Memoar Seorang Wali Kelas

Untuk anak waliku kelas VIII 2 SMP YP PGRI Disamakan Makassar Tahun Ajaran 2011-2012

Surat ini untuk kalian…

Mengapa mesti lewat surat? Entahlah, mungkin memang begini caraku menyampaikan sesuatu. Apakah kalian akan membacanya atau tidak, itu bukan masalah. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat yang akan abadi di halaman ini. Mungkin saja ada diantara kalian yang membacanya hari ini, atau mungkin besok, lusa,bulan depan, tahun depan,atau mungkin kalian akan membacanya saat kalian sudah memiliki anak. Tulisan ini akan tetap berada disini.

Tadi… salah satu guru yang kalian takuti selama ini, berhalangan masuk. Saya tahu, itu pasti membuat kalian sangat bersuka cita. Biasanya di waktu yang sama setiap minggunya, kelas kalian begitu tenang. Mungkin takut pada sang guru,tapi sungguh hati saya menjadi lebih sedikit tenang. Paling tidak, 40 menit itu saya libur sejenak memikirkan ketertiban kalian.

Tapi tadi, kalian kembali berbuat onar. Ribut di dalam kelas, keluar masuk, bahkan bermain lempar-lemparan. Akibatnya, seorang siswa terkena lemparan dan mengenai matanya. Dia menangis.

Sang pelempar tidak mau mengakui kesalahan sedangkan yang lain terdengar makin riuh menyalahkan.

Saya hanya mampu terdiam. Entah nasehat apalagi yang harus saya beritahukan kepada kalian. Sejak awal kelas ini didaulat sebagai kelas paling nakal, paling ribut, paling tidak bisa diatur. Kelas ini mendapat predikat pertama untuk segala hal yang buruk. Setiap guru menceritakannya.

Namun sebagai wali kelas,saya tentu harus bertanggung jawab untuk membuat kalian menjadi lebih baik. Jam mengajar saya yang hanya 2 jam tiap minggunya hanya terpakai untuk menasehati kalian, menunjukkan kepedulian saya pada kalian. Mata pelajaran yang saya ajarkan pun tidak efektif seperti di kelas2 lain. Semuanya demi melihat kalian menjadi yang lebih baik bahkan yang terbaik.

Tapi apa yang terjadi? Apa yang saya sampaikan hanya angin lalu. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Apakah kalian menyadari betapa pedulinya saya pada kalian hingga selalu mengingatkan kalian untuk menjadi lebih baik? Apakah kalian menyadari betapa sayangnya saya pada kalian sehingga selalu memafkan kesalahan apapun yang kalian lakukan? Sayang?

Yah… saya mulai dan makin menyayangi kalian setiap hari. Saya ingin memeluk kalian satu persatu dan membisikkan bahwa saya menyayangi kalian dan ingin melihat kalian berubah menjadi lebih baik. Bahkan dalam setiap doa di akhir shalatku, saya memasukkan kalian.

Tapi hari ini, emosi saya telah memuncak melihat kalian yang tidak kunjung berubah. Berulang kali saya berteriak menenangkan kalian, namun kalian tak kunjung tertib.Diam kembali jadi pilihan. Kali ini mataku memanas, bendungan yang coba saya bangun untuk menahan air mata pun bobol. Airmata itu mengalir di pipiku tanpa bisa ku tahan. Kalian langsung terdiam. Apakah kalian melihat setiap tetesan air mataku ini? Saya menangisi kalian yang tak kunjung berubah dan menangisi ketidakberhasilanku sebagai wali kelas. Butir demi butir air mata ini menjadi bukti betapa sayangnya saya pada kalian? Tapi apakah kalian juga menyayangi saya?

Saya yakin kalian anak-anak yang luar biasa dan memiliki potensi. Saya tahu, dibalik prilaku yang guru lain menyebutnya “nakal” kalian adalah anak-anak yang kreatif. Saya tahu, sebagian besar dari kalian punya minat dan bakat dibidang olahraga dan seni dan jika disalurkan dengan baik kalian bisa menjadi atlit dan seniman yang hebat. Sungguh,saya sangat menyayangi anak wali seperti kalian.

Meski di bibir saya berkata bahwa saya tidak akan memperdulikan kalian lagi, tapi dalam hati saya tetap akan menjaga kalian hingga memiliki wali kelas yang baru.

Ibu menyayangi kalian dan akan terus mendoakan kalian. Maafkan jika ibu belum bisa menjadi wali kelas yang baik untuk kalian.

0 thoughts on “Memoar Seorang Wali Kelas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *