Jadi Perencana yang Bagaimana?

Setelah kuliah sekian tahun di program studi perencanaan wilayah dan kota, lalu ingin menjadi apa? Perencana? Perencana seperti apa?

John M Levy dalam bukunya Contemporary Urban Planning membagi gaya perencana menjadi lima tipe, yaitu sebagai berikut:

Pertama, Perencana sebagai pelayan publik yang netral (The planner as neutral public servant). Dalam peran ini, perencana menerapkan keahlian mereka tanpa mendorong warga kota untuk memilih apa yang ingin dikerjakan. Atau dalam hal ini bahasa yang digunakan perencana adalah ‘what if’ bukan ‘should’ atau ‘should not’. Umumnya, masalah kota disampaikan terlebih dahulu oleh masyarakat. Selanjutnya, perencanalah yang berperan untuk menentukan dimana lokasi suatu kegiatan, bagaimana bentuk lingkungan yang ingin direncanakan, atau peningkatan apa yang hendak disajikan. Peran tersebut biasanya dikenal dengan produk perencanaan komprehensif, perencana bertindak sebagai pelayan publik yang mencoba murni dari berbagai kepentingan. Produk yang dihasilkan berupa rencana yang mencoba memasukkan berbagai pertimbangan di dalamnya.

Kedua, Perencana sebagai pembentuk konsensus (The planner as builder of community consensus). Dalam peran ini perencana memasuki arena politik yang sebelumnya tidak disentuh oleh sebagian besar perencana. Perencanaan bagi perencana gaya ini tidak dapat diimplementasikan tanpa kemauan politik dan tindakan politis, maka perencana harus terlibat di dalam proses politik itu sendiri. Dengan demikian, perencana harus menjadi bagian dari birokrasi atau struktur politik dimana keputusan dibuat. Dalam pandangan ini, perencana mengekspresikan nilai-nilai yang mereka miliki dan mencoba menggerakkan masyarakat ke arah yang dianggap tepat. Perencana tipe ini banyak kita jumpai di lingkungan pemerintah seperti PU, Dinas Tata Kota, Dinas Tata Ruang dan pemukiman, Bapeda dan lainnya. Ironisnya, perencana tipe ini yang biasanya kehilangan kepercayaan publik karena kebijakannya yang cenderung lebih berpihak pada penguasa daripada masyarakat secara umum.

Ketiga, Perencana sebagai pengusaha (The planner as entrepreneur). Perencana yang bekerja untuk tugas-tugas tertentu, seringkali bertindak sebagai pengusaha. Sebagai contoh, perencana yang bekerja pada konsultan. Perencana tipe ini harus mampu memasarkan kawasan, mencari pengembang, dan menegosiasikan kontrak. Perhitungan finansial dan pengelolaan pasar lebih dominan dalam menjalankan peran perencana ini dibandingkan aspek-aspek lain.

Keempat, Perencana sebagai advokat (The planner as advocate). Dalam peran ini, perencana berada di pihak salah satu kelompok dan berupaya untuk mengekspresikan kepentingan kelompok tersebut. Mereka memiliki klien, yaitu masyarakat yang minoritas, yang akses mereka terhadap sumber-sumber politik dan ekonomi sangat minim. Dengan demikian, kelompok tersebut membutuhkan perwakilan dalam proses perencanaan. Peran perencana sebagai advokat ini menempatkan diri mereka sebagai bagian dari proses perencanaan yang penuh dengan kepentingan mayoritas atau menyembunyikan kepentingan yang sesungguhnya merugikan golongan minoritas. Oleh karena itu, klien yang diterima oleh perencana ini berasal dari kelompok miskin dan minoritas. Gaya perencanaan ini seringkali diadopsi oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun organisasi masyarakat lainnya. Mereka bukanlah pengacara dalam arti sesungguhnya, melainkan secara jeli melihat potensi pengabaian suara-suara mereka yang tidak disertakan dalam kerangka perencanaan. Meskipun tidak seluruhnya berhasil diterima ke dalam rencana yang lebih luas, perencana sebagai advokat memberikan harapan adanya perhatian terhadap kelompok-kelompok yang tidak dianggap sebagai ‘stakeholder’ kota.

Kelima, Perencana sebagai agen perubahan radikal (The planner as agents of radical change).
Sedikit sekali perencana yang mengambil peran sebagai perubahan sosial. Mereka yang terlibat dalam pemikiran yang radikal dalam perencanaan tidak memungkinkan untuk bekerja dalam sistem mainstream yang seringkali membuat frustasi. Beberapa akademisi mengambil posisi idelogis neo-Marxian atau menganut teori kritis dan mempromosikan perubahan radikal ekonomi dan politik sebagai tujuan jangka panjang perencanaan.

Nah, kita (akan) menjadi perencana tipe yang mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *