Mandiri setelah Menikah

image

Pisang itu bakal tumbuh subur kalo dipisahkan dari induknya.

Pisang adalah tanaman yang berkembang biak dengan tunas yang tumbuh disamping pohon induknya. Ternyata, tunas baru pisang tersebut, akan tumbuh lebih cepat, lebat, dan berbuah subur kalau tunasnya dipotong dan dipindahkan dari samping induknya.

Satu hal lagi yang membuatku makin mengagumi suamiku, dia sosok mandiri. Sejak mengenalnya dia selalu berusaha memenuhi kebutuhannya secara mandiri termasuk segala persiapan pernikahan kami. Kami sama-sama memiliki rasa “tidak enakan” merepotkan orang lain. Oleh karena itu segala persiapan pernikahan kami lakukan berdua. Segala persiapan mulai dari hal kecil hingga besar kami siapkan bersama. Kami saling menutupi kekurangan masing-masing. Maka terselenggaralah pernikahan sesuai selera kami berdua, bukan selera orang lain. Kami “menikah” bukan sekedar “dinikahkan”. Dan proses persiapan itulah yang membuat kami semakin dekat karena melewati banyak masa sulit bersama, saling mengisi dan melengkapi.

Setelah menikah, kami sudah sepakat untuk langsung hidup mandiri dengan tinggal terpisah dari orangtua kami masing-masing. Walaupun tinggal di rumah kontrakan kecil, bagi kami itu jauh lebih baik daripada tinggal di rumah besar dan masih tergantung pada orang tua.

Banyak hal positif yang kami dapatkan dengan tinggal berdua saja.

Lebih Mandiri
Dengan hidup berdua kami menjadi keluarga yang lebih mandiri, karena bagaimana mempertahankan hidup ada di tangan kami. Segala hal dari kecil hingga besar, dari A sampai Z diurus oleh kami berdua saja tanpa mengandalkan bantuan orang lain. Dengan melepaskan ketergantungan dengan
orang tua, kami pun belajar cepat dari proses yang kami alami setiap hari. Kami belajar bekerja lebih keras. Kami belajar berpikir lebih cerdas.Kami bisa cepat belajar jadi keluarga utuh yang bisa diandalkan oleh anak-anak kami kelak. Pada awalnya memang agak sulit, tapi seiring waktu kami terus belajar dan mulai terbiasa.

Selain itu, kemandirian juga terasa karena lingkungan kami lebih mengenal kami sebagai keluarga utuh dengan tinggal di rumah terpisah dari orang tua. Kami lebih cepat dikenal sebagai Asrul dan Nyonya, bukan lagi sebagai anaknya Bapak. Orang lain lebih mengenal saya sebagai istri Asrul dan Asrul telah dikenal sebagai suami Winarni. Dengan begitu suamiku pun bisa berperan dan bertanggung jawab penuh pada istrinya dan anak-anaknya nanti. Alhamdulillah, sejauh ini, suamiku melaksanakan perannya itu dengan sangat baik. Dari awal mengenalnya, saya yakin dia sosok yang bertanggung jawab. Orangtuaku tidak salah mengizinkan dia bertanggung jawab untuk dunia akhiratku. Begitu pun saya sebagai istri, bebas mengambil keputusan mengenai “masa depan” kami tanpa intervensi dari orang tua dan tidak ada lagi yang berani mengganggu karena mereka tahu saya telah bersuami cowok yang ganteng. Hehe 🙂

Makin Menyayangi Orangtua
Bagaimana sulitnya perjuangan orang tua kami dulu, paling tidak akan kami rasakan. Kami merasakan bagaimana kondisi orangtua kami masing-masing waktu kami masih kecil. Jika mengingat pengorbanan tersebut dan merasakan apa yang kami alami saat ini, kami menjadi lebih bersyukur dan lebih sayang orang tua. Yah, dengan berada di posisi mereka, kita menjadi lebih paham apa dan bagaimana sebuah keluarga. Kamipun menjadi makin rajin mendoakan mereka karena mengingat jasa-jasa mereka melahirkan, merawat dan membesarkan kami hingga seperti saat ini.

Makin Saling Mencintai
Kalau ini jangan ditanya lagi. Tiap hari menjalin komunikasi, tiap hari saling membangun harapan, tiap hari sama-sama menyelesaikan masalah, tiap hari saling memanjakan, tiap hari saling menerima dan berbagi kasih sayang, tiap hari berduaan tanpa ada orang yang mengganggu. Kami tak perlu khawatir, penghuni rumah lain bertanya kenapa kami tidak keluar kamar sepanjang hari..

Kebersamaan itu membuat kami makin mengenal satu sama lain. Tiap hari ada hal baru yang kami ketahui tentang pribadi masing-masing. Tiap hari kami belajar menerima kekurangan dan mengagumi kelebihan masing-masing. Bahkan senyuman dan kedipan mata memiliki arti tersendiri yang hanya kami ketahui.

Tiap hari ada motivasi dan inspirasi yang saling kami tularkan untuk menjadi lebih baik. Tiap hari kami saling menguatkan. Tiap hari kami makin yakin akan cinta kami. Saat ada salah satu diantara kami yang sakit, kami saling merawat. Keberduaan tersebut sungguh sangat banyak manfaatnya membuat kami makin cepat menyatu menjadi keluarga yang utuh.

Menurut kami, tinggal bersama sangat penting untuk membangun pondasi keluarga kami. Siapa bilang, kasih sayang saja tidaklah cukup? Menurut kami, kasih sayang saja sudahlah cukup. Karena kasih sayang, kami selalu ingin melakukan segalanya bersama-sama, karena kasih sayang kami berusaha menjaga komitmen cinta kami, karena kasih sayang kami berusaha bekerja lebih keras untuk mempertahankan kehidupan kami. Kalau ada yang mengatakan kasih sayang saja tidak cukup, dia perlu belajar lagi arti sebuah kasih sayang.

Bagaimanapun sulitnya, bukankah mandiri setelah menikah jauh lebih baik? Tidak lagi tergantung pada orang tua. Bukankah Allah yang mengatur rezki? Kita hanya perlu berdoa dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan untuk menjadi keluarga mandiri hanya dibutuhkan kemauan dan tindakan.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui

13 thoughts on “Mandiri setelah Menikah

  1. Pingback: Inart's Story - 20-11-2016 -

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *