Melahirkan itu…

Sudah lama ingin menuliskan kisah ini, namun hingga hampir 2 bulan pasca melahirkan saya hanya fokus mengurus si bayi cantik yang chubby pipinya. Apalagi setelah akikah, seminggu setelah ia lahir, kami hanya tinggal bertiga di rumah. Itu berarti di saat pagi hingga sore, saat bapaknya ke kantor, kami hanya berdua.

Beberapa hari terakhir, pola tidurnya sudah mulai teratur, tidak begadang lagi. Sayapun bisa mengatur jadwal istirahatku agar tetap fit merawatnya sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Di sela-sela waktu istirahat, saya pun menuliskan ini.

Baca Juga: Yah, Saya Akhirnya Hamil

melahirkan

Melahirkan itu…

Rabu, 25 Juni 2014
Pukul 20:50

Saya keluar dari ruang praktek dr.Nathalia dengan perasaan was-was. Berharap dan cemas menyatu jadi satu, bisa jadi ini adalah kontrol terakhir sebelum anak yang kami nantikan selama dua tahun lebih pernikahan kami, hadir ke dunia.

Dari hasil pemeriksaan, dokter memprediksikan berat badan janin sudah 3,5kg, sudah sangat besar. Meskipun sudah sebulan saya puasa makan nasi dan makanan manis, tetap saja pertambahan berat janin cukup besar per minggunya. Untungnya usia kehamilanku telah memasuki 37 minggu, itu berarti sang bayi telah matang untuk dilahirkan. Sekali lagi dokter bertanya apakah saya ingin melahirkan normal atau SC, dan saya yakin dengan keputusanku untuk melahirkan normal.

“Kalau ditunggu mulesnya datang, takutnya bayinya lahir dengan berat lebih dari 4kg. Kalau mau normal, lebih baik diinduksi saja”. kata dr.Nathalia. Mendengar kata induksi, saya mulai agak takut. Jauh hari sebelumnya, saat tahu janinnya cukup besar, saya telah mencari tau tentang kata itu, dan semua info yang saya dapatkan membuat saya agak khawatir. Diinfus, disuntik hingga rasa sakit yang berkali-kali lipat dari biasanya, menghantui. Tetapi rasa takut itu perlahan memudar ketika sang dokter hanya memasukkan seperempat bagian obat kecil ke jalan lahir. “Ini sudah diinduksi, tunggu 5 sampai 10 jam obatnya bereaksi”. Bayangan tentang jarum suntik dan selang infus pun pudar.

Sepanjang perjalanan pulang, perasaanku bercampur aduk. Entah apa yang akan terjadi beberapa jam ke depan dalam hidupku. Terkadang rasa cemas menguasai. Cerita-cerita bagaimana sakitnya melahirkan mengaung di telinga menghasilkan bayangan di alam imaji. Sakit berjam-jam bahkan berhari-hari, mungkin akan saya rasakan. Tetapi seketika rasa cemas itu berganti dengan harapan yang menyunggingkan senyuman di wajahku, sebentar lagi, seorang manusia yang dalam beberapa bulan terakhir saya rasakan bergerak dalam kandunganku, akan memperlihatkan wajahnya.

Pukul 23:15
Saya rebahkan badan di tempat tidur. Tadi, setiba di rumah saya masih sempat membereskan rumah, mencuci piring-piring kotor serta mengerjakan beberapa pekerjaan lain yang tidak sempat saya kerjakan tadi pagi karena berangkat lebih awal dari biasanya. Ngilu mulai terasa di perut bagian bawah, seperti nyeri haid. Menurutku, belum terlalu sakit, masih masuk dalam takaran toleransi. Lagipula kalau ini pengaruh obat, terlalu cepat bereaksi. Mungkin hanya kontraksi palsu, pikirku.

Niatnya ingin tidur lebih cepat, namun mata seolah menertawakanku, ini belum masuk jam tidurku. Suamiku sudah terlelap lebih dulu, dia siap dibangunkan kapan saja jika “getaran cintanya” telah datang. Ia siap mengganti statusnya dari suami siaga menjadi bapak penggalang.

Saya memutar surah Ar Rahman melalui aplikasi Al Qur’an di hapeku. Salah satu surah favorit yang selalu menenangkan dengan ayatnya yang berulang-ulang “Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan”. Saya membiarkan ayat demi ayat mengalun merdu sambil mengajak sang janin mendengarkannya.

Teringat saat pertama mengetahui bahwa saya positif, momen yang tak terlupakan. Hingga beberapa minggu kadang saya masih tak percaya kalau akhirnya hamil setelah harus berusaha “lebih” dari beberapa pasangan lainnya. Masa ngidam yang meletihkan harus saya nikmati. Tak ada apapun yang bisa masuk, termasuk air putih hingga berat badan turun hingga 6kg. Harus bedrest karena beberapa kali keluar flek. Memasuki 7 bulan, perutku lebih besar dari biasanya, banyak yang mengira saya hamil kembar, ternyata air ketubanku kelebihan. Saat tahu janinnya besar, saya perbanyak jalan, naik turun tangga, berdiri jongkok, duduk sufi hingga posisi sujud lebih lama, agar dia bisa lahir normal sebelum beratnya makin bertambah. Bagaimanapun, saya sungguh menikmati kehamilan ini.

Tanggal 26 Juni 2013
Pukul 00:00

Lantunan surah Ar Rahman berakhir tepat saat tanggal berganti. Saya pun ke kamar mandi, hendak membuang air kecil lalu berencana untuk berusaha tidur lebih cepat agar lebih siap menghadapi salah satu jihad dalam hidupku. Namun rencana untuk tidur harus ku tepis, tepat setelah buang air kecil ada air bercampur darah, mengalir tanpa bisa ku tahan. Inikah air ketuban?

Masih dengan kondisi santai, saya kembali ke kamar namun tepat di depan pintu kamar, air itu mengalir lagi, lebih banyak dan tak mau berhenti. Saya berdiri terpaku. Dari jauh, saya membangunkan suami. Begitu dia membuka mata, saya katakan “Air ketubanku pecah!”.

Sedikit panik, bergegas ia mengganti bajunya. Mengambilkan cardigan dan jilbab untukku. Tadi saya memang tak mengganti baju tidur, hanya menggunakan terusan sebagai antisipasi kalau harus segera ke rumah sakit. Seluruh barang perlengkapan melahirkan telah jauh hari tersimpan di bagasi mobil. Setelah menelpon ibu dan berdoa, kamipun berangkat ke rumah sakit.

Suamiku tampak tergesa-gesa membawa mobil. Pak Satpam yang sedang jaga segera membuka portal saat melihat lampu emergency mobil berkedip-kedip. Mobil pun melaju di jalan raya yang tampak mulai lengang. Sesekali ia menanyakan kondisiku, dan saya mengatakan baik-baik saja. Saya masih bisa kirim sms ke mertua, memperbaruhi status bbm dan menyerahkan semua perlengkapan administrasi pada suamiku untuk diperlihatkan di rumah sakit. Jarak antang dan Rumah Sakit Awal Bros terasa sangat jauh.

Akhirnya kami tiba di UGD Rumah Sakit Awal Bros. Perawat segera membawaku ke sebuah ruangan UGD dan memintaku berbaring sendiri disana, sedangkan suamiku mengurus administrasi. Saat itu, saya mulai merasakan kontraksi yang mulai menguat dan semakin teratur walau bagiku rasa sakitnya masih dalam batas toleransi. Entahlah, mungkin karena ini pengalaman pertamaku, jadi saya tidak tau persis apakah ini sakit atau sakit sekali. Saya hanya menghembuskan napas pendek-pendek, saat kontraksi itu datang, seperti apa yang pernah saya baca. Hanya saya sendiri di ruang itu, tidak ada perawat, sedangkan bidan yang bertugas sedang menyiapkan ruang bersalin, membuatku selalu mensugesti diri untuk tenang dan santai.

Pukul 01:05
Akhirnya saya dibawa ke lantai 5, ruang bersalin. Administrasi sudah beres dan ruang bersalin telah siap. Saya pun berbaring, siap diobservasi oleh bidan. Saat VT, wajah bidan tampak heran dan memeriksakannya sekali lagi. Begitu yakin, dia segera menelpon dr.Nathalia.

“Dok, pasien atas nama Winarni sudah bukaan lengkap”. Dokter tampak heran, karena bahkan lima jam pun belum genap dan saya sudah bukaan lengkap. Mendengar kalimat itu dan melihat Ibuku di pintu ruang bersalin, membuat kontraksi yang kurasakan semakin kuat dan tak tertahankan. Inikah detik-detik melahirkan? Kali ini saya akui rasanya benar-benar sakit.

Bidanpun memintaku mengejan begitu kontraksinya terasa. Saat mengejan pertama, bidan menegurku karena mendongakkan kepala dan tidak membuka lebar paha. Sungguh, saya melupakan ilmu cara melahirkan yang benar karena merasakan sakitnya yang luar biasa, padahal baru saja saya mempelajarinya. Dengan cepat saya belajar mengambil posisi yang tepat dibantu bidan dan Ibu. Sayapun mengejan untuk kedua kalinya, rasa sakitnya membuatku tak tahan untuk tidak teriak. Puluhan bahkan ratusan milyar perempuan di dunia berhasil melahirkan dengan selamat, termasuk Ibu, perempuan yang melahirkanku, yang berdiri di sampingku saat ini. Saya pun yakin, saya pasti bisa. Seluruh kekuatan pun ku kerahkan demi melihat si mungil lahir dengan selamat.

Berteriak membuat kerongkongaku mulai mengering. Belum sempat untuk minum, kontraksinya datang lagi. Kedua bidan, Ibu dan suami terus menyemangatiku untuk mengejan yang ketiga kalinya. Sebentar lagi, kata mereka. Saya hanya diminta mengejan lebih kuat untuk terakhir kalinya. Kedua paha kutarik dengan kedua tanganku dan dagu menekan dada sekuat tenaga. Sedikit lagi, lebih kuat lagi. Kata-kata beberapa orang di ruangan itu mulai terdengar samar. Saya hanya fokus dengan diriku untuk melakukan “buang air” terbesar dalam hidupku. Saya berharap mengejan yang ketiga ini akan jadi yang terakhir.

Pukul 01:25
Iiiiiiikkk…, dorongan paling kuat dan lama saya lakukan dan tiba-tiba… rasa lega yang luar biasa saya rasakan. Sedetik saya tak yakin telah melahirkan seorang anak karena tak ada tangisan yang terdengar, namun detik berikutnya saya yakin begitu ibu dan suami bersamaan mencium keningku. Tidak beberapa lama, suara tangis seorang bayi pun terdengar. Tanpa sadar air mataku menetes bersamaan dengan keluarnya air ketuban yang tersisa.

Semua rasa sakit beberapa jam terakhir terasa sirna begitu mendengar sedetik tangisan bayi. Bayi mungil, darah dagingku.
————-

Tidak terasa kini usianya hampir 2 bulan. Melihat, mendengar dan merasakan setiap detik perkembangannya adalah hal luar biasa dalam hidupku. Segala tutorial parenting hanyalah pengetahuan tambahan. Karena sesungguhnya, hanya dengan menatap matanya, intuisi sebagai ibu akan keluar dengan sendirinya.
Sebagai bentuk rasa syukurku pada Sang Pencipta, atas karunia dan kemudahan serta kelancaran melahirkan, saya merawatnya dengan tanganku sendiri, meski harus meninggalkan kegiatan di luar rumah untuk sementara. Karena Allah SWT menitipkan dia padaku, bukan pada orang lain.

Baby Eclair

0 thoughts on “Melahirkan itu…

  1. Mugniar

    Alhamdulillah ya .. … ternyata sudah lahir di kecil. Maaf telat tahunya.

    Sy juga diinduksi waktu kehamilan anak pertama. Minta ampun cepatnya kontraksi terjadi 🙂

    Selamat jadi ibu baru ya 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *