Ada Waktunya

Winarni KS   June 11, 2009   6 Comments on Ada Waktunya

Setiap orang pasti akan dirundung masalah, ini manusiawi. Tuhan maha tahu, dan DIA tahu sampai di mana kemampuan hamba-Nya, semua akan diberikan sesuai dengan porsinya. Mengeluh, meratap pun manusiawi tapi apakah kita akan terus pesimis seperti itu? Jika hidup adalah pencarian, maka kita tak usah mempertanyakan apa yang akan terjadi besok, cukup berusaha mencarinya.

Kemarin sepulang dari kampus hendak menuju kantor, sel-sel otak mengirimkan stimulan ke tanganku untuk mengetikkan sebuah status di facebook.

Berpikir untuk berhenti kerja, mengabaikan kuliah dan kabur dari rumah… Hmmm…

Hp pun ku simpan, dan berusaha untuk tidur di atas pete-pete. Beberapa hari terakhir tidurku memang kurang, bahkan nyaris tidak ada. Istirahat sejenak cukup membuatku menjadi lebih rileks.

Tiba di tujuan, saya pun berjalan menelusuri lorong di samping stadion mattoangin, Tidak seperti biasa, kali ini jalanku sangat lambat, jauh lebih lambat dari biasanya meski panas sangat menyengat, menunduk seolah mencari sesuatu di bawah sana. Seorang tukang becak menegurku.

“Loyona… naik me ki sini” namun saya hanya menggeleng, masih menunduk, dan tidak peduli pada sang tukang becak. Dia tetap berhenti disampingku, hingga akhirnya saya mengangkat kepala dan melihatnya. Rupanya dia tukang becak langganan di dekat rumah.

“Ku kenal tas ta dari jauh. Naik me ki, tadi dari rajawali k” Saya pun tergerak untuk naik ke becak itu. Saat dia hendak mengantarku ke kantor, saya mengelak dan meminta pulang ke rumah saja.

Setiap orang dianugrahkan kemampuan masing-masing. Jika kemampuan yang kau miliki tidak banyak yang memiliki maka bersiaplah untuk mendapat permintaan yang tinggi. Kau akan diberikan pekerjaan bukan karena itu adalah bagian dari pekerjaanmu tapi karena hanya kau yang dianggap mampu melakukannya. Awalnya semua memang membanggakan, tetapi semakin lama semua beban terasa ditumpahkan kepadamu, dan tidak memberikanmu kesempatan untuk melakukan apa yang ingin kau lakukan. Jika ada yang salah pun itu adalah kesalahanmu karena kau yang melakukannya!

Akhir-akhir ini saya merasa beban di kantor makin berat saja, dulu saya sempat berpikir untuk berhenti saja, tapi uNieQ mengingatkan satu hal mengenai keadaan keluarga kami yang akhirnya membuat saya berusaha untuk bertahan.

Ini pilihanku dan harus siap menanggung segala resikonya.

Beberapa hari lalu cobaan lain pun tiba. Seorang junior mengirimkan sebuah sms
“Kanda ditauji skr ada final di LT.1?”
“Tidak, sampai jam brp?”
“Jam 10.40.”
Sedangkan saat itu jam sudah menunjukkan 09.40, belum perjalanan. Namun saya tetap berusaha untuk meninggalkan kantor dan menuju ke kampus berharap bisa tiba disana sebelum waktunya usai. Jam 10.20 saya sudah tiba di kampus namun final itu sudah berakhir. Saya mencoba mencari dosen mata kuliah itu.

“Sudah tidak bisa, siapa suruh kau terlambat, masa kau mau ujian sendiri? Biar kau sudah kerja, tapi posisimu sama ji dengan yang lain, masih mahasiswa.”

Kata-kata itu menyadarkanku. Yah… aku ini masih mahasiswa yang kebetulan saja sudah bekerja, saya tidak bisa diistimewakan hanya karena itu. Walaupun saya sudah berusaha hadir kuliah, mengerjakan tugas tetapi tidak mengikuti final, berarti sama saja dengan nol.
Jauh hari sebelumnya saya sudah berusaha menghubungi angk 2006, teman kuliahku, untuk menginfokan jadwal final. Tetapi it’s human error: Lupa. Dan mereka juga lupa memberi tahu final satu mata kuliah lagi yang ternyata sudah terlaksana sejak minggu lalu. Itu berarti, dua mata kuliah yang sudah berusaha saya perbaiki semester ini, lenyap begitu saja.

Apakah saya menyalahkan mereka? Tidak mereka tidak salah dengan “lupa”.
Ini salahku, jalan ini yang kupilih dua tahun lalu saat malas masuk kuliah, dan saya harus menanggung resikonya.

Dan akhirnya skripsi yang harus diselesaikan akan tersendat dengan batalnya mata kuliah ini. Saya tidak bisa lagu masuk studio periode ini!

Sedangkan orang-orang di rumah tak mau mengerti, yang mereka tahu saya seharusnya bisa selesai lebih cepat, tanpa peduli bahwa usaha ini sudah maksimal namun nasib belum berpihak. Di kantor, bos pun berulang kali menanyakan “kapan selesai?”. Tahukah mereka pertanyaan itu sangat menjemukan. Seharusnya pertanyaan itu menjadi motivasi tetapi nyatanya hanya menjadi beban yang semakin sulit untuk dipikul.

Di sisi lain penyelesaian bukuku sudah mencapai tahap akhir. Naskah sudah selesai, tinggal penambahan grafis dan pembuatan sampul. Saya berusaha mencari inpirasi untuk semua itu meski harus begadang lagi. Saya juga mesti mencari dan bertemu orang-orang berkompoten yang akan menuliskan semacam testimonial yang akan diletakkan di belakang buku, mengirim email, membuat janji untuk bertemu, membicarakan soal penerbitan buku ini, dan menunggu kabar. Belum lagi saya harus memikirkan judul yang paling cocok dan menarik.

Lalu tentang dia yang terus datang menganggu tak juga mengerti, dan terus menerus mengirim sms yang tidak penting. Cinta bukan konsepsi iba seperti yang berlaku pada penderma dan pengemis, karena kau bukan pengemis dan aku bukan penderma! Cinta juga bukan konsepsi obat oleh dokter kepada pasien, karena aku bukan dokter dan kau bukan pasien.

Satu lagi datang menjadi penceramah yang handal tanpa melihat dirinya.

Dan satu lainnya yang membuatku kadang-kadang tidak waras dan membuat saya berpikir “semakin ku mencintaimu, semakin ku harus melepasmu”.

Maka menyatulah semuanya hingga membuat saya kram otak.

Semalam saya baru membuka facebook dan menemukan banyak komentar disana. Saya pikir status yang tertulis itu akan dilewatkan begitu saja, tetapi rupanya masih banyak yang peduli, mempertanyakan. Bahkan Kak Agha berulang kali menuliskan “coba bede”, seolah mengandung makna “ndak menyesal jo ko?”

Andai saja saya tidak kuliah, tentu saya tidak akan menyelesaikan buku ini. Ingin mengabaikan kuliah tampaknya butuh di pikir lagi.

Sejak awal mengajukan ide penerbitan buku ini pada Kak Lily saya memang sudah mengatakan bersedia untuk menanggung biaya cetaknya, meski saya harus mengurungkan niat untuk membeli kamera baru atau membeli laptop. Beruntung saya sudah bekerja, walau penghasilan tak seberapa paling tidak saya bisa menyisihkan tiap bulannya, namun tabunganku itu belum juga cukup. Saya masih harus mencari tambahan untuk ini dan berpikir untuk berhenti bekerja rasanya kurang tepat.

Yah… terkadang kita sibuk menunggu satu pintu terbuka untuk mencapai sebuah kesuksesan hingga kita tidak menyadari Tuhan telah membukakan pintu lainnya. Apapun yang terjadi, terjadilah, saya tidak akan berhenti hingga mimpi itu teraih. Yakin bisa.

Semua akan indah pada waktunya. Dan sepertinya semalam satu masalah sudah mulai teratasi. Mungkin semalam adalah waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya untuk menuntaskan masalah itu. Sedangkan waktu untuk masalah lain juga akan kulewati selama saya terus berusaha.

Karena cinta bukan perkara mencari orang terbaik bagi kita, tetapi perkara menjadi terbaik karenanya.

Bersamamu harusnya aku mampu!

6 thoughts on “Ada Waktunya

  1. cho

    *berkatja-katja..

    huahhh, nar. sa kira ko main2 dengan feed status fb mu.
    u go girl! tenang, saya bakal jadi pembeli pertama bukumu nanti!

    ayooooo, inaaaaar. biar laaaambaaaat asaaaal sarjanaaaaaaa 😀

    Reply
  2. Orangutanji kzi

    Ya..ya..ya..optimis dong. Tuhan bersama orang yg brani. Gnkan akal sehat. Kesuksesan bth perjuangan. Jgn pernah nyerah dinda. Aplikasikan cr dinda mendaki gunung tuk menghadapi smua mslhta.

    Reply
  3. @kelor

    “Hadapilah jiwamu dan sempurnakan keutamaan2nya.
    Kerana engkau disebut seorang INSAN,
    bukan lantaran tubuhmu, tetapi lantaran jiwamu”.

    go girl!!!!!! u can do it .

    Reply
  4. anto pj

    ow.. ow.. trouble.. turbulensi..

    tarik nafas 10 hitungan, tahan nafas 10 hitungan, lepaskan 10 hitungan.
    lakukan sampai kamu merasa rileks

    cara bernafas jangan pake dada, pake perut.. tapi jangan sampai kentut.

    terus..
    berpikir jernih..

    Reply
  5. yodi

    fiuhhh…*speachless*
    Membacanya sj bikin sesak…

    hehehe…ak telat komennya ya…

    mba, arsi angktan brapa??

    angkatan 2004

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *