Penjaga Hati

penjaga hati

Angin masih menemani Tifany, ombak pun terdengar menderu. Rambutnya yang tergerai disapa lembut oleh angin. Ia masih juga terduduk di atas batu besar itu, sebuah susunan batu layaknya tanggul yang coba dirancang menanjung ke arat laut, dan Tifany memilih salah satu batu yang paling dekat dengan deburan ombak yang menjilat-jilat batu tempatnya duduk. Perempuan itu kembali menikmati bias mentari yang menghasilkan warna jingga yang sangat mengagumkan di tempat ini.

Tiba-tiba Tifany membenci hari Jumat. Padahal pada hari Jumat ia bisa pulang lebih cepat dan tidak terdesak dengan jadwal kuliah, belum lagi hari Jumat akan mengantarkannya ke hari Sabtu yang tentu saja meliburkan para mahasiswa. Tetapi tetap saja Tifany tidak terlalu senang menjalaninya kini. Dan hari ini ia harus melewatinya lagi.

Pandangannya jauh menembus langit. Semua kenangan seakan terkuak kembali. Kenangan yang indah ataupun yang mampu menyayat hati. Tiba-tiba ia merindukan sentuhan lembut itu. Sentuhan lembut seorang Ariel. Sentuhan di atas kepala, mengacak-acak rambutnya. Ia merindukan seulas senyum indah dan begitu ikhlas. Ia merindukan pandangan bersahaja yang walau tanpa kata mengisyaratkan ribuan makna. Ia merindukan cerita sehari-hari yang meski wajar tetapi tetap mengasikkan untuk dinikmati. Ia merindukan susunan kata lembut, rutinitas sebelum tidur yang mampu membuatnya terlelap dan larut dalam mimpi indah. Tidak seperti sebulan terakhir, yang membuatnya sulit tidur.

Tifany menggeleng, rambutnya pun mengikuti gerakan kepalanya. Dulu, ia tahu, semua itu terlarang untuknya, terlarang oleh peraturan yang dibuatnya sendiri, terlarang oleh masa lalu yang pernah dialaminya. Meski sulit untuk menghapusnya tetapi Tifany sadar, lelaki itu terlalu hebat untuk dirinya. Walaupun sebenarnya peraturan itu bisa lebih fleksibel tetapi Tifany ragu.

Ia memustuskan untuk tidak lagi menemui Ariel. Ia tidak ingin semuanya akan berlanjut dalam kisah yang lebih jauh. Disisi lain, Ariel pun ikut menghindari Tifany, entah mengapa. Seharusnya Tifany senang dengan kondisi seperti itu, tetapi di lubuk hatinya yang lain, ia merasa kehilangan. Bayangan Ariel kerap menghampirinya. Mengganggu siangnya, menghantui malamnya. Ia merindukan sosok itu, ia mengkhawatirkannya, ia merisaukannya, ia selalu ingin mengetahui kabar tentangnya. Upaya menghindar yang dilakukannya rupanya berdampak pada kegiatannya yang lain, dirinya diliputi rasa risau, gelisah dan juga sedih.

Masih tersimpan rapat dalam ingatannya, lelaki itu menarik tangannya kemudian menggenggamnya erat. Tifany berusaha menarik tangannya namun entah kekuatan apa yang membuatnya tiba-tiba tak berdaya ketika bercermin di mata Ariel. Dengan tatapannya yang tajam dan pandangannya yang dalam ia berkata dengan kalimat singkat, “Saya khawatir. Hanya itu!” Kalimat itu diucapkan Ariel dan dengan kelembutan bahasa tubuh, mengangguk lalu menutup mata sejenak kemudian membukanya dan menarik nafas panjang, mengajak Tifany untuk pulang. Seolah terhipnotis Tifany mengikuti lelaki itu, duduk di sadel motor dan kembali ke rumahnya. Kenangan itu menghadirkan rasa yang sulit terdefinisi.

Air matanya tiba-tiba menggaris, menghadirkan siluet irisan silet di pipinya. Ia tak kuasa menghadapi kenyataan ini. “Mengapa kau baru hadir sekarang?” Tanya Tifany dalam hati ketika itu.

Kemana kau selama ini?
…………..
Ternyata baru sekarang, kita dipertemukan
………….
Jika berulang kembali
Kau tak akan terlewati
Walau terlambat
Kau tetap yang terhebat
Melihatmu… Mendengarmu… Kau lah yang terhebat
(SOS – Yang Terlewatkan)

***

Jumat semakin senja, Tifany masih duduk di atas batu besar itu, menghempaskan kakinya bebas dan mengayun-ayunkannya, membiarkannya basah oleh percikan air laut. Sedangkan angin laut terus menerpanya, menyapa tiap helai rambutnya yang tergerai.

Entah tempat apalagi yang harus dia datangi untuk menghapus segala penatnya. Makassar sudah dipenuhi dengan gedung-gedung yang hanya akan membuat kita merasa semakin penat di dalamnya. Akhirnya ia memutuskan memilih tempat ini, meskipun ia sadar tempat ini akan membuat kenangan itu kembali menguap. Tetapi ia betul telah suntuk dengan segalanya, suntuk dengan skripsinya yang masih terbengkalai, suntuk dengan perasaannya, suntuk dengan pikirannya.

Dulu disini tak lebih dari sekedar tempat pelarian Tifany. Disaat dia sedang suntuk dan hendak bercinta dengan alam, sebuah pantai yang masih alami. Sebuah pantai yang lebih bersahaja daripada Pantai Losari, kebanggan masyarakat kota ini, yang tampak congkak dengan betonnya serta telah kehilangan kealamiannya. Disini, Tifany bisa menikmati wewangian pasir bercampur garam yang begitu khas, bebatuan yang terus diterpa ombak, angin yang begitu ramah menyapa, dan proses lautan menelan bola raksasa itu sangat berbeda dari pantai lain yang ada di kota ini. Dan satu lagi, Tifany menyukai keadaan “tenang” di tempat ini, yang meskipun dikunjungi banyak orang tetap saja meninggalkan kesan itu. Sejak dulu, Tifany mencintai kesendiriannya.

Orang-orang menyebutnya Pantai Layar Putih namun di karcis retribusi tertulis Pantai Bayang. Apapun namanya, Tifany tidak peduli. Dia hanya ingin menikmatinya.

Seharusnya ia bisa dengan mudah menyelesaikan skripsinya jika skripsi seperti kata orang hanya masalah referensi, metode dan data. Tetapi rupanya tidak hanya itu, karena skripsi juga masalah keinginan untuk mengetiknya, keinginan untuk menyelesaikannya. Tetapi komitmen itulah yang telah lama menghilang dari jiwa Tifany, ia telah melarikan diri entah kemana. Ia harusnya bisa berubah dari ulat menjadi kupu-kupu, tetapi hari ini ulat itu hanya mampu menggeliat dan tampak berjalan lemas.

Tifany membawa beberapa gerai rambutnya kebelakang kepala dengan jari mungilnya lalu membiarkan tangannya bertengger di atas sana sejenak. Ingin rasanya ia segera meninggalkan hari Jumat tetapi waktu serasa letih untuk berlari, ia terlalu kuyuh dan sangat lunglai meninggalkan detik.

Dulu, hari jumat memang indah. Pada hari itu, Ariel selalu tampil lebih lebih menarik meninggalkan kesan semrawutnya di hari yang lain. Ia akan ke kampus dengan kemeja rapi dan celana yang bersih. Rambutnya pun tertata dan tidak berantakan lagi. Selalu saja begitu, Ariel seakan ingin memperlihatkan penampilan terbaiknya di hari Jumat. Menawan. Bahkan tak jarang Tifany tak bisa memungkiri bahwa penampilan Ariel di hari Jumat mampu menarik perhatiannya.

“Saya ingin memperlihatkan tampilan terbaikku ketika menghadap Allah hari ini” begitu Ariel menyampaikan alasannya pada Tifany.

Dan hari jumat membuat Tifany selalu mempersiapkan diri. Hatinya selalu tak karuan karena sore ataupun malam ia akan menghabiskan waktu bersama temannya itu. Dan hari jumat akan menjadi awal sebuah akhir pekan yang indah.

***

Sore ini, beberapa helai selendang awan kembali nakal, tampak egois menutupi bias sang mentari. Kini tempat ini tidak lagi hanya milik kesendiriannya, tetapi juga milik kenangannya bersama Ariel. Setiap ia menghabiskan waktu disini bersama lelaki itu, selalu saja ada awan nakal yang menghalau mereka memandangi warna jingga yang dihasilkan mentari, dan sekali lagi kenangan itu menggugah hati Tifany. Ada sebuah kisah yang coba timbul tenggelam di memori otaknya. Menggugah dan menggedor kesadarannya.

Sebuah Kuasa membuatnya berkenalan dengan Ariel. Meski mereka sekampus, tetapi mereka tidak dipertemukan semudah itu. Sebuah skenario yang tidak mereka mengerti tiba-tiba saja membuat mereka memainkan sebuah peran dalam sebuah drama. Sang sutradara, Sang Maha Kuasa, terus mengarahkan mereka melalui hari-hari yang menyenangkan sekaligus mengundang banyak tanya. Makin lama, mereka mencoba menikmati permainan itu, memainkan peran mereka masing-masing dengan baik dan sempurna. Sebuah drama persahabatan pun berubah menjadi romansa dan sekali lagi mereka adalah pemeran utamanya.

Cinta pun menguasai hati dan pikiran. Cinta seakan membutakan mata. Walaupun membahagiakan ataupun menyengsarakan, tetap saja dia disebut cinta. Dan di kala ia melenakan, kitapun sangat takut kehilangan. Seperti Tifany yang takut kehilangan Ariel.

Disaat Tifany berusaha menjauh, bayangan Ariel semakin dekat. Rasa itu menyesakkan Tifany karena ia mencoba melawannya. Semakin ia melawan rasa itu semakin kuat perlawanan dalam dirinya. Alam bawah sadarnya pun terus berperang. Kekuatannya seakan sirna dan airmatanya pun terus meleleh. Rasa ini seharusnya tidak dilanjutkan tetapi….

Tifany kembali mengingat skripsinya. Bayangan literaturnya yang berantakan di atas meja terus melintas mengganti hamparan langit di depannya. Setiap ia ingin mengetik, selalu saja ada yang menganggunya, menganggu ketenangannya, menganggu pikirannya. Ketika komitmen untuk menyelesaikannya telah menghilang, kini semangat yang bisa memotivasinya untuk membangkitkan komitmen itu, juga telah lenyap. Hilang. Mungkin juga bersembunyi. Entahlah.

Kalau alam bawah sadarnya berperang, seharusnya dirinya juga berperang dengan skripsinya.

***

Tifany masih juga terduduk dan berperang dengan kesendiriannya. Ia perempuan, dan ia akan dipilih, begitulah anggapan orang. Namun bagi Tiffany, ia memang perempuan tetapi bukan berarti ia tak punya hak memilih. Dan dia memilih untuk sendiri.

Langit mulai diselimuti gelap. Tifany berdiri dari tempat duduknya, mencoba melangkah diiringi desiran angin yang menerbangkan helain rambutnya. Langkahnya terasa berbeda sesaat memijak pasir pantai. Diambilnya sebuah ranting pohon yang tergeletak bebas dan menuliskan sesuatu di atas pasir. Tifany tidak ingin mengakhiri kisah ini, tetapi dia ingin melanjutkannya dengan skenarionya sendiri. Ia ingin sendiri.

Tifany meninggalkan Pantai Bayang, Pantai Layar Putih, meninggalkan hari jumat dan juga meninggalkan kenangan disana. Dipunggunginya bias mentari yang masih tersisa juga tulisan yang dibuatnya di atas pasir yang telah dijilat oleh lautan.

Biarkan aku menjaga perasaan ini.

0 thoughts on “Penjaga Hati

  1. daunkelor

    coretanmu kebelakangan ini sepertinya berhadapan dengan keputusan famili ta’ yg kurang anda setujui…..moga diberi petunjuk dan ketenangan.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *