Golput Menang, DIA Terpilih

image

Rekapitulasi pemilu walikota dan wakil walikota Makassar telah diumumkan oleh KPU pada tanggal 25 September 2013, pasangan Danny Pomanto dan Syamsu Risal yang akrab dengan akronim DIA ini dinyatakan menang dengan raihan suara 31,18 persen suara. Total suara di atas 30 persen ini, memastikan bahwa penyelenggaraan pilwalkot Makassar hanya satu putaran.

Pasangan Irman Yasin Limpo-Busrah Abdullah menempati urutan kedua dengan persentasi suara 19 persen disusul oleh pasangan nomor enam, Tamsil Linrung dan Das’ad Latif dengan perolehan 16 persen suara.

Pilwalkot Makassar kali ini memang luar biasa, tidak main-main, ada sepuluh pasangan sekaligus bersaing untuk meraih jabatan sebagai walikota dan wakil walikota Makassar. Beberapa diantaranya telah mempromosikan dirinya sebagai bakal calon walikota sejak 2 tahun terakhir melalui baligho, poster dan sarana promosi lainnya. Namun ada beberapa diantaranya baru dimunculkan namanya menjelang pendaftaran sebagai calon walikota dan wakil walikota Makassar.

Drama politik yang memuakkanpun disajikan kepada kami warga Makassar. Ada yang berusaha sangat kuat menampilkan pencitraan diri melalui televisi dan radio serta membagi-bagikan hadiah handphone tiap hari. Ada yang dengan lantang mengiklankan program-program gratisnya, mulai dari gratis listrik, gratis pete-pete, gratis raskin dan bedah rumah. Ada pula yang yang mencoba peruntungan dengan pemberian modal usaha 10 juta/kk. Hal yang lebih memuakkan lagi adalah poster, baligho dan spanduk bergambar sepuluh pasang calon ini menjadi kontribusi makin semrawutnya Kota Makassar. Baligho itu terpajang mulai dari papan iklan resmi hingga bambu yang sengaja didirikan. Spanduk dipaku seenaknya di pohon-pohon yang berjejer di seluruh sudut kota. Poster ditempelkan dimana saja tanpa memikirkan estetika.

Drama politik ini pun bertambah “seru” dengan tokoh-tokoh politik senior dibalik nama-nama pasangan calon. Pertarungan pun tidak hanya menjadi pertarungan pasangan calon semata tapi pertarungan tokoh-tokoh di balik nama itu. Beberapa calon mengaku sebagai tim pemenang saat Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sul-Sel namun meski SYL mengaku mendukung pasangan dari Golkar yakni Suka (Supomo – Kadir) tapi seolah menjadi rahasia umum SYL pasti mendukung adiknya Irman Yasin Limpo. Nurdin Halid tentu menjadi tokoh di balik pasangan SuKa, karena Kadir Halid tak lain adalah adik kandung mantan ketua PSSI ini. Disisi lain, Rudal-Idris pun terus menyerukan dirinya sebagai tim ABK Kapal Induk saat pemenangan SYL. Pasangan Apiaty-Zulkifli tentu saja membawa nama Amin Syam, mantan Gubernur Sul-Sel, sebagai kekuatannya. Hal tersebut yang membuat suara tim pendukung SYL ini pecah di pilwalkot Makassar. DIA sebagai satu-satunya tim asuhan Ilham Arief Sirajuddin, walikota Makassar dua periode, pun menang telak dibandingkan pasangan lain.

Saling menjelek-jelekkan, saling menfitnah, saling menjatuhkan seperti hal yang sangat wajar dalam pilwalkot ini. Ada yang memunculkan isu kesehatan, ada yang memunculkan isu korupsi, ada yang memunculkan isu money politic, ada yang memunculkan isu suku, ada yang memunculkan isu rasis, ada yang memunculkan isu pengambilan tanah dan berbagai isu lain yang menyerang ke sepuluh pasang calon. Bayangkan bagaimana “ribut”nya Makassar dengan isu yang menyerang sepuluh calon ini.

Kecurangan pun diperlihatkan dengan mata telanjang, tidak ada rasa malu, tidak ada rasa takut melanggar hukum. Beberapa pasangan melibatkan PNS sebagai tim suksenya. Saya menjadi saksi nyatanya. Dua hari menjelang pemilihan, ada seseorang yang mengaku sebagai pegawai kantor Gubernur datang ke rumah kami dan meminta kartu pemilih lalu menyebutkan satu nama calon. Wajar saja jika pada pemilu walikota Makassar banyak yang menggunakan KTP saat memilih karena kartu pemilih mereka diambil dan tidak dikembalikan. Ada pula camat, lurah, RT/RW yang dengan transparan mendukung salah satu calon. Kecurangan di hari pemilihan pun tidak sedikit. Mulai dari pemilih siluman hingga pemilih yang memilih lebih dari satu kali.

Begitu banyak hingar bingar yang membuat banyak masyarakat bingung harus menjatuhkan pilihannya pada siapa. Tidak ada yang meyakinkan bahkan mungkin bagi beberapa orang, semuanya memuakkan. Ketidakpuasan masyarakat terhadap figur calon pemimpin tampak sangat jelas.

Pemilu adalah peraihan suara tertinggi dari suara yang memilih. Suara yang tidak memilih tidak diperhitungkan. Padahal kalau kita mau melihat lebih jernih, pemenang dari pemilihan ini adalah suara yang tidak memilih. Dari KPU diperoleh jumlah DPT adalah 983.990 sedangkan yang memilih sebanyak 592.299 atau hanya 60,19 persen dari jumlah DPT. Dari pemilih tersebut suara yang sah 585.291 dan 7.008 suara lainnya dinyatakan tidak sah. Dari data di atas dapat kita lihat jumlah warga Makassar yang tidak menggunakan hak pilihnya sebanyak 391.691 atau 39,80 persen. Jumlah pemilih yang tidak memilih ini jauh lebih besar daripada suara yang diperoleh DIA yang hanya 182.484 suara.

Bukankah jumlah pemilih yang tidak memilih ini sangat tinggi? Bukankah ini membuktikan banyak warga yang muak dengan drama politik di kota ini? Bukankah ini menunjukkan betapa banyak diantara kami yang tidak lagi percaya pada politik? Bukankah ini gambaran jelas tingginya kekecewaan masyarakat terhadap 10 figur yang ditampilkan? Bukankah ini memperlihatkan bahwa kegiatan politik hari ini sangat jauh dari ekspetasi masyarakat?

Golput memang tak mampu memengaruhi legitimasi pemimpin terpilih. Hanya saja, golput tetap membawa pengaruh pada position power pemimpin yang terpilih.

Hingga hari ini, setelah dua periode Danny Pomanto menjadi tenaga ahli perencanaan Kota Makassar, kota ini masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Banjir melanda di musim hujan; jalur lalu lintas semakin sesak dan meneriakkan kata `macet`; masalah kesehatan dan pendidikan yang kian menumpuk; pedagang kaki lima yang makin tergeser dengan maraknya pembangunan mini market dan mall; musnahnya bangunan bersejarah dan berganti menjadi bangunan komersil; semakin banyaknya bangunan mewah dan megah namun tak memiliki identitas bahkan terkesan menjadi prasasti pribadi semata.

Saya sangat yakin, masyarakat Makassar semakin cerdas melihat fenomena keruangan Makassar saat ini. Sebagian besar dari kami tidak memiliki cukup banyak koneksi dan komisi, yang kami miliki hanyalah idealisme. Idealisme yang akan mengiris hati ketika melihat Kota Makassar yang kami cintai ini semakin semrawut. Idealisme yang membuat airmata kami berubah menjadi selaksa silet tajam yang menyayat pipi ketika melihat banyak pembangunan berdiri tanpa memperhatikan masalah lingkungan. Idealisme yang membuat kami terpukul ketika melihat masyarakat miskin makin termaginalkan.

Selamat kepada Danny-Ical yang terpilih sebagai walikota dan wakil walikota. Selamat mengemban amanah. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk mematangkan kembali konsep penataan ruang Kota Makassar yang lebih manusiawi dan peduli terhadap lingkungan. Perlu disadari, akumulasi jumlah golput dan pemilih kandidat lain jauh lebih besar dari jumlah suara yang diperoleh DIA. Jika gagal menata Kota Makassar menjadi lebih baik, maka berhati-hatilah, banyak resistensi yang akan menyerang dan akan memengaruhi position power Anda.

Makassar, 1 Oktober 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *