Ibu Rumah Tangga

Sepuluh tahun yang lalu, tak pernah sedikit pun terlintas hari ini saya menjadi seorang ibu rumah tangga sejati. Seharian di rumah mengerjakan segala kegiatan rumah tangga, mengurus anak, mengurus suami dan segala kegiatan lain di rumah. Dalam bayangan masa mudaku, hari ini saya telah menjadi seseorang yang sukses dalam karir, mapan secara ekonomi dan berbahagia dengan keluarga kecilku. Dua capaian terakhir mungkin telah teraih, tapi sukses dalam karir?

Tiga tahun yang lalu saya merasa berada di titik terendah dalam pencapaian karir dengan latar belakang pendidikanku. Latar belakang pendidikan yang membuat orang tuaku tersenyum bangga. Saya kehilangan gairah untuk mencapai puncak tertinggi dalam karir itu, hati nuraniku terus berbisik agar saya berbelok ke arah lain yang seharusnya menjadi passionku. Hati dan pikiranku bergejolak, dilema untuk memilih.

Perlahan, saya memasuki dunia baru. Dunia yang jauh lebih menarik untukku, dunia cooking, baking, desain dan photography dalam satu kegiatan sekaligus. Yah, saya memasuki dunia bisnis kue. Dunia tersebut membuatku sangat tertarik dan bersemangat. Meskipun beberapa orang mencibir pilihan itu, tapi saya tetap menikmatinya. Saya menjalaninya dengan segala suka cita.

Hingga akhirnya Tuhan menganugerahkan kehamilan untukku. Kehamilan yang telah ku nanti selama 2 tahun. Mabok luar biasa di awal kehamilan membuatku harus berhenti dari bisnis yang telah ku bangun. Setelah melahirkan, bisnis itu stagnan bahkan cenderung menurun. Bahkan hasilnya menjadi sangat buruk. Seringkali saya tidak dapat berkonsentrasi mengerjakan dekorasi kue karena mendengar anakku menangis dan hasilnya kue gagal atau dekorasinya yang rusak. Semuanya diperparah oleh alat yang rusak satu persatu.

Akhirnya hari ini saya menjadi ibu rumah tangga sejati. Tidak ada lagi kegiatan lain selain kegiatan di rumah. Jujur saya sangat merindukan pola hidup yang dinamis. Pergi kemanapun saya mau, melakukan hal-hal baru, dan mengenal lebih banyak orang. Tetapi segala ego itu harus ku redam dulu, hingga anakku sudah cukup besar untuk memahami ibunya juga butuh eksistensi.

One thought on “Ibu Rumah Tangga

  1. Pingback: Inart's Story - Tampil Keren dengan Bermain Game Fashion -

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *