Bullying itu Menyakitkan

image

Sebuah video seorang anak perempuan dikeroyok teman SD nya tersebar di media sosial. Menontonnya, membuat air mata saya menetes. Sedih. Dia ditendang, dipukul dan diteriaki hingga menangis. Apapun pemicu adegan itu, tetap saja anak perempuan itu menjadi korban dan perlakuan itu mungkin akan mengganggu perkembangan psikologisnya.

Akhir-akhir ini peristiwa bullying pada anak banyak dibahas di media. Konon ada 13 juta anak korban bullying tiap tahunnya. Mungkin saja lebih, karena beberapa orang diantaranya tidak berani melaporkannya. Seringkali saya hanya jadi pengamat atas berita-berita itu, namun video ini menggugahku untuk menulis.

Masih lekat di memoriku bagaimana teman-teman SMP dan SMA memperlakukanku. Mereka memang tidak memperlakukanku seperti anak perempuan di video itu, tetapi mereka menyerang dengan verbal yang sampai hari ini kadang masih terngiang di telingaku.

Saat masih kecil, saya adalah anak perempuan yang ceria. Saya senang tampil di depan orang banyak dan menunjukkan talenta. Saya sangat senang belajar, menyukai ilmu eksakta sekaligus mahir dibidang seni dan olahraga. Namun semua berubah saat saya masuk SMP. Tiap hari saya mendengar ejekan yang memojokkan. Apapun pada diriku bisa jadi bahan ejekan. Mulai dari tubuh, wajah, rambut hingga barang yang saya kenakan seperti tas dan sepatu. Awalnya saya hanya bisa menangis tetapi makin lama semua itu terasa makin menyakitkan hingga membuatku berontak. Kursi kelaspun melayang dan itu sukses membuatku masuk ke ruang BP. Pemberontakan sebagai bentuk protes yang saya lakukan, rupanya membuat kekerasan verbal mereka makin menjadi-jadi. Karena takut memalukan orang tua jika harus mendapatkan panggilan dari BP, saya pun menyimpan segala ejekan itu menjadi “dendam”. Anak perempuan yang dulu ceria itupun berubah menjadi murung setiap hari, nilai-nilainya yang selalu bagus turun drastis, tak pernah lagi dia berani tampil karena rasa percaya dirinya telah direbut oleh kekerasan verbal teman-temannya.

Karena ingin menghindari teman-teman yang selalu mengejek itu, saya sengaja mendaftar ke SMA yang jauh dari Makassar. Dan ternyata, di tempat baru itu, saya mendapatkan perlakuan yang sama dari orang yang berbeda. Kondisi psikologisku semakin kacau dan itu membuatku terlihat “aneh”. Dalam diriku berkembang dua sifat yang bertolak belakang. Emosiku tidak terkendali, bisa tiba-tiba tertawa lalu tiba-tiba menangis, bisa tiba-tiba teriak lalu tiba-tiba tak ingin bicara. Saya tidak percaya pada siapapun dan berusaha menghindar dari orang lain agar tidak “tersakiti” namun selalu ingin tampil dan diperhatikan sebagaimana sifatku sejak kecil. Tidak ada yang tahu bagaimana sulitnya saya mengendalikan dua sifat yang bertolak belakang itu, mereka hanya melihat dari luar dan kadang menyebutku “gila”.

Semakin dewasa, saya mulai mampu mengendalikan diri setelah melalui proses meditasi yang panjang. Bahkan, menurut orang lain saya berpikir lebih dewasa dari seusiaku. Tetapi rasa percaya diriku sangat sulit tumbuh, seringkali saya tidak yakin dengan diriku sendiri dan menghindari untuk menunjukkan diri. Begitupula dengan kepercayaan pada orang lain, saya tidak mudah bergaul dalam lingkungan baru karena takut “tersakiti” lagi.

Saya adalah salah satu korban bullying yang syukur-syukur masih hidup hingga hari ini, meskipun dulu sempat berpikir untuk menyakiti diri sendiri. Masih banyak korban bullying lain yang nasibnya jauh lebih buruk bahkan yang terlihat tinggal nisannya. Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri untuk mengajarkan pada anakku agar kelak dia menghargai dan tidak menyakiti orang lain.

Tayangan-tayangan televisi akhir-akhir ini pun makin sering memperlihatkan aksi bullying yang bisa dicontohi anak. Mendampingi anak saat menonton adalah hal yang harusnya dilakukan.

Semoga anakku terhindar dari aksi bullying yang menyakitkan itu, cukup saya saja yang pernah merasakannya. Dan semoga dia juga terhindar dari prilaku bullying pada orang lain. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *