Satu Dekade

Winarni KS   March 11, 2007   No Comments on Satu Dekade

11 Maret 1997

“Sepuluh tahun yang lalu lahirlah seorang bayi perempuan yaitu saya. Ulang tahun kesepuluh ini ku rayakan dengan cukup meriah dengan biaya sendiri loh. Banyak juga hadiahnya sih, tapi lumayanlah karna saya selalu merahasiakannnya. Bukuku banyak sekali karena banyak yang memberiku buku tulis. Dan yang paling menghebokan hadiah dari ettaku, dia memberiku sesuatu yang aku impikan dari dulu yaitu sebuah jam tangan. Betapa indahnya jam tangan itu.

Aku sih ingin mengundang si Fuad tapi… ya malu ah, masa sih diundang hanya dia yang lelaki, dianyakan malu…

Aduh saya senang banget hari ini daripada segala-galanya. Bagi teman-temanku, etta, ibu, tante tati, ummu, wawan dan meme, saya ucapkan terima kasih.”

Aku tersenyum sendiri. Sepuluh tahun lalu aku menuliskan ini di sebuah buku harian yang juga merupakan salah satu hadiah yang kuterima saat itu. Aku coba menampilkan tanpa proses editing. Polos. Apa adanya.

Hadiah yang menjadi orientasi mutlak, jelas terlihat. Betapa senangnya mendapatkan sebuah jam tangan kala itu. Fuad, secret admirer ku, tak luput tertuliskan. Ha ha ha. Lucu juga.

Kurang lebih 87640 jam, memang bukan waktu yang singkat. Mungkin aku telah bermetamorfosis (kupu-kupu kale…), fisik, alur pikiran, perasaan…

Tak giat lagi menyisihkan uang jajan demi merayakan milad sederhana dengan bugdet yang sudah diperhitungkan jauh-jauh sebelumnya… karena tak lagi menganggap itu hal yang mutlak, hal yang wajib, toh… tanpa satu perayaan pun aku tetap berganti usia

Tak lagi berharap mendapatkan hadiah fisik yang melimpah ruah, jam tangan, buku tulis, pulpen beraneka warna, tidak. Hanya doa yang kuharapkan kini. Doa yang meng-amin-i segala keinginan, harapan, asa, obsesiku.

Tak lagi memiliki secret admirer. Cinta tlah hilang. Kasih telah raib. Mati rasa.

Batu besar yang dari dulu kutakutkan ‘kan menghantamku malah jauh lebih “tidak apa-apa” di bandingkan kerikil-kerikil kecil yang di tebarkan sang bayu yang terus tertiup. Pedih. Perih. Sakit. Mungkin hanya jarum jam yang bisa menceritakan semuanya, bagaimana ribuan kerikil kecil menggugah idealisme ku dalam satu dekade ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *