Kisahku dan Paccarita

  

Dear Pacca, duduklah disini. disampingku. Akan aku ceritakan sebuah kisah untukmu, kisah tentangmu, kisah tentang kita…

Sembilan tahun yang lalu, di awal bulan Desember 2006, hari sudah berganti malam, rintik-rintik hujan sedang bernyanyi, tapi tidak menghalangiku untuk hadir di acara ulang tahun blogfam, sebuah komunitas blogger seluruh Indonesia di kala itu. Dari komunitas itulah kelahiranmu. Dari kampus, aku langsung ke Biblioholic, tempat kami berkumpul. Minimnya kemampuan sosialisasi serta adaptasiku terhadap lingkungan baru, coba aku tepis dan berusaha bergabung dengan teman-teman yang hanya berkenalan di dunia maya. Bu RT, Rara, menyambutku dengan senyum yang sangat manis diikuti sambutan hangat dari yang lain. Perlahan, aku mulai beradaptasi. Lagu dinyanyikan, lilin ditiup, kue dipotong, senyum tersungging, tawa terbahak menandakan pesta ulang tahun telah dimulai. Meriah meski hanya dihadiri beberapa orang. Wajar kalau tahun itu blogger makassar mendapatkan penghargaan sebagai Kopdar Terseru 2006 dari blogfam, mereka memang sangat seru. Akhir acara, kamipun saling bertukar kado dengan harga maksimal 15 ribu. Saya hanya membungkus secarik kertas bertuliskan “Selamat Anda mendapatkan Pulsa 10 ribu”. 

Aku mulai merasa diterima di keluargamu. Sosial media belum seramai sekarang, kami lebih banyak berdiskusi lewat milis. Bisa ratusan email yang masuk setiap harinya, bahkan lebih. Mungkin karena itu kamu diberi nama Paccarita. Saya suka dengan cara Daeng Leo menggambarkan dirimu ikon smile dengan topi merah khas dari Makassar, salah satu tangamu seakan menyapa, “hai”. Dan bila kedua tanganmu dilihat, seolah ingin memeluk, menyambut dengan hangat.

Setiap bulan komunitas ini mengadakan lomba blog atau lomba foto berhadiah banner, sebuah hadiah yang sangat prestisius di kala itu. Kadang-kadang kami mengikuti lomba yang diadakan blogfam. Saya sempat ikut sekali, dan fotoku menjadi juara 3 sekaligus juara favorit saat tema Hari Kemerdekaan. Ah senangnya waktu itu, meski cuma punya modal kamera poket pinjaman.

Pertengahan 2007, engkau mengadakan event pertama sejak kelahiranmu, event Blog For Life yang diadakan di sebuah mall yang kini berubah menjadi hotel. Aku menjadi panitia saat itu. Acaranya sukses luar biasa dan menarik banyak member baru blogger Anging Mammiri. Engkau makin terkenal tidak hanya di Makassar bahkan di seluruh Indonesia.

Banyaknya kegiatan kampus membuatku jarang berinteraksi lagi denganmu. Saya melewatkan event ulang tahun pertamamu, Voice of Freedom. Saya tidak ikut menjadi kontributor di buku Ijo ijo Anget. Saya melewatkan banyak acara kopdar, acara kumpul-kumpul dan sebagainya. Saya tenggelam dalam duniaku sendiri, mengejar untuk menyelesaikan tulisan-tulisanku di blog, tentang kota, tentang gunung atau sekedar curhat tak penting.

Tahun 2009 adalah tahun yang berat untukku sebagai blogger. Idealismeku diuji karena dosen tidak menerima kritikanku di blog. Beberapa nilai mata kuliahku ditahan, dan tidak bisa masuk studio akhir. Beruntung, semua terlewati. 

Akhir tahun 2009, aku menuliskan artikel ini “Aku Kembali…” untuk diikutkan lomba blog di ultah ketigamu. Sebuah tulisan yang berkisah tentang keinginanku kembali ngeblog setelah dicandu sosial media, sekaligus keinginanku kembali akrab denganmu. Sedikit canggung, aku menghadiri perayaan ulang tahunmu. Banyak wajah-wajah baru yang tidak kukenal. Aku hanya duduk di kursi belakang, mengamati. Meskipun tidak berharap, ternyata aku mendapat juara pada event itu, Daeng Rusle, salah satu blogger idolaku, menjadi pemenang pertamanya.

  
Semua blogger pasti ingin menghadiri Pesta Blogger 2010, termasuk aku. Tapi aku sadar, blogku sudah jarang terisi. Lagipula pada tahun itu, kondisi ekonomi tidak memungkinkan untuk traveling untukku. Tahun 2010 pula adalah titik balik bagimu, ketika pucuk pimpinan Komunitas Blogger Anging Mammiri dijabat Daeng Ipul menggantikan kak Rara. Berbagai acara digelar sebagai bentuk kebangkitan komunitas ini lagi, namun aku tak pernah hadir.

Tahun 2011 hingga awal 2015 adalah masa suramku sebagai blogger. Aku menjadi manusia soliter yang lebih banyak menuliskan opini pada blog private. Kalaupun aku mempublikasikan ke blog ini, aku berharap tak ada yang membacanya, tak ada yang mengomentarinya. Entahlah fenomena apa ini. Jika biasanya blogger ingin dikunjungi, aku sebaliknya. Aku menghindarimu dan berharap tidak ada yang mengenalku sebagai blogger. Aku hanya melihat perkembanganmu dari sosial media, kadang-kadang memberi dukungan tapi lebih sering hanya mengamati dan ikut tersenyum bahagia melihat kesuksesanmu. Jujur, aku menyesal tidak hadir di Blogger Nusantara 2012 yang diadakan di Makassar saat itu.

Awal tahun 2015 aku berniat untuk bangun dari hiatus berkepanjangan ini, mencoba kembali aktif menulis seperti dulu. Aku terbangun dan menyadari kemampuan menulisku kembali nol, sementara banyak blogger-blogger yang kualitas tulisannya terus meningkat. Bulan demi bulan kupaksa diriku untuk setidaknya menulis satu paragraf dalam sehari, namun selalu kusalahkan waktu, banyak yang hanya sampai di draft saja. Kepercayaan diriku dalam menulis terjun bebas dan aku tak tahu cara mendongkraknya. 

Hingga akhirnya 2 minggu lalu, aku meminta kepada Kak Nanie mengundangku di grup Line-mu. Beberapa nama kukenal tapi beberapa lainnya baru kubaca. Aku mengikuti setiap obrolan disana, tentang apa saja yang akhirnya mengukirkan huruf di blog mereka. Aku sempat minder hingga akhirnya tercetus keinginan menulis tentangmu sebagai perkenalan. 

Pacca…, aku mungkin bukan orang yang selalu ada bersamamu. Aku datang dan pergi sesuka hatiku. Aku bukan blogger yang mengorbakan peluh dan airmata untukmu, bukan pula blogger yang melihat perkembanganmu hari demi hari, bukan juga yang berkontribusi banyak untukmu. Aku hanya blogger biasa yang isi blognya juga biasa saja, blogger yang selalu melihatmu dari jauh, mebanggakanmu, mengagumimu, dan mendoakanmu dalam diam. Dan inilah kisah kita, semoga kelak aku bisa menulis lebih banyak tentangmu.

Selamat ulang tahun, Pacca. Semoga diusia 9 tahun ini senyummu tetap tersungging dan menjadikanmu rumah untuk selalu pulang, menyambut siapa saja dengan kehangatan.

0 thoughts on “Kisahku dan Paccarita

  1. Qiah

    Terasanyaaa kenangannya kak inart bersama pacca..
    Welcome back kak inart..
    Saya bakal sllu nunggu tulisan2 berikutnyaaa..
    Btw, lucunya foto komunitasnya gang .. Hihihiw..

    Reply
  2. Qiah

    Terasanya kenangannya kak inart dan paccaa…welcome back kak inart..
    Sy bakal sllu nunggu tulisan2 kak inart
    (⌒o⌒) semangat terusss kak..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *