(Jangan) Biarkan Aku Sendiri

Kemarin, aku ke kampus. Beberapa orang menegurku dan menanyakan mengapa aku tak pernah menampakkan diri di kampus. Apakah betul, mereka menyadari ketiadaanku?

Aku adalah individu impersonal yang hidup dalam massa kolektif. Hal ini harus kuakui. Aku hidup seperti manusia yang terisolasi, terpisah dan terasing dari orang lain. Kemalangan ini kusadari. Aku yakin, beberapa orang dalam komunitasku, menganggap aku tak sungguh-sungguh hidup, aku tak betul-betul ada. Aku Invisible. Tak ada satu pun yang mampu kuberikan kepada sebuah komunitas.

Eksistensi manusia memang tak mungkin pernah lepas dari kebersamaan. Eksistensi manusia adalah sebuah kerelaan untuk menyatu dengan orang lain. Manusia tak dapat di lihat dari kesendirian, melainkan justru karena keberadaannya berakar pada kebersamaannya. Sekali lagi, aku menyadari ini. Tapi salahkah aku untuk memilih menjalankan ini sendiri???

Aku tertawa sendiri. Aku tersenyum sendiri. Aku berbicara sendiri. Aku menangis sendiri. Aku termenung sendiri. Gila. Sendiri.

Egois??? Individual??? Mungkin orang lain akan mengambil kesimpulan seperti itu. Tapi bukan konteks itu yang membuatku melalui jalan ini, justru karena rasa rendah diri seorang manusia biasa yang membuatku menjalaninya.

Apa yang orang lain ketahui tentang diriku? Apa yang orang lain rasakan tentang proses hidupku hingga menjadi seperti ini? Tidak ada yang tau. Tak ada yang mengerti. Konflik-konflik yang menjadi dinamika kehidupanku bukan bermuara pada usaha hidup bersama tetapi hidup sendiri.

Betul, jika aku yang sengaja menyisakan tanda tanya besar tentang diriku pada mereka, tapi haruskah mereka tahu?

Tubuhku bertindak seolah menjadi jembatan yang menghubungkan dunia individualku yang bersifat batin dengan orang lain. Komunikasi yang aku bangun mungkin tak selamanya melalui verbal, kata-kata yang di keluarkan lewat mulut tetapi melalui alat yang diciptakan oleh kemampuan tubuhku bahkan anggukan dan gelenganku adalah suatu bentuk alat komunikasi yang merupakan perpanjangan tubuhku sendiri.

Jika aku tak mampu bersilat kata di hadapanmu, izinkan aku bergulat dengan huruf dalam tulisanku. Jika kau tak mampu mengartikan kebungkamanku, cobalah mencerna setiap bait kisahku…

(Jangan) Biarkan Aku Sendiri………….

0 thoughts on “(Jangan) Biarkan Aku Sendiri

  1. Pingback: Berbagi « ..:: More Than Just Experience ::..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *