Janji Kepada Kota

Sudah lama kategori urban yang saya buat di blog ini tidak terisi sebuah tulisan. Rasa kangen untuk menuliskan sesuatu tentang kota terkadang selalu datang tapi saya (pura-pura) tak mempedulikannya dan membiarkan rasa rindu itu tersimpan begitu saja. Beberapa orang pun pernah mempertanyakan kapan saya menulis tentang kota lagi, tapi saya hanya diam, entah tak tau harus menjawab apa atau tahu jawabannya tapi tak ingin diungkapkan.

Hingga akhirnya beberapa hari lalu, saya membaca sebuah tulisan di sebuah Koran ternama di Kota ini yang dituliskan oleh seorang junior saya di kampus. Bangga sekaligus iri bercampur menjadi satu. Meskipun karakter tulisan kami berbeda, saya tetap bangga karena tulisan seorang mahasiswa Pengembangan Wilayah Kota Unhas terbit di Koran. Disisi lain, saya pun iri karena hingga hari ini saya belum berani mengirimkan tulisan saya di Koran.

Namanya Rika Dwi Kurniasih, seorang mahasiswi Pengembangan Wilayah Kota Unhas angkatan 2006,  pacar teman seperjuangan saya (keterangan ini sepertinya tak perlu). Dia memperoleh Juara II pada ajang Urban Fellowship Ke-3 melalui tulisannya yang berjudul “Butta Panrita Lopi, Tantangan Mengejar Identitas”. Tulisan ini pun berhasil ditayangkan disebuah koran lokal di kota ini.

Salah satu ciri khas tulisan saya adalah mengungkapkan sebuah problematika kota  melalui sebuah cerita perjalanan yang saya alami sendiri atau dari cerita orang lain, kemudian dikomperasikan dengan sumber ilmiah hingga keluar sebuah alternatif solusi. Gaya tulisan seperti ini menuntut saya untuk melakukan survei secara detail. Untuk sebuah tulisan saja, saya biasanya melakukan survei ke tempat yang sama lebih dari satu kali. Selain itu data yang akurat yang saya peroleh dari berbagai sumber, entah itu dari pemerintah, dari masyarakat sekitar, dari buku-buku atau dari internet menuntut saya mempunyai mobilitas yang cukup tinggi.

Mobilitas yang tinggi serta kebutuhan data yang banyak menuntut adanya persiapan finansial yang kuat, belum lagi jika ada data yang harus ditukar dengan sebuah amplop. Disitulah letak permasalahannya sekarang, kebutuhan finansial. Dulu, hal itu tidak terlalu menjadi masalah karena saya memperoleh beasiswa dari panyingkul. Bahkan saat saya mulai bekerja, saya tak lagi berharap bayaran setiap tulisan saya yang dimuat.

Tetapi keadaan ekonomi keluarga kami sekarang sedang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Saya mencoba menahan segala pengeluaran yang tidak perlu. Jika tak mesti keluar, saya berusaha untuk tetap berada di rumah untuk menghemat biaya transportasi. Pelan-pelan saya meninggalkan kegiatan survei dan fokus dengan bisnis kecil-kecilan. Saya layaknya tulang punggung keluarga yang harus menghidupi adik, kakak dan kadang-kadang kedua orang tua saya dari hasil bisnis yang saya kerjakan. Ego untuk bersenang-senang dengan kegiatan yang saya sukai terpaksa saya tepis.

Dua minggu yang lalu komputer saya pun tiba-tiba rusak. Satu-satunya harapan saya untuk bisa mendapatkan penghasilan kini hanya menjadi rongsokan yang tak bisa berbuat apa-apa. Jangankan untuk membuat sebuah tulisan tentang kota, untuk mencari uang transportasi pun menjadi tersendat. Kini, saya hanya mengandalkan sarana sms dan mobile internet untuk berpromosi, berharap bisa mendapatkan sedikit penghasilan untuk dikirimkan kepada kakakku untuk biaya hidup, setidaknya selama seminggu dia disana dan ongkos pulangnya kesini serta untuk adikku yang akan mengikuti kejurnas. Walaupun saya belum mampu membuat mereka bahagia, setidaknya saya akan berusaha mengurangi penderitaan mereka.

Apapun yang terjadi hari ini saya tak akan pernah menyerah. Mungkin jalan ini yang Tuhan tunjukkan untuk mengasah karakter saya menjadi lebih kuat dan mau bekerja lebih keras. Toh banyak cerita orang sukses yang berasal dari ketidakmapanan.

“Janganlah hanya tidur jika engkau sanggup duduk, jangan hanya duduk jika engkau sanggup berdiri, jangan hanya berdiri jika engkau sanggup untuk berjalan dan jangan hanya berjalan jika berlari membuat hidupmu semakin bermartabat”

Saya berjanji akan mempersembahkan sebuah tulisan tentang kota jika masalah keuangan keluarga kami mulai sedikit teratasi. Saya janji! Tolong ingatkan saya.

Thx kepada seseorang yang telah meminjamkan laptopnya malam ini…

0 thoughts on “Janji Kepada Kota

  1. ardee

    salut……. mudah2an dengan semangat dan kerja kerasnya, semua kesulitan bisa teratasi. dan jangan lupa berdoa, meminta kepadaNya….

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *