Blog : Mengisi Ruang Kosong

Internet bagi saya adalah dunia maya yang hidup, dunia maya yang begitu nyata. Bumi yang besar ini menjadi begitu kecil di internet. Ungkapan, “semuanya ada di internet” pun seolah di amin-i banyak orang. Namun teori itu sering kali terpatahkan saat browsing dan saya tidak menemukan sesuatu yang betul-betul saya cari. Berangkat dari hal tersebutlah saya terdorong untuk membuat blog. Selain sebagai media aktualisasi diri, melalui blog pulalah saya berharap bisa melengkapi apa yang belum ada di internet.

Sejak kecil saya sulit mengungkapkan sesuatu melalui suara dan ini mengawali saya untuk mengungkapkannya lewat tulisan. Meskipun kemampuan menulis saya, hingga saat ini, bisa di bilang jauh dari standar suatu tulisan yang baik. Tetapi motivasi berupa kalimat, “kalau mau belajar menulis, menulislah!” seolah menjadi pintu lebar bagi saya untuk tetap menulis. Mulai dari merobek pertengahan buku lalu menulis sesuatu di atasnya seperti zaman sd dan smp dulu hingga sekarang menulis dengan menggunakan media blog. Setidaknya melalui tulisan tersebut saya bisa memudahkan orang yang kesusahan, memberi tahu orang-orang yang belum tahu, mengingatkan bagi yang lupa, dan menyadarkan orang yang tidak sadar

Namun, mempublikasikan suatu tulisan di internet bukanlah suatu perkara yang mudah seperti menulis di kertas pertengahan buku. Menulis di internet sama dengan membiarkan orang lain bebas membaca dan menjadikannya sebagai suatu referensi. Setiap orang bisa menyampaikan kabar paling segar dan mutakhir lewat situs pribadinya tersebut

Hingga pada suatu hari di bulan agustus 2006 saya menyempatkan diri membaca rubrik tamu di bz!, majalah online yang dikelola www.blogfam.com. Disinilah akhirnya saya menemukan http://www.panyingkul.com. Dengan konsep jurnalisme orang biasa, web ini mampu membangkitkan rasa percaya diri saya untuk mendaftar sebagai citizen reporter. Tentu saja hal ini tidak jauh dari visi saya sebelumnya, melengkapi apa yang belum ada di internet.

Menilai diri sendiri dengan indikator yang tidak jelas membuat saya terpenjara akan penilaian sendiri tentang apa yang disebut dengan tulisan yang berkualitas. Hal ini yang membuat saya meluruskan tekad untuk bergabung dengan beberapa komunitas penulisan. Meskipun menjadi “anak bawang” saya tetap bertahan dengan komunitas-komunitas tersebut. Prinsip saya sederhana saja, lebih baik bodoh diantara orang yang pintar daripada pintar diantara orang bodoh, lebih baik malas diantara orang rajin daripada rajin diantara orang malas. Dari komunitas tersebutlah saya memahami bahwa tulisan yang kita publikasikan melalui media internet juga butuh akurasi, ada etika serta kaidah jurnalistik yang harus kita pahami, sehingga kredibilitas kita sebagai seorang blogger tidak perlu dipertanyakan lagi karena apa yang kita informasikan bisa dipertanggungjawabkan.

Suatu hari saya juga ingin berkompetisi dengan mereka, namun bagaimana saya bisa berkompetisi bila tak punya kompetensi? Hal inilah yang membuat saya tertarik membuat tulisan ini, berkompetisi dan membuka peluang menggali potensi. Potensi yang bisa membuat “anak bawang” seperti saya melengkapi ruang kosong internet dengan tulisan yang bertanggungjawab sehingga saya bisa memudahkan, memberi tahu, mengingatkan bahkan menyadarkan orang lain.

Di awal tahun ini saya berharap menjadi awal lahirnya tulisan-tulisan baru yang lebih berkualitas di halaman blog ini. Amien

One thought on “Blog : Mengisi Ruang Kosong

  1. Pingback: Nge-Blog « ..:: More Than Just Experience ::..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *