Panti Asuhan Chendekia: Tidur Hanya Beralaskan Lantai

Sore itu hampir sama dengan sore lainnya di bulan ramadhan. Kami menanti saat berbuka dengan beberapa teman-teman di Mapala09. Perbedaannya terletak pada tempat serta suasanya. Hari ini, Rabu 24 September 2008 kami telah merencanakan untuk berada disini, anjang sana sekaligus berbuka puasa bersama kawan-kawan yang berada di panti asuhan Chendekia, Jalan Kampus UVRI Lr.3 No. 12, Antang.

Langit begitu cerah sore itu. Di atas pete-pete yang kami sewa, kami begitu bersemangat saat membaca sebuah papan yang sudah usang bertuliskan “Panti Asuhan Cendikia 50 meter” diikuti tanda panah. Sang sopir pun melakukan manuver memasuki gang kecil beralas paving blok, tak beberapa jauh, kami pun di sambut beberapa anak lelaki yang mengarahkan kami untuk berbelok ke kanan.

Gedung Panti Asuhan Chendekia

Di atas hamparan tanah coklat, melintang tali jemuran yang menahan pakaian, disanalah kami memarkir kendaraan. Tampaklah sebuah rumah bertingkat dua yang terlihat seadanya. Sebuah panti asuhan yang berdiri sejak tahun 1994. Jika di lihat sekilas, rumah itu tampak seperti kos-kos yang terbagi-bagi atas beberapa kamar yang pintunya berhubungan langsung dengan dunia luar. Awal dibangunnya tempat ini, pengurus dijanjikan dana setelah 2 tahun berdiri, namun hingga umur panti tersebut memasuki usia 14 tahun, dana untuk perbaikan gedung belum juga cair. Hingga membuat mereka tak lagi memikirkan keadaan fisik gedung, mereka lebih konsentrasi memikirkan mencari dana untuk sekolah dan makan sehari-hari.

Salah satu kamar di lantai 1

Bangunan lantai satu tersusun dari bata yang belum di plester, beberapa ruasnya di cat bewarna putih, meskipun hal tersebut tetap tak mampu menyembunyikan bata yang tersusun. Bangunan itu terbagi dalam beberapa ruangan yang tidak sama besar yang dijadikan sebagai kamar, melihat ke dalam ruangan satu-satu, bangunan itu tampak belum selesai di kerjakan. Beberapa bagian tampak kekurangan bata, memperlihatkan wajah langit yang biru di kala siang dan pekatnya di kala malam. Di dalam ruangan-ruangan yang beralaskan semen itulah tempat beberapa anak menikmati mimpinya di kala malam, tanpa spring bed, tanpa kasur, tanpa tikar, tanpa alas tidur, menyatu dengan dinginnya tembok.

Lantai dua, hanya berdinding seng seadanya dan berlantai papan-papan yang tak rapat. Sela antara papan satu dan lainnya begitu besar hingga kita mampu mengintip segala sesuatu yang terletak di bawah, yang sebenarnya tidak ada apa-apa selain lantai semen. Hanya tripleks yang digunakan untuk memisahkan ruangan satu dan lainnya. Bangunan itu tampak rapuh hingga membuat kami sedikit takut untuk memijaknya. Tetapi kekhawatiran itu terlalu berlebihan karena kenyataannya bangunan itu mampu menampung kami dan 38 anak serta pengurus panti asuhan tersebut.

Disinilah kami akan menikmati sajian buka puasa sore ini, di sebuah panti asuhan yang bangunannya tak lebih dari sebuah kandang hewan. Kondisi tempat tinggal itu, kontras dengan perumahan elit, Bukit Baruga – yang dilengkapi dengan taman yang luas, sejuk dan asri, dan bangunan megah nan mewah bercat warna warni. Apakah mereka yang tinggal disana menyadari kehadiran mereka? Mungkin tidak atau mungkin ya namun mereka tidak peduli. Yah , inilah Indonesia, sebuah pemandangan yang terasa sangat lumrah ketika si kaya dan si miskin, mewah dan kumuh dapat tinggal bersebrangan.

Melihat kedatangan kami, anak-anak itu segera bersiap. Anak perempuan memakai kerudung sedangkan anak lelaki memakai kopiah. Mereka duduk bersama kami di sebuah ruangan di lantai dua, tak jauh dari tangga. Ruangan itu tampak seperti balkon, tetapi tak juga dapat di katakan seperti itu. Ingin disebut aula, tetapi terlalu sempit. Di ruangan itulah, pengurus menerima tamunya. Ada satu set sofa sederhana beserta meja tamu, selain itu ada meja kerja bercat pink. Ruangan itu di batasi dengan tripleks dengan kamar di sebelahnya, sedangkan sisi lainnya tak berdinding, hanya ada seng yang membatasi setinggi satu meter sehingga angin sepoi-sepoi begitu terasa menerpa. Di dinding tripleks itu terdapat struktur organisasi yayasan, profil anak asuh serta beberapa foto-foto kegiatan lainnya.

Berbuka puasa bersama

Suara azan pun menggema dari sebuah mesjid tak jauh dari tempat itu. Ibu Miranda, pengurus panti asuhan, pun mengarahkan anaknya untuk membaca doa. Suasana terdengar riuh. Suara anak-anak berdoa saling sahut-sahutan. Beberapa anak membacakan doa sebelum makan sehingga membuat acara berdoa untuk berbuka puasa itu menjadi kacau tetapi juga mengundang tawa. Sejenak mereka diam, lalu saling pandang, seolah mengatakan “Doamu salah” dan tak beberapa lama merekapun serempak membacakan doa dengan lafaz yang sama.

Kami menyatu dengan mereka menikmati es buah yang kami buat setiba di rumah ini tadi. Mereka menyantapnya dengan lahap. Beberapa kue yang kami sajikan juga mereka nikmati. Beberapa anak-anak tampak malu-malu tetapi yang lainnya tak segan untuk meminta tambah. Setelah beberapa orang telah menghabiskan es buahnya, sang Ibu pun menyuruh mereka bergegas untuk berwudhu dan melakukan shalat berjamaah.

Shalat berjamaah di lakukan di “dalam rumah”, di sebuah ruangan yang langsung berbatasan dengan dapur dan sebuah kamar. Seorang anak bertindak sebagai imam. Setelah shalat usai mereka beramai-ramai sungkem kepada Bapak Haris, juga pengasuh Panti Asuhan itu. Meraih tangannya dan menciumnya. Hal tersebut juga mereka lakukan terhadap kami, yang sempat membuat kami kikuk, antara kaget dan malu saat mereka satu-satu menyambar tangan kami dan menciumnya atau menempelkan di keningnya.

Kami kembali berkumpul di ruangan depan, tempat kami berbuka puasa tadi. Dos makanan mulai kami bagikan satu per satu. Suara anak melafazkan doa sebelum makanpun terdengar menggema, terpantul di hamparan langit yang telah menghitam. Setelah doa berakhir, kami pun larut menikmati makanan malam itu.

Setelah kenyang kamipun bercanda bersama anak-anak itu, berfoto bersama. Satu anak yang membuat kami tertarik. Mei, begitulah mereka memanggilnya. Anak yang belum genap 3 tahun itu berada di tempat ini ketika umurnya baru 3 bulan. Kulitnya putih tampak menawan di antara jilbab putih yang dikenakannya, matanya bulat dan menyejukkan, bibir tipisnya begitu memikat kala tersenyum dan menampakkan pipinya yang tembem. Dagu kecilnya mencuat ke depan. Menggemaskan. Menurut informasi dari Ibu Miranda, ayah Mei telah meninggal dan ibunya entah dimana. Kami mengendongnya dari tangan satu ke tangan lainnya.
”Mau ikut sama kita?” Tanya kami.
Teaja!” (Saya tidak mau!) Jawabnya segera.

Mei yang pandai bernyanyi

Beberapa anak lainnya mengatakan bahwa Mei juga pandai bernyanyi. Lalu kami mengajaknya bernyanyi lagu pelangi-pelangi, tetapi dia tak membuka mulutnya. Kami mengganti lagu menjadi bintang kecil, dia tak juga mau bersenandung. Rupanya ia lebih pandai menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang populer seperti lagu ST12 atau kangen Band. Begitu malangnya anak-anak sekarang yang tidak mempunyai materi lagu yang sesuai dengan umurnya. Ataukah mereka yang tak tertarik dengan lagu anak-anak? Bisa jadi, karena media yang kerap menampilkan lagu dewasa dan tak ada lagi yang menggunakan kreatifitasnya untuk menciptakan lagu anak-anak.

Tak terasa waktu telah hampir berakhir, kami harus segera meninggalkan tempat tersebut karena mereka akan melaksanakan shalat tarwih. Secara simbolis bantuanpun di serahkan dari Rahmat Upi, Ketua Mapala09, kepada Pengurus Panti Asuhan tersebut. Beberapa kasur mudah2an bisa membuat mereka lebih nyaman tidur di malam hari. Juga beberapa pakaian layak pakai dan persediaan makanan.

Kami pun mengucapkan salam, mereka menghaturkan terima kasih. Tangan kamipun saling berjabat dan perpisahanpun tiba. Kamipun meninggalkan tempat itu. Cerahnya langit sore tadi, telah tertutup selimut hitam malam. Suatu hari nanti, kami ingin kembali ke tempat ini. Memberikan hal yang lebih daripada apa yang kami berikan hari ini. Amin.

0 thoughts on “Panti Asuhan Chendekia: Tidur Hanya Beralaskan Lantai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *