Penataan Pantai Losari

Kota Makassar memasuki tahun 2007 dengan mempersembahkan penataan kawasan Pantai Losari sebagai hadiah tahun baru bagi warganya. Kawasan yang menyimpan begitu banyak kenangan, tadinya adalah bandar dagang yang dihuni berbagai orang dari berbagai bangsa. Di tahun 1970-an, ketika Pantai Losari di sepanjang Jalan Penghibur itu mulai berubah fungsi menjadi kawasan rekreasi rakyat, dengan gerobak penjual makanan sebagai ciri utamanya, tak banyak yang mengira suatu saat kelak mereka akan tergusur.

Jalan-jalanki di pantai losari… Anging mammiri sepoi-sepoi… ada cewek ta di dekat ta bedeng… enak na mamo sampe lupa ki pulang…
Ada tommi tenda-tenda kape… tempat kumpulna anak mudayya… yang tuayya tidak mau tong kalah… palla na mamo ikut tongi bagadang…

Lagu yang dilantunkan Anci La Ricci mengalun merdu dan begitu khas. Ingatan pun menerawang ke salah satu sudut kota Makassar, tatkala semilir angin laut berhembus, matahari terbenam di kaki langit yang membentuk semburat jingga di sebelah barat hingga menciptakan siluet senja yang mempesona.

Kabar pemolesan Losari terus menggema di seluruh media lokal Makassar. Pantai Losari yang dulu merupakan tempat perhelatan ekonomi rakyat kini ditata dengan anggaran Rp104 miliar, dan dipersembahkan sebagai hadiah tahun baru bagi warga kota Makassar sebagai ruang publik masa depan.

Pantai Losari memang memiliki perkembangan yang unik. Di masa kekuasaan Kerajaan Gowa-Tallo, pantai ini digunakan sebagai bandar dagang dan pelabuhan yang sangat ramai. Seiring dengan masuknya masa kolonial, kawasan pelabuhan itu akhirnya didominasi Belanda, sedangkan orang Arab, Gujarat, India, Cina, dsb ditempatkan di daerah yang jauh dari pelabuhan. Bangunan berarsitektur kolonial pun terbangun di sepanjang Pantai Losari, salah satunya rumah dinas Walikota Makassar yang untungnya masih berdiri hingga sekarang.

Di era tahun 1970-an pantai yang dulunya sebagai bandar dagang tersebut berubah fungsi sebagai tempat rekreasi dengan bentuk dan sistem sederhana. Belum ada pengaturan dan peraturan menyangkut kenyamanan para pengunjung pantai.
Memasuki tahun 1990-an Losari mulai sedikit berbenah. Pemerintah kota melakukan berbagai langkah, salah satunya memberikan kompensasi berupa izin berjualan di pantai. Sejak adanya izin tersebut, pergerakan ekonomi rakyat di tempat ini makin merajalela.

Menikmati pisang epe, makanan khas Makassar yang terbuat dari pisang mengkal yang dibakar lalu dipipihkan dan disiram air gula merah dan kelapa parut sambil menikmati panorama alam adalah ciri khas Losari kala itu. Tidak hanya pisang epe, wisata kuliner di bibir pantai ini juga menyajikan aneka makanan dan minuman lainnya. Misalnya pisang ijo, pallu butung, coto, sop konro hingga makanan sari laut dan aneka minuman tersaji sejak sore hingga malam hari di sepanjang 1,5 kilometer garis Pantai Losari. Menikmati jajanan di “restoran terpanjang” memang menjadi pilihan masyarakat Makassar, apalagi sarana seperti mal belum semarak seperti saat ini.

Di awal tahun 2000 muncul ide untuk kembali memperbaiki citra Losari sekaligus melakukan peningkatan mutu pantai. Tembok yang keropos di tambah beban bangunan serta polusi air yang makin menjadi-jadi menjadi alasan. Di pertengahan tahun 2001 usaha revitalisasi atas nama penyelamatan pantai terus digulirkan. Meskipun menimbulkan kontroversi namun pemerintah kota yang dipimpin Amiruddin Maula ketika itu terus menampakkan keseriusannya. Pemkot mulai melakukan penataan bagi 300-an pedagang kaki lima. Dengan darah dan airmata mereka mempertahankan lapak-lapak mereka namun akhirnya mereka harus rela di pindahkan di lokasi baru, Jl. Metro Tanjung Bunga, dengan janji tidak akan di pindahkan lagi.

Pencemaran
Pada dasarnya pencemaran perairan di Pantai Losari disebabkan perubahan fungsi-fungsi ruang kota di kawasan tersebut dari perumahan menjadi kawasan komersil. Berbagai hotel terbangun di sepanjang pantai bahkan beberapa di antaranya menghalangi masyarakat menikmati keindahan pantai. Di sepanjang pantai pula, bermuara 14 outlet drainase kota, tujuh di antanya adalah outlet besar, yang memberikan kontribusi terhadap tercemarnya perairan. Jika penggusuran PKL dilakukan untuk menciptakan ruang publik dan mengurangi pencemaran perairan, mengapa hotel tidak ikut digusur atau dipindahkan atau lebih dulu mengelolah drainase perkotaan? Bukankah ini kebijakan diskriminatif?

Di awal tahun 2005, PKL kembali “digaruk” oleh pemerintah kota. Terbukanya akses dari Kawasan Tanjung Bunga dan Takalar memberikan aliran pergerakan kendaraan semakin besar, begitu pula sebaliknya. Apalagi tempat yang digunakan PKL saat itu adalah gerbang utama permukaan elite di Makassar, Tanjung Bunga. Lagi-lagi, isu pilih kasih antara pengusaha besar dan pengusaha kecil terjadi lagi.
“Nasib kita tergantung walikotanya, jadi lain walikota lain juga kebijakannya. Dulu waktu Pak Amiruddin berjanji tidak memindahkan kita lagi. Tapi karena sekarang Pak Ilham yang walikota, jadi hilang mi janjinya.Orang kecil kayak kita ikut saja!” ucap salah satu pedagang yang mengaku bernama Roy.

Pelataran yang telah ditata.
Foto: Ilham Halimsyah.

Pantai Laguna
Patung gajah masih berdiri megah di taman safari yang kini menjadi Pantai Laguna. Laguna atau air asin yang terkumpul dan terpisah dari laut akibat jalan terusan Metro Tanjung Bunga terus mengalami pendangkalan dan pembusukan organik laut akibat tidak optimalnya pertukaran air. Laguna tersebut pun ditimbun dan menjadi lokasi baru para PKL yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya di bibir pantai losari. Dikelilingi tembok tinggi, membuat akses pemandangan laut di lokasi ini tertutup.

Dari hasil survei mahasiswa PWK Fak. Teknik Unhas terungkap lebih dari 80% pedagang mengaku mengalami penurunan penghasilan dari masa ke masa.
Tahir Nompo, seorang pedagang pisang epe, yang memulai usahanya saat pemerintah kota memberikannya gerobak dagang pada tahun 1990-an, mengaku mengalami penurunan penghasilan sejak di pindahkan dari lokasi Jl. Penghibur.

Anto, pedagang sari laut, membenarkan. Pada saat berjualan di Jl. Penghibur, ia mampu meraup penghasilan hingga Rp300 ribu per malam. Dipindahkan ke Jl. Metro Tanjung Bunga penghasilannya mulai menurun dan di tempat baru yang telah ditempati hampir dua tahun itu, ia hanya mendapatkan sekitar Rp150 ribu per malam. “Di sini pembeli kurang. Di Penghibur pembeli bisa makan sambil melihat pemandangan sedangkan di sini tidak.”

Ical, pemilik cafe Laguna mengakui untuk pelayanan berupa air, listrik, sampah, perlindungan bangunan, dan keamanan, pantai Laguna memang unggul dibandingkan lokasi lainnya. Hanya saja, pembeli berkurang, mungkin akibat ongkos parkir yang dibebankan saat masuk ke lokasi ini.

Penurunan penghasilan ini juga dapat dilihat dengan banyaknya lapak-lapak pedagang yang harus gulung tikar. Beberapa lapak yang tidak terlalu strategis kosong tak berpenghuni. Dari pengelolah Pantai Laguna diperoleh data pengunjung dilihat dari jumlah kendaraan sekitar 500 motor dan 50 mobil di hari biasa sedangkan para hari libur, Sabtu dan Minggu, bisa mencapai 2.500 motor dan 300 mobil. Jika para pedagang mengaku mengalami penurunan pembeli maka bisa dibayangkan jumlah pengunjung sebelumnya di kawasan Penghibur.

Kini, wajah Pantai Losari sudah semakin molek. Proyek yang telah menghabiskan dana Rp25 milyar dan masih akan berlanjut. Menjadikan Pantai Losari sebagai ruang publik yang nyaman dan bisa dinikmati secara langsung oleh semua lapisan masyarakat adalah impian. Tetapi, proyek milyaran rupiah ini jangan-jangan kembali akan dijadikan sebagai kawasan komersil yang hanya diperuntukkan bagi pengusaha berkantong tebal.

0 thoughts on “Penataan Pantai Losari

  1. boypromma

    Hello,
    Just wanted to introduce myself.. Im Sean… glad to be here! Does anyone have any recommendations / advice on using this site?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *