Blog, Aku Ingin Panjang Umur

eci-inspirasi-menulisku

Blog… pertama kali aku mengenalmu, aku sangat bahagia. Ada eforia dalam tubuhku, kata-kata dalam otakku bersuka cita dan jariku tak berhenti menari mengetikkan kata demi kata. Aku seperti menemukan rumah yang begitu nyaman, membuatku bisa menjadi apa adanya diriku. Bagi pribadi introvert sepertiku, dindingmu adalah tempatku bercerita, tempatku untuk protes sekaligus berproses, tempatku untuk menangis sekaligus tertawa, tempatku menganalisa, tempatku memperlihatkan karya, dan tempatku menemukan diriku yang sebenarnya. Aku menemukan sebuah buku diary yang tidak membuatku takut kehilangan. Aku bisa membaca dan mengisimu kapan saja dan dimana saja.

Seiring waktu, aku mulai berpikir untuk tak sekedar mengisi halamanmu dengan curhatan yang berpusat pada diriku tetapi juga tulisan-tulisan yang berguna bagi orang lain. “Aku ingin menulis sesuatu yang belum ada di internet” alasan itu kutuliskan saat mendaftar di sebuah media citizen journalisme, bernama Panyingkul! Sebuah wadah yang membuatku belajar untuk menulis, menulis dan menulis.

Setiap hari aku menyempatkan waktu untuk menulis atau sekedar mencari bahan untuk menulis. Mulai dari tulisan remeh temeh hingga opini yang serius. Mulai dari sebait puisi hingga satu cerita pendek. Mulai dari laporan pendakian hingga laporan perencanaan kota.

Aktivitasku di halamanmu membuatku terlihat “aneh” di mata teman-teman dan dosen di kampusku kala itu. Aku terlalu idealis, kata mereka. Makin lama, jarak pun memisahkan kami. Aku menjadi manusia soliter, menarik diri dan menikmati duniaku sendiri.

Entah bagaimana itu bermula, tiba-tiba aku mengalami writer’s block yang sangat parah. Kadang ada rasa takut, kadang ada keinginan untuk sempurna, bahkan terkadang jari-jariku seketika kaku melihat dindingmu. Aku menghindarimu, membiarkan semua opini-opini yang aku tulis berakhir di blog private atau di draft. Kepercayaan diriku terjun bebas. Aku membiarkan kata-kata tersesat di labirin otakku.

Hingga pada suatu hari di pertengahan tahun ini, kesehatanku terganggu. Seluruh badanku sakit dan sulit bergerak saat itu. Tatapan dari mata jernih anakku, menyadarkanku. Bisakah aku melihatnya tumbuh dan berkembang? Jika umurku tak panjang, akankah dia akan mengenalku? Bagaimana caranya aku memberi tahunya tentang pemikiran-pemikiranku? Bagaimana caranya aku mengajarkannya tentang berbagai resep makanan? Darimana dia akan mendapatkan cerita perjuangan kedua orang tuanya untuk mendapatkannya? Dan berbagai pertanyaan yang kujawab dengan satu kata: menuliskannya. Mengukirnya di blog ini.

Ngeblog bagiku bukan lagi ajang untuk menunjukkan eksistensi ke orang lain, bukan untuk dipuji bahwa blogger itu keren, bukan pula untuk mengikuti tren. Aku ingin ngeblog lagi karena ingin panjang umur, itu saja.

Tahun ini aku memulainya kembali. Memulai mengisimu sedikit demi sedikit semaksimal yang kumampu. Tahun depan aku berharap kemampuan menulisku membaik dan kita akan lebih sering bertemu. Semoga…

13 thoughts on “Blog, Aku Ingin Panjang Umur

  1. ZILQIAH

    blog ibu adalah warisan untuk anaknya kelak…
    thumbs up kak inart..
    semoga saya juga bisa menulis dengan baik di blog.
    sehat selalu baby eclair sweety beauty.. muaaaachh :*

    Reply
  2. Pingback: Yes, I'm Blogger - Inart's Story

  3. BHW

    First of all I want to say superb blog! I had a quick question which I’d like to ask if you don’t mind.

    I was curious to know how you center yourself and clear
    your mind before writing. I have had a difficult time clearing my
    mind in getting my thoughts out. I do enjoy writing however it just
    seems like the first 10 to 15 minutes tend to be lost simply just trying to figure out
    how to begin. Any recommendations or tips? Many thanks!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *