembali hadir dengan garangnya. Terkadang musim penghujan berlangsung begitu lama hingga banjir pun terjadi dimana-mana. Berikutnya musim kemarau berlangsung begitu panjang, hingga tanah pun mengering. Bahkan ada kalanya di satu tempat yang sama, kekeringan dan kebanjiran terjadi dalam satu periode waktu.

Dari berbagai diskusi yang saya dengar serta dari tulisan yang pernah saya baca, ini adalah salah satu gejala perubahan iklim. Perdebatan mengenai apakah perubahan iklim dapat dikategorikan sebagai bencana alam atau proses alam terus berlanjut hingga sekarang. Bagi yang memandang perubahan iklim adalah bencana, menganggap perubahan iklim merupakan kejadian ekstrim, yaitu perubahan atau gangguan atas sebuah kondisi yang dahulunya relatif konstan. Sedangkan bagi pandangan proses alam, diyakini bahwa alam memang tidak pernah mengalami kondisi konstan, melainkan akan terus berubah. Secara pribadi, saya berpihak pada pendapat kedua.

Bukankah sudah sejak dari dulu iklim berubah? Bukankah sudah sejak dulu, iklim mengatur cara hidup kita? Bukankah sejak dulu, ketika iklim berubah, manusia akan berpikir bagaimana beradaptasi menghadapi perubahan tersebut? Bukankah tidak ada yang abadi kecuali perubahan, termasuk perubahan iklim? Lalu, jika ini telah berlangsung sejak lama, mengapa kita harus sibuk memikirkannya? Bukankah kita lebih baik fokus pada isu krusial lain seperti pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, kesehatan, pendidikan?

Banjir dan kekeringan terjadi di satu tempat dan waktu yang sama

Banjir dan kekeringan terjadi di satu tempat dan waktu yang sama

Dalam hemat saya, iklim memang terus berubah, namun kini perubahaan yang terjadi begitu singkat. Emisi gas karbon dioksida yang menyebabkan efek rumah kaca di atmosfer terjadi dalam waktu yang sangat cepat dan mengerikan. Bumi semakin panas, laju lapisan es mencair semakin sulit dikendalikan, permukaan laut semakin tinggi dan cuaca ekstrim, seperti yang terjadi beberapa hari terakhir, lebih sering terjadi. Kejadian semacam ini berdampak hancurnya rumah dan kehidupan manusia; kerusakan infrastruktur, jalur telekomunikasi dan perdagangan; penurunan kualitas pangan yang dapat berakibat meningkatnya harga pangan; berkurangnya sumber air hingga bencana hidrologi; lebih jauh perubahan iklim dapat menghancurkan pembangunan dan sering kali, kaum miskin yang paling merasakan dampaknya. Bukankah ini berarti perubahan iklim merupakan isu paling “seksi” yang bisa menjadi penyebab isu krusial lainnya?

Belajar dari Nenek Moyang

Saya bergegas menyiapkan diri. Hari ini, semua urusan yang tertunda sejak seminggu terakhir harus segera terselesaikan. Akibat hujan yang turun begitu deras dan tak berhenti, pekerjaan saya tersendat. Ada beberapa bahan yang sulit didapatkan untuk rumah yang sedang dibangun. Nenek moyang kita memercayai, jika hujan deras turun di hari Jumat, maka matahari baru akan “berani” bersinar pada Jumat berikutnya. Percaya atau tidak, itu seringkali terjadi, begitu pula hari ini.

Nenek moyang kita meski tak melalui pengetahuan formal, mereka tahu bagaimana cara berinteraksi dengan lingkungan hidup. Berdasarkan dari temuan empiris, dengan bijak mereka mencari jalan keluarnya. Lingkungan diperlakukannya tidak sebagai hal yang patut dieksploitasi, melainkan sebagai pendamping hidup dalam kehidupan sehari-hari mereka. Itulah mengapa alam yang dulu mereka wariskan, tidak separah saat ini.

Saya teringat saat mengunjungi Suku Kajang beberapa tahun yang lalu. Sebagai suku adat, Suku Kajang, di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, masih teguh memegang prinsip hidup yang dibuat nenek moyangnya. Hal itu terbukti menjadi satu alasan tetap lestarinya hutan yang ada di dalam kawasan adat Amma Toa. Amma Toa sebagai pemimpin adat membagi hutan menjadi tiga bagian yakni Borong Karamaka (hutan keramat) yang merupakan hutan yang terlarang bagi semua kegiatan kecuali ritual adat, Borong Batasayya (Hutan Perbatasan) merupakan hutan yang diperbolehkan diambil kayunya sepanjang persediaan kayu masih ada dan dengan seizin dari Amma Toa selaku pemimpin adat. Borong Luara’ (Hutan Rakyat) merupakan hutan yang bisa dikelola oleh masyarakat. Meskipun kebanyakan hutan jenis ini dikuasai oleh rakyat, aturan-aturan adat mengenai pengelolaan hutan di kawasan ini masih berlaku.

Kampung adat itu selalu membuatku kagum. Lebih dari 40 ribu jiwa bermukim disana, dengan sekitar 330 ha hutan yang masih utuh sampai sekarang. Cukup mengesankan. Namun yang lebih mengesankan adalah fakta bahwa manusia yang mengelola hutan ini adalah manusia-manusia yang hampir tidak pernah merasakan bangku sekolah. Mengapa kita yang selalu mengaku berpendidikan malah yang sering kali melakukan pengrusakan terhadap alam?

Kelestarian alam Kajang

Kelestarian alam Kajang

Hari Ini Menentukan Masa Depan

Saya pun meninggalkan rumah beranjak menuju rumah orang tua yang sedang dibangun. Saya menumpangi sebuah pete-pete, angkutan kota di Makassar. Dari tempat dudukku, saya dapat melihat asap-asap kendaraan mengepul ke udara, membiarkan gas karbon dioksida beremisi. Pertumbuhan kendaraan memang tidak terkendali, setiap orang seakan berlomba-lomba membeli kendaraan baru. Sadar atau tidak sadar, mereka telah menjadi penyumbang emisi karbon dioksida, bumi makin memanas, perubahan iklim semakin nyata.

Perubahan iklim memang nyata, namun apakah perubahan ini akan semakin cepat, bergantung dari gaya hidup kita saat ini. Jika kita tidak mengurangi penggunaan kendaraan bermotor bahkan cenderung menambah, maka dapat dipastikan gas karbon dioksida yang beremisi di udara semakin banyak. Jika teknologi industri tidak diubah menjadi teknologi yang ramah lingkungan, maka industri yang semakin ramai akan menjadi bumerang. Jika masih boros menggunakan listrik, jika kita masih membuang sampah sembarangan, jika kita tidak mengurangi penggunaan freon pada alat elektronik, jika kita terus membiarkan pohon-pohon ditebang, maka dapat dipastikan pemanasan global semakin cepat “membakar” kita.

Bagaimanapun perubahan iklim itu mutlak, tetapi apakah kita membiarkan perubahan itu berlangsung sangat cepat dan tidak terkendali atau berlangsung lambat dan dapat diukur? Itu adalah pilihan.

Emisi karbon dioksida

Emisi karbon dioksida

Adaptasi

Apakah kita cukup mengurangi penyebab efek rumah kaca, perubahan iklim dapat kita tanggulangi? Tidak. Andaikita kita dapat mengurangi emisi gas sekarang juga, bumi tak akan berhenti memanas karena banyaknya gas yang telah beremisi sebelumnya. Itulah sebabnya kita harus melakukan dua hal untuk menghadapi perubahaan iklim ini, mengurangi emisi  yang dapat menyebabkan efek rumah kaca sekaligus beradaptasi dengan perubahaan yang pasti terjadi.

Hari ini panas cukup menyengat. Setelah turun dari angkot, saya harus berjalan kurang lebih 50 meter hingga tiba di rumah yang saya tuju. Menghadapi sengatan matahari seperti ini, biasanya orang menggunakan payung, topi atau lotion khusus untuk menghindari dampak buruk matahari. Secara sederhana, seperti itulah adaptasi.

Adaptasi adalah proses belajar. Setiap manusia sebagai makhluk berakal memiliki metode dan strateginya sendiri. Memperbarui dan memperbaiki strategi adaptasi, dapat kita lakukan dengan menjadikan adaptasi perubahan iklim menjadi topik penting bagi semua kalangan. Entah itu perempuan atau lelaki. Kaya atau miskin. Anak-anak atau dewasa. Mereka yang tinggal di kota maupun yang tinggal di desa. Dengan saling berbagi pengetahuan, kita akan mengetahui banyak cara beradaptasi.

Selain itu, terdapat banyak sumber informasi untuk mendukung kegiatan adaptasi terhadap perubahan iklim. Koran, majalah, tabloid, radio dan televisi selalu menampilkan informasi cara-cara terbaru beradaptasi terhadap perubahan iklim. Informasi juga dapat kita peroleh dengan berselancar di dunia maya. Membuka website Oxfam, salah satunya. Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Melalui media informasi tersebut, Oxfam memberikan gambaran bagaimana perubahan iklim sering kali berdampak besar terhadap kemiskinan.

Sudah terlalu banyak gas beremisi sebelumnya, tugas kita mengurangi dan beradaptasi menghadapinya

Sudah terlalu banyak gas beremisi sebelumnya, tugas kita mengurangi dan beradaptasi menghadapinya

Sekarang dan Bersama-sama

Akhirnya saya tiba di rumah ini. Sebuah rumah milik orang tua. Mereka memercayakan kepada saya untuk merenovasinya. Batu bata telah tersusun, “bentuk” rumah itu sudah dapat terlihat. Riuh rendah pasir dan semen yang diaduk menjadi satu, berpadu dengan alunan merdu suara Ebiet G Ade dari sebuah tape milik salah satu pekerja. Sang tukang tampak begitu sibuk. Saya mengamati pekerjaan mereka, memastikan mereka mengerjakan setiap sudut rumah itu sesuai dengan gambar.

Rumah ini sengaja saya rancang dengan konsep agar kami penghuninya dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim. Perbandingan luas bangunan dan lahan hijaunya 60:40. Berbeda dengan rumah kebanyakan, mereka tidak memberikan ruang sedikit pun agar air dapat menyerap kembali ke dalam tanah. Semua ditutupi semen. Tak heran jika volume banjir semakin besar.

Selain itu, dalam rancangan ini, seluruh kamar bahkan seluruh ruang mendapatkan pencahayaan dan pengudaraan yang alami. Tidak membuat kamar terlihat lebih luas namun gelap dan pengap, yang pada akhirnya harus menggunakan cahaya lampu meski di siang hari dan menggunakan AC untuk stabilitas udara. Namun di rumah ini, meski ukuran ruangnya lebih kecil, setiap penghuni mendapatkan haknya untuk cahaya dan udara alami. Ruang terbuka yang luas juga bisa membuat saya lebih leluasa menata taman dan menanam pohon juga membuat lubang biopori. Sang manson mengerjakan tugasnya dengan sangat baik, semua sesuai dengan rencana. Rasanya tak sabar menunggu rumah ini selesai.

Secara mikro, kita bisa memulai dari rumah kita sendiri, dari diri kita sendiri. Secara makro, pemerintah ikut berperan bagaimana menghimpun seluruh ide dan gagasan setiap stekholder dalam rencana tata ruang. Rencana tata ruang adalah milik kita bersama, bersama kita harus memikirkan kriteria yang jelas untuk menyusun prioritas metode adaptasi agar ruang kita menjadi lebih tangguh. Penambahan ruang terbuka hijau, restorasi lahan basah, perbaikan drainase, pengelolahan sampah, pengelolaan pantai, hingga persiapan menghadapi banjir. Jika banjir memang tak terelakkan paling tidak kita telah siap dengan senjata antisipasi.

Perubahan Iklim

Memulai kebiasaan baik dari sekarang

Warisan

Suara anak bermain dan berkeliaran di sekitar rumah, menambah riuh siang ini. Alam adalah warisan untuk anak cucu kita, begitulah sering kali yang kita dengar. Menjaga alam tetap terasa nyaman merupakan hak anak cucu yang diwajibkan kepada kita. Namun jika kita mau berpikir jernih, bukan hanya mewariskan alam yang nyaman yang wajib kita berikan kepada mereka tetapi mewariskan prilaku mengurangi dampak perubahan iklim dan cara beradaptasi terhadap perubahan iklim akan jauh lebih berharga.

Anak yang polos seperti mereka hanya mampu bercermin dari prilaku orang tuanya di rumah dan gurunya di sekolah. Memulai kebiasaan baik mulai dari sekarang adalah langkah untuk menciptakan masa depan yang jauh lebih baik.

Saya teringat pesan seorang guru saya, kita hanya perlu menanamkan 3 cinta dalam hati kita, cinta kepada sesama, cinta kepada alam tempat kita hidup dan cinta kepada Allah, dzat yang menciptakan manusia, alam serta segala isinya di muka bumi. Dengan mencintai sesama, kita akan menyadari sebagian besar prilaku yang “nyaman” kita lakukan saat ini malah berdampak buruk pada orang lain. Dengan mencintai alam kita akan tahu bahwa alam juga memiliki batas kemampuan untuk mendampingi hidup kita. Dan sesungguhnya Allah yang maha mengatur alam semesta ini, hanya menjentikkan jari saja, alam dan isinya dapat bergetar.

Tugasku di rumah yang sedang di bangun ini sudah selesai, waktunya untuk beranjak, ada pekerjaan lain yang menanti di tempat yang berbeda. Saya meninggalkan rumah itu, meninggalkan sang tukang yang sibuk bersuka ria dengan bata dan semen bersama lagu Ebiet G Ade yang setia mengiringi. Lirik kali ini menghentakku, lagu lama yang hingga hari ini, tak juga membuat kita sadar.

Mungkin Tuhan mulai bosan,
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai bosan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Blogpost ini diikutkan pada lomba blog Oxfam dengan tema “Masyarakat dan Perubahan Iklim”

0 thoughts on “Perubahan Iklim, Berubah atau Mati

  1. rahmanramlan74

    Saya terinspirasi model penyajiannya yang menggabungkan cerita keseharian dengan teori tentang perubahan iklim…berharap yang terbaik, semoga bisa menjadi Juara. Aamiin

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *