Berbagi

Winarni KS   April 2, 2009   No Comments on Berbagi

Entah kenapa, postingan yang berjudul (Jangan) Biarkan Aku Sendiri yang saya tulis pada bulan Agustus tahun 2007, kembali dilirik oleh beberapa pengguna internet. Kehadiran judul itu di blog stat maupun di home blogku, membuat tergelitik untuk kembali bergulat dengan kata-kata dalam tulisanku.

Kata di dalam tanda kurung pada judul tersebut adalah suatu yang tidak semestinya ada, namun coba saya sajikan sebagai sebuah paradoks yang ironi. Kedudukannya seperti halnya tanda tanya dalam kurung pada sebuah pertanyaan retoris, tujuannya mengundang pembaca untuk menemukan kebenaran dibaliknya. Dan saya, juga sebagai pembaca, kembali menanyakan kebenaran dibalik kalimat pada judul tersebut.

Menjadi manusia invisible, selalu melakukan segalanya sendiri, tertawa sendiri, tersenyum sendiri, menangis sendiri, bekerja sendiri bukanlah sebuah alasan yang membuat kita harus menarik diri dari sebuah massa kolektif. Hal tersebut hanyalah sebuah kebiasaan yang akan membawa saya ke ranah egosentris. Ia akan berubah seiring berkembangannya hubungan aku-engkau, atau hubungan yang melibatkan diri sendiri dan orang lain.

Dulu, dengan angkuhnya saya mengaku dapat melakukan dan menjalankannya sendiri. Namun nyatanya, sebagai makhluk sosial, paradigma yang terlampau individual tersebut menjadi bumerang bagi jiwa saya. Hal itu justru membangunkan tirani yang kokoh untuk jiwaku. Dari judul hingga tullisan tersebut, saya terlihat paham betul bagaimana kedudukan “kebersamaan” dalam kehidupan manusia, dengan lancar saya berusaha menyingkapnya namun dengan segera saya pun mencoba menolak realitas itu. Ironis. Disana, saya terlihat menabrak realitas yang ada sebagai bentuk pelarian karena tidak/belum keberterimaan terhadap realitas tersebut.

Eksistensi manusia bukanlah eksistensi yang tertutup, melainkan yang terbuka sifatnya. Konsekuensinya, saya akan berkembang sebagai manusia sepenuhnya justru kalau saya semakin terlibat dalam pertemuan dan kontak dengan orang lain. Atau, agar bisa berkembang menjadi manusia yang utuh dan dewasa, saya tidak bisa mengurung diri dalam tirani jiwa sendiri. Sebaliknya, saya harus berani dan rela membuka diri untuk mengenal dan dikenal oleh orang lain. Hal ini memungkinkan apabila saya mau membuka komunikasi dengan sesama, hanya apabila saya mau berpartisipasi dalam “adanya” orang tersebut. Demikian pula harapan saya terhadap orang lain, semoga ia mau berpartisipasi dengan “adaku”. Dengan demikian, antara saya dan dirinya akan tercipta kondisi yang memungkinkan kami untuk saling berkomunikasi. Maka demikianlah yang kemudian kita kenal “saling berbagi”.

Perjalanan waktu yang telah saya lalui, membuat saya bisa memahami alasan mengapa kita membutuhkan orang lain. Selain syarat agar kita bisa bereksistensi, kita membutuhkan orang lain supaya kita mampu menjadi diri sendiri. Maksudnya dengan mengenal orang lain, kita akan semakin memahami autensitas atau keunikan kita. Orang lain itu seakan-akan menjadi cermin bagi diri untuk meninggalkan egosentrisme dan kepentingan pribadi yang kadang membuat kita terkungkung dalam menara gading sendiri. Satu-satunya jalan untuk mengenal diri sendiri ialah melalui orang lain.

Maka tulisan ini terlahir sebagai sebuah otokritik terhadap pergulatan kata yang saya tuliskan kurang lebih dua tahun yang lalu. Disinilah kelebihan bergulat kata dalam tulisan dibandingkan berucap dengan verbal. Ia mempunyai nilai sejarah yang bisa bergulir dari masa ke masa.

Dan ketika ada yang mencoba membuka sedikit tabir misteri hidupmu dan kemudian mencoba memahami dinamika kehidupanmu, masihkan kau berlari dan menarik diri?

0 thoughts on “Berbagi

  1. arhyen

    kukira the incredible girl. klo itu iyya kua’ ko nart

    hiihihhi
    invis bukan berarti tidak ada..hhhehehe

    dirimu membuatku tersipu malu. hehehe
    yoi, invis bukan berarti tidak ada tp tetap da keliatan. 😀

    Reply
  2. Rezky

    artikelnya berat sekali
    tapi saya salut dengan kemampuan menulis anda, perpaduan otak kiri dan otak kanan.

    ah… masa sih berat? biasa aja kok. Masih lebih berat carrier yg biasa anda angkat. (ikut2an bilang ‘anda’)
    Makasih ya, saya juga masih belajar ji.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *