Hidup adalah Menghidupi

Awalnya semua terasa berat, saat menyadari bahwa dirimu adalah satu-satunya orang yang mempunyai penghasilan di dalam keluarga. Sebagian besar penghasilanmu digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga bahkan untuk membayar utang-utang yang bertumpuk. Lupakan semua keinginan untuk bersenang-senang, lupakan keinginan untuk membeli barang yang telah lama kau impikan. Lupakan untuk mengganti pakaianmu yang sudah usang bahkan rusak. Lupakan sejenak begitu banyak mimpi yang ingin kau raih. Begitu banyak tanggung jawab sudah tersaji untukmu. Melunasi semua utang-utang keluargamu, membiayai kebutuhan sehari-hari keluargamu, melihat adikmu tetap berkuliah serta menjadi atlit terbaik, dan membuat usaha kakakmu berkembang.

Kadang terlintas rasa egois, namun harus kamu tepis saat melihat wajah penuh iba anggota keluargamu. Mereka sangat berharap padamu. Akhirnya kamu kembali harus mengalah, membagikan penghasilan yang kau terima kepada mereka, meskipun sebenarnya kamu tahu, penghasilan itu pun tak cukup. Terkadang “gali lubang, tutup lubang” pun harus kamu lakukan.

Beberapa pekerjaan sekaligus kamu lakukan untuk mencukupinya. Berpindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja lain dalam sehari. Dua bahkan empat profesi dalam sehari kau lakukan sekaligus. Berdagang apa saja yang kau mampu. Abaikan kata-kata orang yang mencibirmu “pemburu dollar”. Mereka hanya tak pernah tau, bagaimana keadaanmu sebenarnya.

Pada akhirnya kamu pun menyadari satu hal, bahwa hidup sebenarnya adalah saat kita mampu menghidupi banyak orang dalam hidup kita, bukan hanya untuk menghidupi diri sendiri.

Namun… salahkah jika saat ini engkau ingin memberikan hadiah pada dirimu setelah apa yang telah kau lakukan?

 

0 thoughts on “Hidup adalah Menghidupi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *