Harusnya Mereka Juga Diperhatikan!

pengamen losari


Kami ini bahan cemohan
di tengah-tengah laju pembangunan – itu kata orang
Walaupun kami anak jalanan
Berbaju butut celana buntung
Tetapi kami bukan pengemis
Kami bernyanyi menjual suara
Kami bernyanyi menjual jasa


Keroncong jalanan, begitu judul lagu yang mereka lantunkan. Lirik yang mengalun diiringi gitar itu, mereka persembahkan untuk pengunjung Pantai Losari yang sedang duduk santai di atas pelampung bewarna-warni yang didesain khusus dan berhubungan langsung dengan laut lepas. Sementara mereka bernyanyi, sang pendengar tetap asik memandangi laut dan langit hitam di depannya. Tanpa cuek dan tidak mempedulikan mereka yang sedang bernyanyi.

Saya yang mendengar lantunan lagu itu dari jauh pun terhenyak. Lantunan itu terdengar merdu, di antara beberapa pengemis anak-anak yang mengadahkan tangannya. Mereka memiliki sikap optimis menjual suara, menjual jasa, tidak mengemis meski mereka sering menjadi cemoohan.
Mereka pun meminta ongkos jasa dari pasangan yang tadi mendengarkan suara mereka. Beberapa saat kemudian salah satu pasangan tersebut berbalik ke arah pengamen dan memberikan selembar uang seribuan. Ucapan terima kasih pun mereka haturkan bersama senyum yang terlihat begitu sumringah. Mereka saling menatap lalu meninggalkan dua sejoli itu kemudian beranjak kearah saya.

“Permisi kak, bisa kami nyanyi di sini?” Tanya salah seorang di antara mereka. Saya pun mengangguk tanda mengiyakan. Mereka berbeda dengan beberapa pengamen yang saya tahu. Sering kali saya menemukan pengamen yang langsung saja memainkan senar gitarnya dan menggetarkan pita suaranya, meskipun sang pengunjung tak ingin menikmati sajian musik yang mereka gelar. Peristiwa itu pun akan berakhir dengan sebuah “pemaksaan” untuk membayar ongkos jasa, bahkan terkadang sang pengamen ngotot hingga upah itu diberikan. Namun lihatlah mereka, dengan santun meminta izin, meminta persetujuan dari calon pendengar.

Senar-senar gitar itu pun menari mengiringi suara mereka yang menyanyikan sebuah lagu dari band Ungu. Permainan musik dan perpaduan suara mereka tidak kalah dari musik-musik yang sering diperdengarkan di televisi dan radio, hanya kalah fasilitas dan penyaluran.

“Saya mau lagu yang tadi!” pinta saya setelah mereka mengakhiri lagu itu. Mereka pun kembali menyanyikan keroncong jalanan itu, terlihat begitu khidmat menghayati tiap liriknya.

Bocah belasan tahun itu bernama Nawir dan Sidiq, dua orang pangamen dari sekian banyak pangamen yang setiap hari menggelar musik dan nyanyian untuk menghibur para pengunjung anjungan Pantai Losari. Penampilan mereka terlihat trendi, dengan jaket dan celana “botol” yang sedang nge-trend di kalangan kawula muda.

Sejak dahulu, Pantai Losari memang banyak dijadikan tempat menggelar musik dan nyanyian para pengamen. Bahkan pangamen di sini cukup terkenal dengan agresifnya menyalurkan keinginan untuk menghibur, tak jarang para pengunjung yang hanya duduk beberapa menit dapat menikmati sebanyak 3 hingga 5 jenis lagu dari penyanyi yang berbeda.

Sidiq dan Nawir, dua orang pangamen yang setiap malam menggelar musik untuk pengunjung pantai losari

“Saya mengamen sudah empat tahun,” begitulah Nawir menjelaskan tentang profesinya ini. Waktu yang masih terbilang singkat dibandingkan pengamen-pengamen lainnya. Berawal dari belajar bermain gitar bersama kakaknya, hingga mencoba menyewa gitar untuk digunakan mengamen. Sebuah gitar biasanya disewakan Rp5.000 setiap malamnya, bahkan bisa sampai Rp10.000 pada Sabtu malam dan hari Minggu. Sedangkan penghasilan mereka setiap malamnya bisa mencapai Rp10.000-Rp20.000. Di benak mereka saat ini adalah bagaimana menghasilkan uang sendiri setiap harinya.

Terkadang mereka tak pulang ke rumah dan memilih untuk tidur di trotoar-trotoar sekitar Pantai Losari. Dengan penghasilan itu mereka kini sudah mampu membeli sebuah gitar.

Pengamen sebagai sebuah profesi sekaligus penyaluran bakat di bidang seni merupakan fenomena yang tak terpisahkan di kehidupan kota secara kolektif. Jika dicermati, banyak pengamen jalanan yang mangais hidup di pinggir jalan, tapi sesungguhnya secara ekonomis, belum sampai pada tingkat kebutuhan untuk bekerja seperti itu. Mereka hanya melihatnya sebagai peluang meraup uang untuk memenuhi kebutuhannya, sungguh pun kebutuhan itu mungkin tak menentukan standar kualitas hidupnya.

Mereka menjual jasa sekadarnya. Bagi yang berpotensi besar seperti kedua bocah ini, mereka hanya tak pernah mendapatkan penyaluran. Tapi ada anak yang tak punya potensi menyanyi dan tidak terpanggil untuk menjadi penyanyi, namun karena tarik suara dianggap sebagai hal yang mudah dilakukan dan dihargai masyarakat, dia pun memaksakan diri untuk menyanyi. Dengan memukul apa saja diiringi potongan lagu yang terlantun sumbang, lantas berharap mendapat recehan.

Fenomena ini di satu sisi dapat dimaklumi sebagai sebuah bagian kehidupan kota dengan kompleksitasnya, namun beberapa di antara pengunjung justru menganggap kehadiran para pengamen sebagai penganggu ketentraman dan kenyamanan suasana. Apalagi mereka yang sering “memaksa” untuk didengarkan. Konon, pengamen yang agresif menciptakan citra buruk bagi Losari. Citra buruk itu juga konon hadir dari pedagang kaki lima dan pengemis. Mereka dipandang sebelah mata dan dijadikan kambing hitam.

Padahal bukankah seharusnya mereka terintegritas dalam perencanaan pengembangan Pantai Losari? Seharusnya mereka diberi ruang di sana. Sebuah perencanaan kota seharusnya tidak semata memperhatikan tampilan fisik yang kasat mata saja, tetapi perencanaan sosial juga butuh perhatian.

Upaya preventif untuk menghilangkan kesan negatif mengenai kehadiran para pengamen dan citra buruk Losari perlu dilakukan. Bakat yang ada pada pengamen-pangamen seperti Nawir dan Sidiq juga butuh disalurkan dan diwadahi. Begitupun para pengamen yang lain, mereka hanya butuh pembinaan untuk menghindari praktek menghibur yang membosankan bahkan terkesan kasar sehingga mereka bisa tampil lebih professional mencari nafkah namun tetap “menghibur”.

SEBUAH HARAPAN
Satu hal lagi yang menarik perhatian saya dari kelompok pengamen di Losari. Kelompok pengamen tersebut terlihat begitu akrab, bercanda satu dan lainnya, menciptakan ruang bersama, saling menyapa dan bercerita tentang kelenturan dan kekuatan semangat hidup, berbagi energi kreatif dan kepedulian untuk saling belajar memberi dan menerima, berdialog dan berdiskusi dengan cara mereka hingga kadang menciptakan sebuah lagu. Di kala ruang sosial di kota ini mulai tergerus dengan kepentingan ekonomi yang terasa sangat kental, di sini mereka menciptakan ruang sosial dengan cara mereka sendiri dan tentu saja lebih manusiawi.

“Kami punya band, kadang-kadang kami latihan di salah satu studio di Jalan Rajawali.” Begitulah pengakuan mereka. Jalanan tidak menyurutkan mimpi mereka untuk menjadi penyanyi yang professional. Bukankah, tak sedikit penyanyi yang terkenal sekarang memulai karir mereka dari jalanan?

Saya masih duduk di anjungan Losari menikmati semilir angin malam. Saya melihat jam di layar handphone, malam sudah larut, rupanya saya cukup lama di sini bersama mereka. Tas yang sejak tadi berada di pangkuan, kini saya sematkan dipunggung.

“Satu lagu lagi, Kak!” cegah Nawir ketika saya hendak berdiri. Saya pun mengangguk pertanda mengiyakan hendak mendengar lagu mereka yang lain. Mereka pun menyanyikan lagu itu, tampak begitu mendalami liriknya dan semakin membuat saya terharu. Suara mereka seakan mengetuk-ngetuk pintu kesadaran saya, seseorang yang kadang tak peduli atau kadang mengaku peduli namun hanya menjadi penonton yang sangat kritis. Maafkan saya.
Yah… mereka juga patut diperhatikan.


Siang hari di jalanan
Malam hari di jalanan
Kadang kala lupa pulang, ayah ibu kebingungan
Entah sampai kapan hidup di jalanan
Entah sampai kapan kuberteman dengan malam
Tuhan, bukannya aku malas belajar
Semua saudaraku, tak mau mengajak
Terpaksa aku bernyanyi, belajar hidup mandiri
Jalanan… tak selamanya hina
Jalanan… tak selamanya nakal
Jalanan… tak selamanya sumbang
Jalanan… harusnya diperhatikan…

Mei 2009

0 thoughts on “Harusnya Mereka Juga Diperhatikan!

  1. Asrul

    Saya kenal mereka, karena saya juga pernah dihibur oleh mereka, kira2 ada 5-6 lagu yg mereka bawakan malam itu.
    Saat mereka menyanyikan lagu diatas sy sempat merasakan haru mendengar liriknya, bahkan saya sempat merekamnya. Sayangnya file rekamanx entah tersimpan dimana sekarang, atau lupa tercopy waktu migrasi data ke laptop satunya. Photo2nya kg hilang entah kemana.

    hmmm… padahal file video nya belum saya copy. Cuma ada rekaman suara yang di hp ji.

    Reply
  2. safwancanne

    Ajak2 tongki kodonk kesana dengarki lagunya klo pergi ber2 bahaya itu apalagi klo pengamennya tidak ada..hehehhehehhe

    Reply
  3. app

    kapan lagi kesana sdh hampir 1 tahun tidak kesana….
    berapami bayaranya kalau 5 lagu….
    kapan-kapan kesana lagi temanika….nah?

    Reply
  4. andhiies

    gan, maaf mau tanya..
    apa nama judul lagu yg terakhir itu?
    saya lgsung tercengang mendengar pengamen menyayikan lirik itu ketika saya sedang asik makan, lagunya asik & penuh kesadaran.. mkasih

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *