Belajar Menghargai Karya

 D
Bagi sebagian orang, foto yang telah diunggah di dunia maya sudah menjadi foto milik umum, sapa saja bisa menggunakannya tanpa tahu dan mengerti bagaimana proses sehingga foto itu ada di layar komputer atau hapenya. Mereka tidak peduli dengan prosesnya. Bagaimana mengatur lighting, bagaimana memilih dan menyusun properti, bagaimana mengambil gambar berulang kali hingga mengeditnya yang memakan waktu, bagaimana suasana di balik foto itu yang terdengar anak bayi menangis karena merasa waktu bersama mamanya di”pinjam”.

Bagi mereka jika foto itu bagus, mereka bisa menggunakan seenaknya dan tanpa izin, tanpa mencantumkan siapa yang menghasilkan foto itu bahkan seenaknya menghapus watermark.

Hari sabtu yang lalu, saya lagi malas masak dan ingin mencoba black burger yang lagi hits di Makassar saat ini. Saya pun memesannya via bbm dan meminta gojek mengambilnya. Rupanya driver gojek baru itu tidak tau tempatnya dan tidak berinisiatif mencarinya. Berhubung karena pulsanya tidak ada, jadi saya yang berulang kali menghubunginya hingga akhirnya menemukan alamat yang dituju. Dua jam sejak order, blackburger itu baru tiba di rumah. Sampai disini, prosesnya sudah lama dan panjang dan memerlukan banyak pengorbanan.

Karena suka dengan bentuknya yang fotogenik, saya pun tertantang untuk memotretnya, tentu saja dengan kamera hape karena hanya itu yang tersedia. Saya pun mengatur studio odong-odong sedemikian rupa untuk menghasilkan foto dengan mood yang saya inginkan. Dan karena anakku sudah bangun, beberapa kali saya berhenti karena dia datang mencari perhatian. Setelah berulang kali mengambil foto, akhirnya ada satu yang menarik. Sebagai bentuk penghargaan pemilik black burger itu, saya mengambil foto lagi dengan menempatkan labelnya. Murni niatnya hanya sebagai tanda terima kasih saja. Sang pemilik pun merepost foto saya di instagramnya besok harinya.

  Kemarin, saya dibuat kecewa karena pemilik cafe yang menyajikan black burger itu, menampilkan foto saya dalam iklan eventnya tanpa izin dan menghapus watermarknya. Mungkin saya bisa saja berbangga karena itu berarti dia mengakui foto saya layak di publikasikan. Mungkin bagi dia itu hal yang biasa. Tapi saya tetap saja sedih karena tidak dihargai. Dia tidak menghargai setiap proses yang saya tuliskan di atas.

 Saya pun mengomentari foto itu. Dan dia menjawabnya seakan bercanda. Saya pun membalasnya dengan nada bercanda tapi jawabannya seolah-olah saya meminta sogokan. Seperti gambar di atas. Dia tidak merasa bersalah sama sekali. Ini bukan masalah sogokan, bukan masalah beli sendiri bukan diendorse, bukan masalah fotonya sudah di aplot di dunia maya, tetapi masalah ETIKA. Dia tahu foto itu milik siapa, apa salahnya minta izin dulu? Toh kalau minta izin pasti saya izinkan. Kalaupun mau menghapus watermark apa salahnya tulis credit title nya? Mungkin bagi dia biasa-biasa saja, tapi saya sungguh sangat kecewa.
 
Akhirnya dia membuat ulang iklannya. Fotoku tetap tampil cantik disana dan kembali sudah ada watermarknya. Tapi mohon maaf, saya sudah terlanjur kecewa. Kecewa sekaligus tahu bahwa dia tak bisa menghargai hal yang kecil seperti ini. Itu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *