Gunung pun Tak Mengobati

Aku terkekang pada ketidakmampuanku. Jiwaku dikebiri oleh cita-cita dan pemikiranku sendiri. Aku dikecewakan oleh mimpi-mimpi dan obsesiku. Kebosanan dan kemirisan, kian lama menggoncangkanku. Aku terjatuh lagi. Aku kehilangan jiwa yang pernah menginspirasi orang lain. Langkah yang dulu mengangumkan, kini gontai.

Pertanyaan bertubi-tubi mengenai kapan aku menyelesaikan studi, makin memuakkan. Menetap di rumah hanya membuatku sesak. Lalu, aku ke kampus. Aku mendapati temanku sibuk menyelesaikan skripsi bahkan bersiap untuk memakai toga, sedangkan aku? Satu huruf dalam skripsiku pun belum ada. Seketika ruangan itu membuat tubuhku ringkih.

Aku memang payah. Tidak begitu mampu menghadapi kenyataan. Aku terbiasa berhenti. Menyingkir. Mencari pelarian. Setelah itu, kembali dengan harapan dan kekuatan yang baru.

Mataku terpaku pada sebuah foto. Pemandangan di atas puncak sebuah gunung, dimana langit terasa begitu dekat. Seorang gadis berdiri di sana. Senyumnya menunjukkan eforia. Yah, itu aku.

Dulu, perjalanan melewati hutan untuk mencapai puncak sebuah gunung adalah bagian hidupku. Mencium bau tanah basah yang begitu khas, menggapai awan yang terasa begitu dekat, memandang matahari terbit maupun tenggelam yang begitu indah. Mencoba meluluhlantahkan beban di hati dengan beban di pundak, mencapai puncak asa dan menyadarkan harapan bahwa kesempatan masih ada.

Sekarang, perjalanan itu membuatku sesak. Kakiku lemas menapaki bebatuan dan lumut-lumut basah. Tubuhku lunglai kala diselimuti dingin. Gunung dan dirinya adalah sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Jiwaku meringis. Seperti ada petir yang menyambar-nyambar di atas kepalaku. Mengingatnya membuat duniaku gelap dengan mimpi buruk masa lalu. Dan gunung pun tak lagi mengobati bahkan menjadi penyebab goresan luka di sekujur jiwa dan hatiku.

Aku terkulai. Lemas. Tak berdaya. Seluruh dunia seakan tidak memihakku lagi. Tak satupun yang mampu menarikku dari lembah keputusasaan. Ku rasakan ada air yang menitik di pipiku, kian lama mengalir …..

Terlalu cengeng. Aku menyeka setetes air di pelupuk mataku. Aku masih memiliki satu dunia. Dunia kecil yang aku harap mampu menyambutku dengan pintu keajaiban. Pintu yang akan menghadirkan selaksa harapan. Disini, di dunia maya, aku berlari dari kenyataan, mencari napas baru, ketika gunung tak lagi mengobati.

Terkadang kita harus lari dari kenyataan, agar kita tetap berpijak pada kenyataan itu sendiri. Kita harus menciptakan dunia kecil yang kita kenal dengan baik sebagai oase kehidupan di tengah-tengah dunia yang tidak kita kenal ini. Karena dunia nyata terlalu rumit untuk dimengerti.

0 thoughts on “Gunung pun Tak Mengobati

  1. pj

    senasib..

    tapi setidaknya percaya dan yakin pada mimpi

    kita bagian dari alam

    bukan berandai-andai, tapi semua sedang berproses

    mungkin saja ente sedang dalam fermentasi.. metamorfosis.. apalah namanya

    bagaimana kalo selama masa itu kita perkuat dan perindah sayap

    biar pada saatnya bisa terbang lebih tinggi dan lebih indah dari yang lain

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *