Anjungan Pantai Losari dan CPI, Apakah Obsesi Pejabat Semata?

rencana anjungan losari

Kota Anging Mammiri terus melebarkan pembangunannya. Sebagai sebuah kota yang terletak di tepian pantai, arah pembangunan pun terus menggeliat, tidak hanya ke pantai tetapi telah merambah ke laut.

Degradasi pun menjadi alasan utama diadakannya revitalisasi sekaligus reklamasi. Anjungan Losari adalah sebuah proyek revitalisasi Pemkot Makassar yang mulai dikerjakan sejak tahun 2006 dan kini proyek tersebut mendapat saingan baru, Centre Point Indonesia atau akrab disebut CPI yang menjadi bagian proyek Pemprov Sulsel.

Revitalisasi Losari
Tahun 2006, sebahagian badan pantai losari telah direvitalisasi, hasilnya nampaklah Pelataran Bahari yang menjadi landmark baru kota Makassar. Sebuah keindahan yang disajikan di tepi pantai.

Revitalisasi merupakan suatu upaya menghidupkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah hidup, akan tetapi kemudian mengalami degradasi. Proses revitalisasi sendiri meliputi perbaikan aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial. Suatu pendekatan revitalisasi harusnya mampu mengenali dan memanfaatkan potensi lingkungan baik itu sejarah, makna, keunikan lokasi maupun bagaimana menciptakan suatu citra. Pada pelaksanaan revitalisasi, masyarakat tidak berposisi sebagai objek tetapi terlibat sebagai pelaku. Artinya masyarakat tidak sekedar ikut serta mendukung aspek formalitas tetapi juga terlibat secara partisipatif.

Pada awalnya Pemkot Makassar memprioritaskan revitalisasi pantai losari karena dua alas an, yakni sebagai berikut:

Pertama, kondisi fisik pantai kini dalam keadaan memprihatinkan. Pencemaran lingkungan di sepanjang garis pantai dan ekosistem perairan laut sejak beberapa tahun lalu sampai kini belum teratasi. Kedua, terjadinya perubahan morfologi pantai.

Pencemaran yang paling mudah terlihat mata adalah sampah yang berserakan. Sampah-sampah plastik bekas makanan sering dijumpai di sudut bibir pantai. Di atas permukaan laut pun tak jauh beda, sampah-sampah tersebut tampak pasrah diombang-ambing oleh ombak lautan.

Selain persoalan sampah, pencemaran laut juga menjadi ancaman terhadap pantai losari. Prof. Dr. Winarni Monoarfa dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin, yang telah meneliti kondisi laut di Losari, menemukan adanya kandungan logam berat berupa timbal (Pb) dan cadmium (Cd). Kandungan logam berat yang terdapat di bentos, kerang atau ikan akan sangat berbahaya apabila dikonsumsi oleh warga.

Selain itu, ditemukan adanya pencemaran bakteri e-coli yang melebihi ambang batas sehingga bisa mengancam kesehatan manusia. Temuan lain secara fisik, terumbu karang di pantai losari ternyata telah hancur.

Pada dasarnya pencemaran perairan di Pantai Losari disebabkan perubahan fungsi-fungsi ruang kota di kawasan tersebut dari perumahan menjadi kawasan komersil. Berbagai hotel terbangun di sepanjang pantai. Beberapa di antaranya bahkan menghalangi masyarakat menikmati keindahan pantai. Di sepanjang pantai pula, bermuara 14 outlet drainase kota, tujuh di antanya adalah outlet besar, yang memberikan kontribusi terhadap tercemarnya perairan. Jika penggusuran PKL dilakukan untuk menciptakan ruang publik dan mengurangi pencemaran perairan, mengapa hotel tidak ikut digusur atau dipindahkan atau lebih dulu mengelolah drainase perkotaan?

Selain masalah pencemaran, adanya perubahan morfologi pantai akibat abrasi menyebabkan pondasi tanggul di beberapa bagian pantai jebol dan akan membahayakan konstruksi pantai secara keseluruhan.

Anjungan Losari
Pelataran Bahari sebagai salah satu bagian anjungan Pantai Losari sudah mulai dinikmati warga kota Makassar sejak akhir tahun 2006. Meski menghadirkan kontroversi di berbagai kalangan, proyek ini terus dilaksanakan. Kehadiran ruang publik baru itu tidak hanya menghadirkan decak kagum warga kota tetapi juga pujian dari warga kota lainnya. Mereka menikmati keindahan futuristik yang disajikan proyek tersebut seolah melupakan kodrat pantai yang bersifat alami.

Konsep teknis pelaksanaan Anjungan Pantai Losari membutuhkan ruang baru hasil reklamasi seluas 11 Ha, dengan volume timbunan 600.000 m3.

Reklamasi adalah bentuk campur tangan manusia terhadap keseimbangan lingkungan alamiah yang dinamis. Salah satu permasalahan mendasar selain dari aspek teknis, sosial, ekonomis dan yuridis yang selalu menjadi perdebatan ketika berbicara tentang rencana kegiatan reklamasi adalah aspek lingkungan.

Permasalahan lingkungan yang terjadi akibat reklamasi yang kurang terkadang kurang diperhitungkan. Perubahan ekosistem dapat terjadi, seperti penurunan kualitas lingkungan, perubahan pola arus, erosi dan sedimentasi yang akan merusak ekosistem terumbu karang dan ekosistem yang terkait lainnya di sekitar lokasi reklamasi.

Awalnya proyek revitalisasi Losari ini direncanakan akan rampung pada akhir 2008, namun karena adanya pemangkasan anggaran pembangunan Pelataran Toraja-Mandar oleh Departemen Pekerjaan Umum menyebabkan proses revitalisasi ini mengalami kemunduran.

Tahun 2008 lalu, Rp3,1 miliar alokasi anggaran telah disiapkan untuk pembangunan talud, pemasangan geo tekstil, persiapan pembersihan dan penimbunan untuk menyelesaikan penimbunan Pantai Losari. Namun karena adanya keterbatasan alat, penyelesaian proyek ini pun molor.

Proyek revitalisasi tersebut berlanjut di tahun 2009 ini. Pemerintah kota melalui Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar telah menganggarkan Rp7 Miliar untuk penimbunan Pelataran Bugis-Makassar. Secara keseluruhan untuk pembiayaan struktur tiga pelataran para proyek revitalisasi Pantai Losari dianggarkan sebesar Rp. 39,75 miliar.

Proyek anjungan Losari yang belum juga selesai karena terus dirundung masalah kini mendapatkan saingan baru yakni Centre Point Indonesia atau sering disingkat CPI.

equilibrum24

CPI yang megah itu
Centre Point (Titik Pusat) merupakan kawasan terpadu yang juga merupakan hasil reklamasi pantai. Proyek ini akan menimbun 150 hektar di kawasan Losari. Di kawasan ini, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo menyebut akan membangun kawasan bisnis selain rumah ibadah.

Dalam RAPBD 2009 ini, dana berkisar Rp10,6 miliar telah dianggarkan untuk proyek ini dengan perincian, biaya amdal Rp400 juta, pematangan lahan Rp9,57 miliar, pengawasan pembangunan Rp 155 juta, master plan Rp 290 juta, dan studi kelayakan Rp 100 juta.

Di atas lahan tersebut, nantinya akan dibangun 13 titik bangunan monumental di antaranya, masjid, museum, lapangan, pusat pembelanjaan, dan tempat rekreasi.

Menurut arsitek dan Perencana Tata Kota Makassar Danny Pomanto, proyek ini dibangun tepat di titik tengah Indonesia.
“Bukan hanya Indonesia, tapi Centre Point of Indonesia ini juga merupakan pusat atau tengah dari dunia,” ujarnya

The Equilbrium merupakan salah satu bangunan yang akan hadir di kawasan ini. The Equilbirum atau titik keseimbangan bermakna sebagai titik yang mengatur komposisi keseimbangan dan sebagai titik strategis Indonesia.

Dari sosialisasi mengenai pelaksanaan proyek CPI diperoleh informasi bahwa The Equilbrium didirikan di Makassar karena beberapa alasan. Alasan tersebut seperti yang dimuat salah satu harian di Makassar, yakni pertama, karena Makassar merupakan titik awal pemberontakan kepada VOC dalam perjuangan Indonesia yakni pada zaman kepemimpinan Sultan Hasanuddin. Kedua karena Makassar merupakan tempat perjuangan Syech Yusuf sebagai pahlawan Indonesia yang sangat berpengaruh di dunia. Ketiga karena Makassar merupakan titik asal pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia. Keempat karena Makassar adalah salah satu kota yang tetap berdiri saat krisis moneter sebagai penghasil udang dan kakao. Kelima karena Makassar merupakan salah satu gelombang awal terciptanya “Reformasi” yang ditandai dengan insiden di Universitas Muslim Indonesia. Dan terakhir karena Makassar adalah pusat distribusi pangan Indonesia pada saat negara ini kekurangan pangan. Entahlah apakah alasan tersebut dapat diterima demi pembangunan proyek ini atau alasan yang dibuat untuk semata mendukung CPI saja.

Sedangkan tujuan dari The Equilbibrum ini disebutkan agar dapat ikut membangun peradaban Indonesia, mewujudkan Makassar sebagai pusat peradaban Nusantara, menjadi pemicu kebangkitan “Indonesia baru”, mewujudkan pusat edukasi sejarah nusantara bagi generasi sekarang dan akan datang, mengembalikan Makassar sebagai “kota dunia”,, mengembangkan kawasan kota baru berstandar global, mewujudkan kota hijau terbaik di Indonesia.

“Kami akan mengganti Pantai Losari yang dulu menjadi kebanggaan masyarakat Sulsel yang saat ini kondisinya sudah tidak layak lagi sebagai tempat istirahat sambil menunggu matahari terbenam dengan mencicipi makanan khas daerah ini seperti pisang epe dan lainnya,” kata Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.

Di kala anjungan Pantai Losari terus dirundung masalah, CPI pun hadir menjadi saingan. Apalagi dilihat dari master plan yang ada, kawasan terpadu CPI ini terletak di hadapan anjungan Pantai Losari yang ada sekarang. Bukankah ini berarti, kehadiran CPI akan memudarkan eksistensi anjungan tersebut? Mengapa anggaran untuk CPI tidak diberikan saja kepada Anjungan Losari?

Ah… Tiba-tiba saya berprasangka, jangan-jangan usaha revitalisasi, reklamasi dan “penciptaan ruang publik” di sekitar Pantai Losari ini, hanyalah sebuah obsesi seorang pejabat? Hanya sebuah ambisi? Sebagai “tonggak pencapaian” pada masa kepemimpinannya? Bukannya sebagai usaha untuk membangun sebuah kawasan yang betul- betul berguna bagi seluruh warga. Entahlah.

CPI1

* tulisan ini telah di tayangkan di Panyingkul! Dapat dibaca disini

0 thoughts on “Anjungan Pantai Losari dan CPI, Apakah Obsesi Pejabat Semata?

  1. azzaam

    Di palembang juga bakal dibangun jembatan termegah diasia, katanya akhir 2013 bakal selesai proyeknya…
    saya pikir dananya tidak sedikit jika membuat jembatan tersebut, apa gunanya?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *