Motor

Winarni KS   August 29, 2009   No Comments on Motor

Motorcycle_Erin_by_FitzOblong

Cukup lama tidak merangkai huruf-huruf di halaman blog ini. Akhir-akhir ini memang sudah jarang online di PC lebih sering OL pake HP. Sebenarnya banyak hal yang bergerak liar di kepala untuk segera dituliskan, tetapi untuk menuliskan blog via HP hmm… cukup membuat jempol bengkak, lagipula mengetik lewat HP otomatis membuat karakter huruf saya juga berubah.

Selain itu, sakit punggung yang saya alami beberapa bulan terakhir membuat saya berusaha menghindari PC dulu, apalagi posisi duduk yang kurang bagus dan monitornya yang bikin sakit kepala, cukup mampu membuat saya mual-mual.

Disisi lain, sejak saya mengganti paket internet menjadi unlimited, PC ini terpakai terus untuk bermain game online. Kalau alasan yang terakhir ini kadang membuat saya misu-misu karena mereka menggunakan PC ku 24 jam nonstop dan tidak memedulikan kesehatan PC ku. Hikz.

Entah kenapa kali ini tidak ada yang menggunakannya. Hmmm… tapi saya lagi tidak ingin membahas panjang tentang hal yang membuat saya jarang OL via PC lagi. Justru hari ini saya ingin membahas tentang Motor.

Apasih yang istimewa dari kendaraan yang satu ini, hingga saya mau membahasnya?

Mungkin bagi banyak orang, kendaraan yang satu ini tidaklah istimewa, tetapi bagi saya Motor telah banyak memberikan sumbangsih yang berarti dalam kehidupanku. Sejak dulu, motorlah yang mengantarkan Etta ke tempat kerjanya. Bahkan sewaktu saya masih kecil kami sekeluarga senang berkeliling kota dengan motor.

Beranjak remaja, saya pun belajar mengendarai kendaraan itu. Rasanya sangat senang ketika pertama kali lincah mengendarainya, setidaknya saya sekarang bisa keluar rumah dengan kendaraan pribadi dan tidak menggunakan angkutan umum lagi. Tetapi insiden pada malam minggu itu membuat semuanya menjadi tidak seperti apa saya bayangkan. Sebuah mobil berlaju kencang menyambarku saat sedang berada ditikungan U yang terdapat di jalan vetran. Kecelakaan itu pun membuat setengah tubuhku menjadi biru dan motor Etta menjadi rusak. Saat itu saya betul-betul merasa bersalah pada Etta, saya pun trauma dan Ibu tidak lagi mengijinkanku mengendarai motor . Namun seiring waktu, trauma itu pun perlahan hilang dan Ibu pun akhirnya mengijinkan lagi meski lebih sering disertai rasa khawatir saat memberi ijin.

Sadar atau pun tidak, banyak hal yang bisa kita pelajari tentang kehidupan saat mengendarai motor. Saya sangat merasakan bedanya membawa motor sendiri dengan membonceng seseorang. Saat membawa motor sendiri kita bebas menentukan kecepatan sedangkan saat membonceng seseorang kita selalu berusaha lebih hati-hati, apalagi saat melakukan maneuver. Kita berusaha menjaga kenyaman orang yang duduk dibelakang kita, bahkan berusaha menjaganya agar tidak terjadi apa-apa yang dapat membahayakannya. Atau mungkin hanya saya saja yang merasakan ini?

Dari hal di atas setidaknya kita bisa belajar bedanya hidup sendiri dan hidup bersama orang lain. Hidup bersama orang lain menuntut kita untuk lebih bertanggungjawab, tidak hanya pada diri sendiri tetapi juga dengan dia yang bersama kita. Jadi kalau belum bisa bertanggungjawab janganlah berani-berani membonceng orang lain. Hehehe.

Sebagian besar orang masih menganggap motor sebagai sebuah budaya patriarki, mengendarai motor adalah sebuah hal yang maskulin. Tetapi seiring perkembangan jaman hal itu tidak berlaku lagi. Motor telah menjadi bagian dari kehidupan modern baik bagi perempuan dan lelaki. Bahkan body motor kini telah disesuaikan dengan berbagai selera.

Saya pernah mencoba melakukan survey kecil-kecilan mengapa seseorang memilih motor yang mereka miliki sekarang. Jawabannya pun beraneka ragam. Ada yang memilih motor dari kecepatannya, ada yang memilih karena lebih irit, ada yang memilih karena mesinnya, ada yang memilih karena kondisi dana dan ada yang memilih karena body-nya. Sebagian besar mereka yang berjenis kelamin lelaki memilih motor sport karena posisi mengendarainya yang lebih nyaman daripada motor bebek. Sedangkan perempuan lebih banyak memilih motor otomatic karena mudah digunakan.
Pemilihan motor membuat saya berpikir mungkin seseorang dapat dinilai memilih pasangannya dengan motor yang dipilihnya. Bagi yang mementingkan body motor mungkin akan memilih pasangan dari tampilan luarnya, sedangkan yang memilih mementingkan mesinnya mungkin akan memilih pasangannya dari inner beauty –nya. Entalah, terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan itu, sepertinya butuh riset yang lebih akurat lagi.

Motornya berdoa, istilah itu kadang ditujukan kepada motor yang mempunyai kaca spion yang cukup besar di sisi kiri dan kanannya. Hal ini membuat seseorang memilih melepas satu spionnya dan sebagian besar menyisakan spion disebelah kanan saja. Kenapa? Jawabannya pun bisa bermacam-macam. Salah satunya karena kita dianjurkan untuk melambung kendaraan dari sebelah kanan.

Tapi pernahkah kita belajar makna spion dalam kehidupan kita? Spion seperti sebuah alat yang membuat kita mampu melihat masa lalu, untuk melaju kedepan, tanpa harus berbalik. Benda itu hanya sesekali dilihat seperti masa lalu yang tidak seharusnya terus diratapi, kita seharusnya lebih fokus melihat kedepan untuk mencapai tujuan. Bukankah begitu?

Hmmm… bercerita tentang motor saya juga tertarik untuk mengungkapkan salah satu bagian motor lagi. Rem, yah rem. Untuk apa rem? Pernahkah kita bertanya? Mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab untuk berhenti. Tetapi saya justru melihat fungsi benda ini berbeda. Rem justru diciptakan bukan untuk membuat kita berhenti tetapi kondisi rem yang bagus, justru berfungsi agar kita lebih berani untuk melajukan motor lebih kencang, iya kan?

Rem seperti orang-orang yang berada disekitar kita yang selalu mengijinkan kita untuk berlari lebih kencang untuk mencapai cita-cita dan selalu ada mereka yang akan mengingatkan bahkan menghentikan jika jalan kita sudah berbahaya.

Ah… sepertinya saya sudah bercerita tidak jelas tentang motor dengan sangat panjang. Mungkin tulisan ini sangat acak-acakan bahkan sangat tidak berguna, tetapi biarlah saya hanya melepaskan kerinduan untuk mengetik lagi.

Dan sepertinya perjalanan menggunakan motor akhir-akhir ini semakin menyenangkan 😀

0 thoughts on “Motor

  1. D411.....

    Filosofi yang bagus. Salut.
    oh iya, menggunakan motor memang sangat menyenangkan. apalagi kalau kaca spionnya lengkap, mata bisa melihat ke segala arah, bukan hanya ke arah depan dan kiri saja. Kecuali kalau spionnya diberikan isolasi, pasti sangat membosankan mengendarainya. Week 😛

    Reply
  2. manusiabodoh

    weh ternyata mbak pandai mengambil hikmahnya dari motor, mulai dari berkendara sendiri, berboncengan, spion dan rem….!!!
    nice posting…!!! applaus untuk mbak….!!!
    denger2 katanya mbak membuat membuat buku “Makassar Dari Jendela Pete-Pete” ya…!!!
    kalau boleh tahu berapa harganya…!!!dan dimana saya bisa mendapatkannya, kali aja dari penulisnya dapat diskon atau geratis (maunya) hehehehe
    penasaran nih pengen membaca

    Makasih

    Iya, saya menulis buku “Makassar dari Jendela Pete-pete” harganya itu 40rb, diskon gampanglah diatur hehe…
    jadi kapan dan dimana mau ambil bukunya???

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *