Anak adalah Titipan

image

Akhir-akhir ini, marak berita tentang pengasuh dan penitipan anak yang memberlakukan anak yang dititipkan padanya, secara tidak semestinya. Melihat beberapa video cctv yang beredar, membuat saya miris bahkan hingga menangis.

Menitipkan anak kepada orang lain adalah pilihan orang tua masing-masing. Mungkin ada beberapa diantara mereka yang memang sangat butuh pekerjaan untuk memenuhi kehidupannya atau sejumlah alasan lain hingga satu-satunya pilihan adalah menitipkannya. Itu adalah pilihan. Dan saya tidak ingin membahas hal yang pro dan kontra tentang itu. Saya sendiri memilih untuk merawat sendiri anak yang Tuhan titipkan padaku.

Anak adalah salah satu dambaan pasangan yang telah menikah. Begitupun kami. Setelah menikah, kami tidak menunda untuk memiliki momongan. Namun hingga menjelang dua tahun pernikahan, anugerah itu tidak kunjung hadir di tengah pernikahan kami. Entah berapa liter airmata yang telah keluar saat berdoa memohonnya, atau saat mendengar cibiran orang lain, atau saat cemburu melihat pasangan lain yang dengan mudah mendapatkannya. Apalagi kami berdua mempunyai masalah kesuburan, membuat rasa sedih itu berkali lipat. Hingga pada suatu hari saya mengetahui bahwa akhirnya saya hamil, sejak saat itu saya meyakinkan diri, kelak saat dia lahir, saya yang akan merawatnya sendiri.

Usianya kini dua bulan lebih dan saya sangat bahagia merawatnya sendiri. Memijit dan memandikannya, memberikannya ASI segar kapan saja dia mau, memeluk dan menciumnya sesuka hati, memperlakukannya dengan sangat lembut dan berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Saya ingin dia tahu, ibunya akan selalu ada untuknya dan Tuhan melihat dengan CCTV-nya bahwa saya tidak menyia-nyiakan titipannya.

Meskipun dengan kelahirannya, saya harus off sejenak dari bisnis dan tidak berburu proyek tahun ini namun saya yakin ada Tuhan yang Maha mengatur rejeki. Melihatnya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang ceria adalah karunia yang tidak dapat dibeli dengan sejumlah uang. Karena pekerjaan bisa dilakukan hingga tua namun menjadi anak-anak hanya terjadi sekali.

Semoga Tuhan memberikanku kekuatan dan kesehatan untuk selalu merawat dan membesarkannya. Melihat dengan kepala sendiri hal-hal pertama dalam tahap pertumbuhannya.Menjadikannya anak-anak sebagaimana anak-anak, agar kelak ia tumbuh dengan emosional yang matang setelah dewasa. Mengajarkannya moral yang baik dan membantunya menemukan kecerdasannya.

Sehat terus nak, saya akan selalu ada untukmu ☺

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *