Susahnya Jadi Guru SMP

Dua mingggu terakhir ini, saya punya kegiatan baru – Mengajar Seni untuk SMP. Awal mulanya diajak tante yang telah lama mengajar di sekolah tersebut, guru seninya meninggal dunia. Melihat saya sering membuat karya kerjinan tangan di rumah, akhirnya dia pun mengajak saya.

Setelah berpikir, akhirnya saya menerima tawaran tersebut. Pertama karena saya ingin memiliki kegiatan di pagi hari agar saya tidak bangun siang lagi. Walaupun masih insomnia paling tidak saya harus berusaha tidur cepat agar bisa bangun lebih pagi. Alhamdulillah setelah dua minggu lebih, jadwal tidur saya mulai membaik. Kedua, kegiatan ini tidak mengganggu pekerjaan saya saat ini, jadi saya bisa menjalani dua profesi sekaligus. Ketiga, karena saya menyukai pekerjaan membagi ilmu dan saya juga menyukai pelajaran seni. Paling tidak, melalui jalur ini saya bisa belajar lebih banyak tentang seni. Keempat, walaupun honornya sedikit, paling tidak ada pemasukan tetap tiap bulan untuk membayar cicilan my 515ter, lagipula untuk pemasukan saat ini saya masih bisa mengandalkan pemasukan dari pekerjaan satunya lagi.

Awal bulan ini kepala sekolah pun memanggil saya. Saya hanya ditanya beberapa hal saja dan langsung disuruh masuk mengajar. Prosesnya ternyata cukup cepat. Dan akhirnya mengajarlah saya di sekolah tersebut.

Rupanya…. mengajar anak SMP itu jauh lebih sulit dari pada mengajar mahasiswa. Dari pengalaman saya menjadi asisten dan mengajar kursus untuk mahasiswa, ini ternyata jauh lebih sulit. Mengajar anak-anak pada masa perkembangan memiliki tantangan yang jauh lebih besar. Saat-saat perkembangan seperti ini, mereka mulai memberontak, laki-laki biasanya ingin terlihat sok jago dan perempuan selalu mencari perhatian.  Dalam satu kelas, mungkin hanya 10-20% siswa yang betul-betul ingin belajar, selebihnya hanya ribut dan bermain. Jadi teringat kelasku waktu masih SMP, kurang lebih seperti itulah. Ternyata kasian juga yah gurunya…

Hampir setiap pulang ke rumah, suara saya hampir habis karena teriak untuk menenangkan mereka. Jujur saja, saya bukan tipe guru yang galak tapi kondisi sekolah tersebut membuat saya menjadi seperti itu. (pelajaran pertama: menghadapi anak SMP harus terlihat kuat dan berwibawa – baca: galak)

Hari ini bisa dikatakan puncak kemarahan saya. Karena guru baru, mereka pikir bisa kurang ajar. Di kelas terus ribut meskipun berulang kali saya tegur, beberapa orang memukul bangku, menyanyi, cerita dan mondar-mandir. Tugas yang saya berikan minggu lalu pun hanya dikerjakan 6 orang dari 40 orang. Whaaaat???

Akhirnya saya meninggalkan kelas tersebut dengan kemarahan di puncak ubun-ubun. Hanya yang ingin belajar saja yang mengejar saya untuk masuk kembali, selebihnya malah senang. (pelajaran kedua: jangan sekali-kali meninggalkan kelas jika marah karena hal itu yang disukai siswa. Jangan juga mengeluarkan siswa yang tidak ingin belajar karena itu juga membuat mereka senang) .

Seluruh siswa pun dipanggil ke ruang Bimbingan Konseling dan mendapat teguran dari guru yang sejak dulu terkenal galak. (pelajaran ketiga: berikan efek jera untuk kesalahan yang mereka lakukan) Mereka pun diancam tidak akan mendapatkan nilai jika ribut lagi.

Aaah… ternyata profesi ini tak semudah apa yang saya lihat dan pikirkan, ini jauh lebih sulit…

0 thoughts on “Susahnya Jadi Guru SMP

  1. d'starz

    begh…ngajar anak SMP, hal yang paling susahmi itu ku rasa k…mending disuruhka kerja 100 soal kalkulus ato ngetik 100 halaman..wkwkwk

    iyow… susah sekali nah 😥

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *