Ebit-Febrianto apakah Korban (…)?

Febrianto

Ebit pada acara IBB  2006 (Foto Koleksi Inart)

Akhir-akhir ini Febrianto atau yang akrab kami sapa Ebit, mahasiswa jurusan Teknik Sipil Unhas angkatan 2004, menjadi sorotan media. Media lokal kerap memberitakannya di halaman pertama. Meski tak begitu akrab dengannya tetapi ada ikatan emosional yang terbangun di antara kami. Dia saudaraku, bersamanya aku menjalani Pozma, menjadi panitia Inagurasi, suka duka melalui IBB, hingga menjadi panitia Pozma. Bahkan kegiatan yang lebih dari itu yang membuat kami punya ikatan moral.

Di kamar rumah sakit ia terbaling lemah kontras dengan semangatnya yang tidak juga melemah. Ia masih tetap kuat menghadapi perjuangannya. Meski badannya terkulai dia tetap mampu berdiskusi panjang bersama kami. Ia tetap tangguh. Ia tetap tegar. Meski harus ia akui bahwa seluruh badannya masih juga sakit.

Bagaimanapun kekerasan yang di lakukan oleh oknum polisi tak dapat dibenarkan. Media telah memperlihatkan bagaimana oknum polisi itu memperlakukan Ebit. Menendang, menginjak, menjambak rambutnya, hingga mematahkan tulang kaki dan hidungnya. Ironis dan sungguh mengiris hati. Tidakkah anggota militer itu memiliki nurani?

Dan…

Dosen dan birokrat bukan makhluk yang independen, karena sesungguhnya mereka tergantung pada penguasa di atasnya. Penguasa pun bermacam-macam ada yang berkedok negara, modal hingga pasukan serdadu. Apakah peristiwa ini adalah manisfestasi terhadap sebuah manajemen konflik yang telah lama dirumuskan? Entahlah. Perlu analisis yang panjang untuk itu.

Jelasnya, kedua kelompok itu ibarat seorang ahli bedah, mereka muncul lewat “sikap objektif” dengan menyayat tubuh pasien dan mereparasi organ tubuhnya. Tanpa belas kasihan, tanpa nurani, untuk sebuah eksistensi diri mereka.

Bersambung…

0 thoughts on “Ebit-Febrianto apakah Korban (…)?

  1. Agsa

    rupanya….. negeri ini memang milik …..
    para penindas
    para koruptor
    para penipu
    bahkan agamapun terkadang diperalat………
    turut berduka atas tragedi teman-teman di Unhas
    from bandung

    Reply
  2. rahmat

    sbgai zenior,sy trut prihatin dgn musibah yg dialami dinda ebit.tiada kesan tanpa makna,stidakx kjadian ini mjdi plajaran brharga utk zluruh ANTEK utk tdk trlalu reaktif (kjadian itu hari kan krn adanya provokasi oknum luar).
    We are the champion…!

    Reply
  3. febrianto

    satu hal yang tak pernah luput dari pikiran saya
    andaikata saya tidak bertahan di tugu pada hari itu, apakah ada orang yang menjamin para aparat tidak masuk hinggah tengah kampus, apakah adayang bisa menjamin tidak banyak korban seperti saya. saya rasa tidak ada seorang pun yang bisa menjamin.
    biarkan saya menjadi korban pada hari itu, saya rela asalkan eksistensi dan kredibilitas saya sebagai senior yang menjaga juniornya atau bahkan sandanggan sbagai mahasiswa unhas yang mencintai kampusnya tidak tercoreng oleh rasa takut dan masa bodoh

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *