Sepi Tanpamu

♪…♫…♪…aku resah lalui hari tanpamu…♫..♪..♫

Menyanyi sambil bermain gitar sendiri di kamar sekarang menjadi suatu kebiasaan baru. Meski lagu-lagu yang dinyanyikan tidak ada yang jelas karena terkadang lupa chord atau liriknya tetap saja maksa untuk bernyanyi. Yah… suatu ekspresi diri yang akhirnya menertawainya juga sendiri.

Saya teringat, dulu, uNieQ yang paling sering protes, menertawai bahkan hampir muntah kalau saya mulai berulah dengan melakukan kegiatan ini. Tak pernah sekalipun dia memuji apalagi memberikan applause untuk “pertunjukan” ku itu. Hehe.

Kalau saya ditanya, siapa orang pertama yang ingin saya temui setiba dirumah, dengan lantang saya akan menjawab uNieQ. Yah… saya selalu tak sabar bertemu dengan kakakku ini setiba di rumah.  Rasanya lega jika kebetulan saya mendapatkannya sedang nonton di ruang tengah ketika saya pulang, tapi kalau dia tidak nampak di kursi agung itu maka saya akan bergegas membuka pintu kamar mungkin akan mendapatkan si bondeng sedang tertidur nyenyak. Dan andai saya tidak menemukannya juga dikamar, maka pertanyaan “Mana Kakakku?” pun menggetarkan pita suaraku.

Tapi kini, saya lemas masuk ke rumah, dia tak ada lagi nonton di kursi itu, tempat tidur di kamar pun masih rapi seperti ketika saya meninggalkannya, tak ada lagi si bondeng yang menutup kepalanya dengan sebuah bantal guling, tak ada lagi yang mencela dan menertawai pertunjukanku. uNieQ sekarang sudah di Takalar, melaksanakan pekerjaan yang telah lama dinantinya, berusaha mengembangkan karirnya,  dan membiarkan adiknya tidur sendiri lagi.

Awal bulan lalu dia masih sempat mengeluh, “Sudah Mei!” diucapkannya diiringi bahasa tubuh yang lemas. Pergantian bulan adalah titik ukur waktunya untuk mendapatkan pekerjaan. Berbagai usaha telah dilakukannya, mengirim lamaran, melakukan interview, namun tak ada satupun yang “nyangkut”. Hingga akhirnya pertengahan bulan lalu dia dinyatakan diterima di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang Agribisnis dan ditempatkan di Takalar. Syukurlah.

Beda
Berbicara tentang kakakku ini, maka saya akan mengatakan bahwa kami memang agak beda. Dia lebih sering jadi pencerita dan saya pendengar. Termasuk waktu dia masih di jogja, dia bisa menelpon berjam-jam ke HPku hanya untuk mendengarkan kisahnya. Berbeda dengan saya yang kaku, dia lebih supel dan selalu punya bahan untuk memulai pembicaraan.

Hal yang paling sering membuat saya jengkel dari dia adalah ke-Lelet-an nya.  Pertama setiap mau bepergian, saya pasti harus menunggunya berpakaian dan berdandan. Kedua: saya harus memperlambat jalan kalau jalan bareng dengannya. Ketiga: apalagi kalau menyoal tentang makan, pfuu… saya sudah bisa menghabiskan 2 porsi sedangkan dia, satu porsipun belum tentu sudah habis, padahal dia harus menghabiskan satu atau bahkan dua porsi lagi untuk menuntaskan makannya. Kalau begitu, saya terpaksa menunggu lagi. 🙁

Tapi dia bisa lebih cepat dari saya untuk kegiatan satu ini: mandi. Entahlah dia yang mandinya terlalu cepat atau saya yang main air kelamaan. Baiklah kali ini saya mengalah dan mengakui kalau saya yang main air terlalu lama. 😀

Anak dan Ibu
uNieQ harus ikhlas menerima kenyataan kalau wajahnya itu terlalu “keibuan” (Saya menggunakan kata keibuan untuk menghaluskan kata “mukanya lebih tua dari umurnya”. Hehehe). Hal ini berbeda dengan wajah saya yang konon kata orang, lebih muda dari umur sebenarnya. Yah… begini-begini saya sering dianggap anak SMA. 😆

Saya jadi ingat satu cerita lucu. Suatu hari ia ikut denganku di sebuah tempat yang hampir setiap bulan saya datangi. Sebenarnya dia paling malas pergi ke tempat itu, sudah lama saya berjanji akan mentraktirnya, namun setiap jadwal kesana tiba, dia tidak mau ikut dan memilih untuk tidur. Tapi entah kena setan apa hari itu, hingga ia mau ikutan. Dan insiden itupun terjadi ketika saya hendak membayar. Mbak pemilik tempat itu yang sudah mengenal saya pun bertanya, “Sama ibunya ya dek?” 😆 Saya pun meninggalkan tempat itu dengan tawa yang tidak tertahankan.

Seandainya tidak ingat kalau sudah pukul dua belas, berarti sudah tanggal 26 April, saya akan tetap keluyuran malam itu. Tapi karena teringat sebuah hadiah kecil yang ada di tasku, sebuah hadiah yang saya cari sejak tadi siang, saya pun memutuskan untuk pulang dan mempersembahkannya kepada si bulduzer.

Maaf, tahun ini saya hanya bisa beri hadiah kecil itu, sebenarnya saya ingin membelikan buku terbarunya Dee, tapi harganya terlalu mahal, maklumlah bulan itu adekmu punya banyak pengeluaran yang tidak terduga.

Rasanya bakal panjang kalau saya menceritakan tentang dirinya, sedangkan malam semakin tinggi, saya sudah harus tidur, menikmati tempat tidur ini sendiri, tanpa si bolduzer yang biasanya lebih menguasai tempat tidur dan menggunakan sekaligus dua bantal guling. However, saya tetap merindukanmu my lovely sist.

prangko2 😆 Diantara semua fotonya yang sudah saya edit, saya paling suka editan yang ini. 😆

0 thoughts on “Sepi Tanpamu

  1. app

    mungkin kurang olah raga
    suruh tiap hari senam pagi

    kodong ,,,sabarko Unieq
    selamat, akhirmya tidak ngangur

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *