Aku Bahagia Bersamamu…

Padamu akan aku rajut cerita. Mengisahkan sejarah. Mengikat makna. Mengukir goresan yang kelak akan jadi warisan. Pada setiap piksel tampilanmu, serta setiap huruf pada untaian katamu, mewakili setiap detak kebahagianku.

Awal Kita Bertemu

Sebelas tahun lalu, aku tak ingat persis bagaimana awalnya kita bertemu. Aku hanya ingat betapa eforianya kala pertama kali aku menyapamu. Sebuah rasa menggetarkan yang namanya tak kutahu. Seperti berjumpa teman yang telah lama tak bertemu. Ada nyaman yang selalu membuatku rindu.

Aku menata lembaran kisah hidupku bersamamu. Padamu, aku mengadu tentang lirik yang sendu. Padamu, aku bercerita tentang alam dan langit yang biru. Padamu aku merawi tentang cinta yang syahdu. Padamu, aku mendesahkan duka dan laraku. Padamu, aku ungkapkan pendapatku. Padamu aku tuliskan tentang kotaku. Padamu, aku kabarkan tentang dunia dan sekitarku.

Tidak peduli banyak atau sedikit pengunjungmu. Itu bukan tujuan utamaku. Aku hanya tahu bahwa aku akan mengisimu dari relung hatiku. Aku hanya tahu aku bahagia saat mengungkapkan semua padamu.

Karenamu, aku mengalami banyak hal tak terduga. Kritikanku ditolak, membuat perjalanan hidupku jadi sedikit berat. Idealismeku diuji hingga membuatku menarik diri. Diriku dikecam hingga membuat sedihku terpendam. Aku kehilangan dan memaksaku untuk mengikhlaskan.

Tetapi kehadiranmu pula yang menambah warna. Aku bertemu dengan banyak orang aneka rupa. Aku bisa merasakan menjadi pewarta warga. Ada yang mengaku memuja walau hanya di dunia maya. Aku merasakan jatuh cinta dan merasakan menjadi wanita yang paling dimanja.

Meninggalkanmu

Maafkan jika aku pernah melupakanmu. Aku menjauhimu dan sulit untuk kembali. Mengembarai bagian lain dunia maya, membuatku mengabaikanmu. Jariku kaku saat berhadapan denganmu tapi tidak dengan jendela sebelah itu. Kepercayaan diriku lenyap, sesaat akan mengunggah tulisan untukmu.

Kau tahu betapa tersiksanya aku saat itu? Resahku tak tersampaikan. Gelisahku tak tersalurkan. Ada galau yang mendekam di labirin otakku. Aku kehilangan tempat berkatarsis. Aku kehabisan daya saat ribuan tanya tak terjawab menguasai.

Sepimu bukan berarti membuatku hilang. Diammu bukan berarti aku lupa. Aku menatapmu dari jauh. Aku mengunjungimu setiap waktu. Aku memerhatikanmu yang mulai berdebu. Lupa password? Syukurnya aku tidak mengalami itu.  Jika itu terjadi mungkin hari ini tak kutuliskan surat ini untukmu.

Pada hasrat yang tersisa, menelikung sebuah harapan. Melesat diantara masa lalu dan hadapan. Dan aku memutuskan kembali kepelukanmu.

Terima kasih kepada takdir yang telah mempertemukan kita lagi.

Aku kembali…

Saatnya untuk bangun dari hiatus berseri ini. Tertatih aku membangun strategi. Melawan rasa malas yang terlalu sempurna menggerogoti. Mendesain ulang tampilanmu, demi membangkitkan andrenalin untuk menulis lagi.

Kehadiranmu tidak hanya kado tetapi sekaligus terapi. Engkau bagaikan oase diantara penatnya menjalani kehidupan sehari-hari. Sebagai istri dan ibu dari seorang putri aku dituntut piawai menata emosi. Dan itu bisa kudapatkan saat bercengkrama denganmu disini. Ada rasa menggelora yang kunamakan damai.

Selama kembali, aku coba ikut berkompetisi. Bukan berambisi untuk menjuarai. Atau sekedar menyenangkan hati juri. Aku menulis untuk diriku dengan caraku sendiri. Kepuasanku saat melihatmu lebih “berisi”. Harapku, kompetensiku dalam menulis akan kembali.

Aku Bahagia Bersamamu…

Biarkanlah hubungan kita seperti ini. Kita saling mendekap dalam kesunyian. Membentuk tatanan baru peradaban. Akan aku ukir setiap detik peristiwa yang tak hanya di angan. Dan kita akan menjalin kasih dalam keabadian.

Bagiku, mengisimu membuka kesenyapan hati. Ia tidak melulu berbentuk materi. Tidak selamanya butuh eksistensi. Tak kecewa meski hanya sedikit yang mengapresiasi. Bukan tempat menumpahkan iri dan dengki. Malah menjadi sumbu motivasi. Wadah berbagi inspirasi. Hadirmu membuka mataku betapa banyak hal yang semestinya disyukuri. Bukankah itu kebahagian sejati?

Satu pesanku untukmu. Jika jatah usiaku telah berakhir, wariskan untaian tulisan di dindingmu pada anak, suami dan orang-orang yang kukasihi. Sampaikan pada mereka bahwa mereka adalah hal yang paling berharga dalam hidupku. Di wajahmu mereka resapi betapa aku sangat mencintainya. Buat mereka bahagia dengan membacamu meski ragaku tak lagi mewujud. Usia tak ada yang tahu…

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #10TahunAM


37 thoughts on “Aku Bahagia Bersamamu…

    1. Winarni KS Post author

      Paragraf terakhir itu justru yang pertama saya tulis, lama mengendap di draft. Tujuan ngeblog memang hanya ingin panjang umur, yang lain cuma bonus. Hehehe

      Reply
  1. Mugniar

    Ddeh Inar, sepenuh perasaan dengan kata-kata yang bersajak seperti ini, kalau saya yang bikin pasti lama sekali, bahkan mungkin ndak selesai-selesai.

    Good luck yah Inar. Semoga kita bisa terus menulis. Selamanya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *