Wajah Buram Urbanisasi diantara Jembatan Tallo dan Tello

Telah lewat dua bulan semenjak saya terakhir kali lewat di jalan tol menuju Jembatan Tallo. Nuansa di tempat itu sudah banyak berubah. Jalanan sudah diperlebar, dan pondasi untuk Jembatan Tallo yang baru sudah ditancapkan. Tampaknya pemerintah cukup serius menangani perbaikan jalan di situ. Namun sayang, geliat pembangunan itu tampaknya masih saja kontras dengan deretan rumah-rumah kumuh yang mendominasi tepi jalan.

Ingatan saya kembali ke saat terakhir saya berada di tempat ini. Malam baru saja disingkap matahari di akhir bulan April 2008. Dingin yang berpadu dengan sinar matahari menghasilkan embun, yang masih terasa menusuk sampai ke sumsum. Meski pagi baru saja merekah, deru mesin kendaraan sudah beradu di atas Jembatan Tallo, seperti berlomba memasuki jalan tol, yang saat itu belum mendapat sentuhan proyek pelebaran jalan sama sekali.


Jembatan Tallo. Foto : Winarni.

Setelah membayar taksi, saya dan ketiga teman lainnya bergegas turun. Sebenarnya, bukan kami tidak mengetahui tentang larangan kendaraan berhenti di jalan tol ini. Namun apa boleh buat, tujuan kami memang hanya sampai di sini. Hari itu, kami hendak memenuhi rasa ingin tahu tentang apa yang ada di sepanjang Sungai Tallo. Kami berniat menyusuri sungai teresebut dari Jembatan Tallo, hingga ke Jembataan Tello.

Kami memulai penyusuran itu dengan meniti pematang perairan seperti empang. Bau drainase begitu kuat menyeruak masuk ke indra penciuman. Pematang itu lalu mengantar kami pada pemukiman kumuh. Rumah-rumah yang berjejer di sepanjang jalan paving blok itu, hanya terbuat dari kayu dan seng seadanya. Suasana pagi yang semestinya hening, dipecah alunan musik dangdut dari beberapa rumah. Tidak hanya itu, suasana bertambah riuh ditingkahi suara anak-anak kecil yang asyik bermain.

Dari tempat kami berdiri, sebuah perahu tampak sedang parkir di perairan di dekat sebuah rumah. Kami berniat menyusuri sungai dengan perahu tersebut. Setelah berdiskusi dengan pemilik perahu, kami pun saling sepakat untuk menyewa perahu tersebut dengan harga seratus ribu rupiah. Salah satu nelayan yang ada di situ bergegas membelikan bahan bakar, sedangkan nelayan lainnya sigap mempersiapkan perahu calon kendaraan kami.

Setelah semuanya selesai, perahu kami pun mulai bertolak. Perahu sederhana yang terbuat dari kayu, yang sekali pandang segera memberitakan usia tuanya. Warna cat merah, biru dan hijau di badan perahu, tampak kusam. Sambungan antara kayu yang satu dan lainnya di bagian atas tampak telah bocor sehingga air dari luar mudah masuk ke dalam perahu, meski tak sampai berbahaya mengaramkan perahu. Ada dua nelayan yang membantu perjalanan kami. Salah seorang mengambil tugas sebagai pengendali arah perahu, sedangkan yang lainnya mengawasi volume air yang merembes masuk ke dalam perahu, menciduknya, dan membuangnya kembali ke sungai.

Lantaran nelayan pengemudi hendak mengantar temannya ke muara, maka kami pun mengarahkan perjalanan ke sana. Di sebelah kanan, pemukiman kumuh masih juga mendominasi pemandangan, bergantian dengan pohon-pohon bakau yang masih terjaga kelestariannya. Sedangkan di sebelah kiri, terbentang pemandangan Pelabuhan Paotere. Sementara itu, di ujung daratan sebelah kiri, tampak sebuah pabrik berdiri dengan angkuh, menghapus jejak-jejak Kerajaan Tallo.

Kami pun tiba di muara sungai. Sebuah rumah panggung berdiri di atas kantong pasir yang dipagari bakau. Rumah itu terbuat dari seng. Dindingnya bercat biru, sedangkan atapnya bercat merah. Tampaknya mereka tidak begitu khawatir akan terjangan ombak dengan membangun rumah di situ. Sebuah perahu yang baru selesai dibuat tampak sedang parkir di dekat rumah tersebut. Menurut informasi nelayan yang mengantar kami, perahu itu terbuat dari fiber dengan menggunakan cetakan kayu.

Usai mengantar salah seorang nelayan, perahu kami kembali melaju, berbalik arah. Mesin terdengar meraung. Ujung perahu membelah sungai menghasilkan buih-buih putih, menambah semarak perjalanan menyusur sungai itu. Di atas langit, cahaya sang fajar masih terlihat malu-malu muncul di antara awan yang berarak. Kami pun melintas di bawah Jembatan Tallo. Di atas sana, kendaraan saling beradu menyelesaikan perjalanan hari ini. Dari kejauhan tampak siluet gedung berbentuk pena mencakar langit.

Pemukiman Kumuh

Pemukiman kumuh masih juga mendominasi pemandangan dalam perjalanan kami itu. Sepanjang tepian Sungai Tallo, sebelah kanan maupun di sebelah kiri, rumah-rumah dengan bahan seadanya berjejer seperti tak mau habis. Kami menemukan bukti informasi bahwa beberapa tahun terakhir, Kecamatan Tallo menduduki urutan teratas untuk area pemukiman kumuh terluas. Selain itu, Kecamatan Tallo juga dikabarkan menjadi kecamatan dengan penerima Bantuan Tunai Langsung paling tinggi. Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Badan Statistik Kota Makassar tahun 2007, dari 70.098 penerima BLT di Kota Makassar, 10.438 di antaranya berada di Kecamatan Tallo.

Hadirnya pemukiman kumuh di sepanjang Sungai Tallo ini benar-benar memperlihatkan fakta bahwa banyak penduduk di Kecamatan Tallo yang tidak berkecukupan untuk membangun huniannya. Tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan kota memang selalu identik dengan hadirnya pemukiman-pemukiman kumuh. Kenyataannya, pemukiman tersebutlah yang justru sering kali memenuhi kebutuhan pemukiman masyarakat. Meskipun demikian, proses yang ditempuh oleh kebanyakan rakyat jelata itu untuk mendapat perumahan, berada di luar hukum.


Tak khawatir ombak sungai. Foto : Winarni.

Kehadiran pemukiman kumuh di kota besar sering bermunculan di atas tanah landai yang mudah longsor, di atas rawa-rawa, di tepian rel kereta api dan jalan tol, maupun di tepi sungai seperti yang tampak di tepian Sungai Tallo. Tanah yang demikian itu, tidak mempunyai nilai komersil sehingga para penghuninya terhindar dari kemungkinan operasi pembongkaran dan penggusuran. Sayangnya, keadaan ilegal yang mereka tempuh harus menerima konsekuensi untuk tidak tersentuh fasilitas kota seperti air bersih, pembersihan lingkungan, pembuangan sampah, transportasi dan pusat kesehatan masyarakat.

Keadaan yang tidak menentu yang sering kali dialami para penghuni pemukiman liar itu, membuat mereka membangun rumah secara serampangan. Mereka tidak bisa mengetahui dengan pasti, kapan akan digusur atau apakah bisa tinggal dengan aman di sana. Karena itulah, mereka tidak berani memperbaiki perumahan mereka atau meningkatkan kesejahteraan kelompoknya. Tidak ada orang yang ingin hidup dalam kondisi hunian seperti demikian, tapi apa boleh buat, ini bukan pilihan mereka, melainkan mereka terdesak oleh kebutuhan untuk bertahan hidup.


Bagang untuk menangkap ikan. Foto : Winarni.

Tidak adanya ketegasan dari pihak pemerintah untuk menangani tingginya urbanisasi di wilayah ini, bisa jadi menjadi salah satu penyebab makin meluasnya pemukiman kumuh. Harapan akan bisa mendapat pekerjaan dengan lebih mudah dan dengan demikian mendapat uang yang lebih banyak dan relatif mudah daripada tinggal di pelosok desa nun jauh di sana, merupakan alasan yang orang untuk pindah ke kota.

Mata pencaharian sebagai nelayan tampaknya masih mendominasi di tempat ini. Bagang berukuran besar maupun kecil terpancang di sepanjang sungai. Terlihat pula beberapa nelayan yang sedang asyik memancing di atas perahunya.

Lakkang

Tidak banyak yang tahu dengan wilayah yang satu ini, tempat yang di sebut-sebut sebagai wilayah yang paling terzalimi di Kota Makassar. Orang-orang biasa menyebutnya pulau Lakkang karena wilayah ini di batasi oleh dua perairan, yaitu Sungai Tallo dan Sungai Pampang.

Lakkang yang berarti tidak mau lepas, berada dalam administrasi Kecamatan Tallo. Kelurahan Lakkang dengan luas 1,65 km2 tersebut, dihuni 255 kepala keluarga. Merujuk ke data BPS tahun 2007, total jumlah penduduknya 976 orang yang terdiri atas 502 laki-laki dan 474 perempuan.


Kampanye di tepi sungai. Foto : Winarni.

Di depan dermaga pulau Lakkang, atribut kampanye milik Adil Patu, Ilham Arief Sirajuddin, dan Ridwan Musagani telah terpancang. Tampaknya para politikus itu mencoba mencari keberuntungan di wilayah tersebut. Itu yang kami lihat dua bulan lalu, mungkin bulan ini atribut kampanye itu telah bertambah seiring menjamurnya atribut kampanye di tempat lain di Kota Makassar ini.

Tidak ada jalur transportasi darat untuk mencapai Kampung Lakkang. Mereka hanya mengandalkan sarana transportasi air. Hari itu, kami berpapasan dengan beberapa orang di atas perahu yang sedang menuju kota. Isu mengenai konsep jalan akses tembus Lakkang memang telah lama digaungkan, tetapi belum terealisasi hingga saat ini.

Jalan tembus sepanjang kurang lebih satu kilometer itu, dicanangkan guna mempermudah akses masyarakat di Kampung Lakkang menuju kota. Bisa jadi, isu itu pula yang disampaikan para politikus yang fotonya berhari-hari dipamerkan di pulau itu.

Pulau Lakkang, yang merupakan kawasan delta Sungai Tallo itu, direncanakan sebagai kawasan penelitian terpadu, yaitu kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai pusat pengembangan penelitian. Di sana akan dilakukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terpadu, khususnya bidang maritim dan agropolitan.

Kawasan Lindung

Perjalanan kami terus berlanjut. Cuaca mulai tak bersahabat, di atas sana awan putih tampak berubah menjadi abu-abu. Titik-titik air mulai turun menyapa beberapa limbah kayu tampak mengotori sungai yang tenang itu. Limbah itu mungkin berasal dari pabrik kayu di terletak di dekat sungai. Beberapa permukaan juga ditutupi daun dan batang pohon lontar yang sudah kering. Dari sini, gedung graha pena tampak semakin jelas.

Sebaran sedimentasi terbentuk di sekitar sungai Tallo menjadikan penampang sungai itu semakin sempit. Hal ini dapat mempengaruhi limpahan air di sebelah kanan dan kiri sungai pada musim hujan. Beralih fungsinya bantaran Sungai Tallo menjadi daerah pemukiman dan aktivitas manusia lainnya, berakibat pada terjadinya genangan air di sekitar Sungai Tallo pada musim hujan.

Sesuai Perda Nomor 6 tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Kota Makassar 2005-2015, Sungai Tallo akan difungsikan sebagai kawasan lindung atau ruang terbuka hijau (RTH). Hal ini diharapkan mampu menangani banjir yang kerap terjadi di kota Makassar setiap musim penghujan tiba.

Transportasi Air

Jembatan Tello sudah tampak di kejauhan. Di atas sana, deru kendaraan jauh lebih bising dari saat pagi baru merekah. Demikianlah, di siang dan sore hari,, padatnya kendaraan di atas Jembatan Tello kerap kali membuat jalan itu menjadi macet. Kemacetan itu membuat pemerintah kota merencanakan pengadaan transportasi air di Sungai Tallo. Pengadaan transportasi ini di harapkan bermanfaat bagi penduduk kota Makassar khususnya wilayah Antang, Bukit Baruga, Perintis Kemerdekaan dan daerah sekitarnya. Penataan dan pengerukan sejumlah titik akibat sedimentasi akan dilakukan untuk merealisasikan perencanaan ini. Tetapi perencanaan tersebut masih membutuhkan pengkajian ulang. Jangan sampai nasib transportasi air itu akan sama malangnya dengan transportasi air di Kota Jakarta.

Menepinya perahu kami di sebuah dermaga kecil di sebelah kanan arah laju perahu kami, menjadi akhir perjalanan kami hari itu. Sebuah akhir yang masih menyisakan keinginan lain, yaitu melihat apa yang ada di tepian Sungai Tello hingga Antang, bahkan sampai ke Kabupaten Gowa.

Tulisan ini di publikasikan di Panyingkul pada tanggal 3 Juli 2008

http://panyingkul.com/view.php?id=909

0 thoughts on “Wajah Buram Urbanisasi diantara Jembatan Tallo dan Tello

  1. rie

    wah matakuliah saya nih ngomong-ngomong titik mana saja sih konsentrasi permukiman kumuh berada, dan kira-kira apa penyebabnya?

    titik pemukiman kumuh itu banyak,khususnya untuk bantaran Sungai Tallo. Untuk pemetaan persisnya, saya belum bisa memetakannya keselurahan karena survei saya belum tuntas disana. Penyebabnya pun banyak. Salah satunya untuk memenuhi kebutuhan akan rumah tinggal yang murah yang rasanya semakin sulit di kota ini.

    Reply
  2. rie

    menyediakan rumah untuk masyarakat miskin kok susah amat sih….. perumahan kumuh di belakang pondok madani tuh cari satu duaji dengan pondokan mahasiswa yang dekat, dekat situ.

    knp susah? karena kebanyakan pemerintah dan orang-orang disekitar kita berorientasi pada uang. Kalau di lihat secara materi, apa untungx membuat perumahan bagi masyarakat miskin? Modal belum tentu kembali… berbeda kalau membangun mall dan hotel…

    Tapi sebagai mahasiswa kita dituntut punya kepedulian sosial, dan mendirikan rumah yang layak bagi kaum miskin seharusnya menjadi panggilan jiwa bagi kita. Tapi…..? *silahkan menjawab sendiri

    Reply
  3. aisyah

    dalam tugas TA, saya berencana membahas mengenai pemukiman liar di kota makassar…
    kira-kira di bagian mana saja (sudut kota makassar) yang ditempati pemukiman liar…???

    menarik sekali TA nya. Aisyah kuliah dimana? Bahas pemukiman liar fokus pada apanya?
    Mungkin Aisyah sudah tau persis kalau pemukiman liar itu berbeda dengan pemukiman kumuh. Pemukiman liar itu biasanya terkesan kumuh, tetapi pemukiman kumuh belum tentu dapat dikategorikan pemukiman liar.
    Titik pemukiman liar di Makassar cukup banyak, hampir disetiap kecamatan ada. Biasanya terdiri atas banyak rumah dan berkelompok tetapi ada juga yang terdiri dari satu atau dua rumah saja. Untuk lebih jelasnya kita bisa diskusi via YM saja. Ok

    Reply
  4. adi

    saya tertarik dgn survei anda……
    itulah sbenarnya wajah dari negara kita..
    yang kaya makin kaya dan yang miskin smakin melarat,

    Reply
  5. wahyudi

    assalamu alaikum wr..wb..seperti yg kita lihat bahwa pemukiman kumuh itu rata2 berada di pinggiran sungai..yg jadi persoalan..ketika pemerintah kota mengeluarkan rencana jalur transportasi sungai yg bertitik pada sungai tallo, mungkin pemerintah harus mengadakan studi kelayakan yg menunjang program tersebut..apakah dengan adanya rencana tersebut pemerintah mampu memberdayakan masyarakat yg tinggal di tepian sungai untuk lebih memperhatikan kesehatan lingkungan..? terima kasih..

    waalaikum salam wr wb
    takkan keluar sebuah kebijakan tanpa ada studi kelayakan terlebih dahulu. Jadi kemungkinan rencana transportasi sungai ini sudah mempertimbangkan rumah kumuh yang terletak disana dan sudah memikirkan rekomendasi apa yang diberikan
    terima kasih

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *