Dilema Ibu Bekerja di Rumah

  
Entah ini sudah kue keberapa yang tidak selesai tepat waktu. Beberapa kue lain, hasilnya jauh dari maksimal. Bahkan ada beberapa orderan yang terpaksa saya batalkan.

Hari ini terulang lagi, hasil kuenya lagi-lagi tidak maksimal padahal saya sedang mempersiapkan diri mendapat izin dari dinas kesehatan. Lagi-lagi Eci tidak menerima kompromi, ia menangis bahkan berteriak meminta perhatian. Air matanya terus menetes tak mau berhenti dengan bujukan. Dia hanya ingin, saya berhenti mengerjakan semua itu dan memusatkan perhatian hanya padanya.

Terkadang terbersit keinginan untuk berhenti total menggeluti bisnis ini. Tapi sayang dengan segala aset yang telah terkumpul, apalagi minggu ini saya sudah berusaha melangkah lebih jauh untuk kelangsungan bisnis ini. Bisnis kue ini adalah duniaku, dunia tempatku berkreasi tanpa batas. Disini, dapat ku terapkan kemampuan desain sekaligus kesukaanku pada dunia kuliner. Disini pula saya bisa mendapatkan penghasilan sendiri yang bisa membuatku mampu membahagiakan orang di sekitarku. Bisnis ini yang membuat hidupku lebih hidup.

Tetapi di sisi lain, saya tak sanggup mendengar Eci menangis menjerit setiap melihat Mamanya bekerja, saat melihat Mamanya seperti tidak memperhatikannya. Eci juga adalah bagian dari duniaku, karena dia pula hidupku makin hidup. Dua tahun menantinya dengan segala pengorbanan, membuatku tidak tega melihat air matanya bercucuran.

Semoga saja Eci bisa segera mengikhlaskan Mamanya untuk membuat kue lagi, tanpa drama, tanpa suara tangis yang membuat konsentrasi mamanya terganggu hingga orderannya gagal dan costumernya tidak kembali lagi. Eci tetap nomor satu buat Mama, nak. Tapi izinkan Mama punya kegiatan lain selain merawat Eci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *