Mencontreng

Winarni KS   April 9, 2009   No Comments on Mencontreng

setelah-mencontrengYeah akhirnya jariku kena tinta pemilu juga, saking senangnya, sampai menyelup sepertiga jari kelingkingku. Hahaha. Memang, ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti pemilu. Pemilu legislatif tahun 2004 yang lalu saya belum terlibat karena mungkin dianggap belum cukup umur. Kemudian pilkada gubernur, saya tidak mendapatkan undangan pemilih dan ketika pemilihan walikota saya sedang berada di luar kota. Dan hari ini, akhirnya saya pun ikut dalam pesta demokrasi di negeri ini, syukurlah saya akhirnya terlibat.

Media ramai memberitakan kalau metode pemilu kali ini berbeda dengan metode pemilu sebelumnya. Dulu gambar partai atau caleg itu dicoblos, maka sekarang gambar partai dan nama caleg itu dicontreng. Kertas suaranya pun lebih besar. Banyaknya partai yang bermunculan serta menawarkan banyak caleg membuat kertas suara itu dibuat diperlebar. Saya tertawa mendengar pernyataan teman saya, “Apakah bilik suara cukup besar untuk memuat tubuh saya yang besar dan membuka kertas suara yang juga besar?”

Berbagai pertanyaan pun yang mengusik saya memasuki pesta demokrasi ini.

Hidup itu pilihan dan memilih juga suatu pilihan. Ketika kita dihadapkan dengan banyak pilihan, masihkah kita mampu untuk memilih setiap pilihan? Pemilihan kali ini memang sangat ruwet, pertama kita harus memilih partai yang lumayan banyak. Kemudian kita juga sebaiknya memilih salah satu caleg dari partai tersebut. Belum lagi cara membuka dan melipat kertas suara yang cukup membingungkan. Mungkinkah keruwetan ini menjadi nilai lebih bagi partai atau caleg yang popular? Bagi yang berpikir praktis dan bingung dengan banyak pilihan pasti langsung memilih yang sudah popular. Seorang pemilih berseloroh di samping saya, “saya akan pilih nama yang sering muncul di Koran saja!” Akankah keruwetan cara memilih memenangkan orang-orang yang popular?

Virus kapitalistik yang menyerang negeri ini memang mengerikan. Uang seakan menjadi dewa semua orang. Istilah money politic mungkin sudah familiar di telinga kita. Tetapi sekarang money politic tidak sesempit sekedar pembagian uang/amplop lagi, tetapi pembagian baju, sarung, mukenah, sembako, dsb yang bergambar caleg, bukankah bisa dikatakan money politic? Selain itu, kelebihan orang yang memiliki banyak uang ialah mereka mampu membuat publikasi dimana-mana. Membuat baligho yang besar dan dipasang di tempat-tempat strategis di kota, merenovasi eksterior mobil, hingga membuat publikasi di radio dan televisi, merupakan suatu bentuk publikasi yang tentu membutuhkan banyak modal. Hingga akhirnya caleg yang berkompetensi dan punya kapabilitas tetapi tidak punya modal diregus oleh caleg yang tidak punya kemampuan tetapi kaya. Ironis, karena pemilu layaknya sebuah perdagangan dan ladang usaha bagi orang-orang yang katanya intelek. Akankah yang punya modal yang banyak mengalahkan si miskin?

Pertanyaan ini mungkin kedengarannya lucu. Akankah yang cantik/ganteng mengalahkan yang jelek? Cantik, ganteng atau jelek yang saya maksud disini adalah dalam hal publikasi. Publikasi yang dilakukan para caleg akhir-akhir ini memang memuakkan. Ada yang coba memperlihatkan citra yang baik dengan berkerudung dan menggunakan songkok. Ada yang berpose sambil duduk dan melihat ke atas. Ada yang menebarkan senyum tidak jelas. Ada yang mencoba menarik dengan desain grafis yang keren. Dan berbagai bentuk publikasi lainnya. Ini realitasnya, konsekuensinya bagi orang-orang yang berpikir pragmatis mungkin akan melihat siapa yang paling ‘keren’ atau foto yang yang paling menarik tanpa memperdulikan kapabiltas caleg tersebut. Dan bisa saja, caleg yang sebenarnya cerdas tapi publikasinya kurang menarik akan tersingkir. Pemilu kali ini memang tak jauh beda dengan dengan ajang pemilihan bakat seperti AFI dan Indonesian Idol. Mungkin pemenangnya adalah orang-orang yang mampu memperlihatkan kekerenan, kecantikan, atau kegantengannya. Pertanyaannya akankah mereka itu yang akan menduduki kursi dewan?

Muda atau tua? Dikotomi ini memang cukup membingungkan. Mereka yang tua dideskripsikan sebagai orang yang berpikir kolot dan masih antek-antek orde baru yang mungkin akan melakukan praktek KKN. Dan yang muda dideskripsikan sebagai nafas baru dan berpikir akan perubahan. Saya rasa terlalu cepat untuk menilai seseorang dari umurnya. Belum tentu yang tua akan berpikir kolot bisa saja mereka berpikir lebih bijak. Belum tentu yang muda jauh lebih baik, bagaimana dengan mereka yang eforia dan akhirnya melupakan fungsi mereka sebagai legislatif? Kita liat saja nanti. Jika pemilu ini adalah pertarungan muda dan tua, saya tak sabar mengetahui siapa yang akan menjadi juaranya.

Kuota 30% perempuan untuk duduk di kursi parlamen memberikan sebuah paradigma baru bagi perkembangan pendidikan politik bagi perempuan. Tetapi realitasnya, kedudukan laki-laki dan perempuan dalam pemilihan ini masih butuh perhatian. Karena perempuan yang ikut bertarung dalam “perang” kali ini tak lain hanya bagian dari keluarga si “bapak” yang kapabilitasnya masih dipertanyakan. Hmm.. akankah perempuan mendapatkan posisi dikursi parlamen?

Ajang kampanye kemarin memang sangat meriah. Setiap partai, apalagi partai besar coba memperlihatkan massanya seolah ingin mencerminkan pemilihnya sangat banyak. Maklumlah, ini Indonesia, sikap skeptis kadang membawa mereka untuk memilih yang dipilih oleh banyak orang, “yah itu mo saja!” begitu istilahnya. Tapi percakapan di TPS tadi, membuat saya mencoba melihat dari perspektif lain. “Saya mau pilih partai yang paling sedikit calegnya!” Saya rasa tidak salah kalau dia mengambil langkah tersebut, karena banyaknya caleg pada suatu partai bisa saja melahirkan sebuah konflik baru yang tentu saja dampaknya kembali kepada kita, masyarakat Indonesia. Jadi, partai yang kampanye memperlihatkan massa kecil belum tentu dikalahkan partai dengan massa besar.

Selain bersaing dengan memperlihatkan massa yang besar, nama tokoh juga menjadi “nilai jual” suatu partai. Nama-nama tokoh yang telah dikenal akan kompotensi dan kapabilitasnya seolah menjadi katalisator bagi pemilih untuk memilih partai dan calegnya. Tetapi semuanya kembali saya pertanyakan, akankah nama tokoh mampu mempengaruhi pilihan kita?

Mulai sebentar sore pertanyaan-pertanyaan saya itu akan terjawab. Setidaknya saya bersyukur masih memiliki kesempatan dan mendapatkan kartu pemilih. Saya tidak perlu ngamuk-ngamuk di TPS untuk mendapatkan hak pilih. Atau saya tidak menghabiskan hari ini dengan tidur atau kegiatan lain karena tidak memiliki kartu pemilih. Setidaknya saya telah mencoba menggunakan hak pilih saya, berharap perubahan akan negeri ini esok nanti. Meminjam istilah Indonesian Idol, “Anda yang memilih, anda yang menentukan.”

Siapakah yang akan jadi juaranya?

Siapapun caleg yang akan terpilih nanti, juaranya adalah kita rakyat Indonesia. Siapun partai yang paling banyak menduduki dewan, pemenangnya adalah kita, rakyat Indonesia. Dan siapapun presidennya, yang paling agung adalah kita, seluruh rakyat Indonesia. Apapun pilihan kita, dan jika esok hari dia yang terpilih, entah itu yang populer atau belum populer; entah itu yang kaya atau yang belum kaya; entah itu yang ganteng/cantik atau yang belum ganteng/cantik, entah itu yang tua atau yang belum tua, entah itu perempuan atau belum perempuan laki-laki; jika mereka melakukan penyimpangan seharusnya kita sama-sama mengawasinya dan meminta pertanggungjawabannya.

..Sebuah catatan sepulang dari TPS..

0 thoughts on “Mencontreng

  1. Acculk

    Syukurlah sudah ikut memilih. Saya kira Golputki.
    Eh, Kita contrengji namaku to ? NO.99 Partai Daun Pisang. Hehe

    Hmmm… itu mi yang kasi lama k di bilik suara karena cari nama dan partai ta.
    (thinking) emang ada ya partai no 99 namanya partai daun pisang? (thinking)

    Reply
  2. sis olin

    Happy Contreng Day………….the future its out there waiting but still controlling by your hand to voting. Hopefully new Indonesian government can bring their community getting more successful achievement.

    Notes; Don’t forget ur promise. So, what issues or story you want to sharing in THE FRIDAY LETTER column???

    Yes, I hope so

    and about my Friday Letter, of course I don’t forget it

    Reply
  3. arhyen

    knp bisa ndk golput lagi??
    dasar nasionalis atw karena “dihujat” orang??

    golput adalah sebuah paradigma yang patut dihargai. Tapi kali ini saya memilih untuk tdk gulpot bukan krn sy nasionalis atau krn “dihujat” orang namun karena ingin memberikan kesempatan kepada mereka yang saya yakini bisa membawa kita ke arah perubahan yang lebih baik. Amien…. Hehe

    Reply
  4. Arbi

    Wah membahas politik nih mbak?
    Berarti pertanyaan2 di atas sdh ada jawabannya kan? Menurut saya yang populer tetap menjadi pemenang.

    Emang kmrn contreng apa mas? jangan2 contreng artis! Hehehe… Atau tidak ikut memilih?
    wah.. iya, di Makassar sepertinya yang menang yang balighonya paling banyak dan yang besar-besar (paling populer), walaupun ini belum hasil akhir. Selain itu, caleg yang konon terpilih adalah keluarganya bapak gubernur dan bupati terutama caleg perempuan. Parahnya lagi, ada jual beli/penggadaian suara antar caleg yang suaranya tidak mencukupi. Eh… kok ngomong panjang gini…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *