Saat Lapis Cetar sukses, ingat ini

 

Lapis Cetar mau masuk lab

 
Setelah kemarin melewati hari melelahkan dengan mengurus perizinan dan membeli bahan sambil menggendong Eci lalu dilanjutkan membuat 3 adonan sekaligus, hari ini tidak kalah melelahkan.

Tadi pagi saya terbangun dengan kondisi seluruh kaki pegal, mungkin karena kelamaan berdiri kemarin. Merintis bisnis ini kami memang bertiga tapi khusus untuk lapis Cetar saya mengerjakannya sendiri. Mulai dari urus perizinan, membeli bahan hingga semua proses pembuatan Lapis Cetarnya. Belum lagi karena tidak ada kendaraan, alat transportasinya menggunakan pete-pete yang kadang dibawa dengan ugal-ugalan oleh sang supir.

Saya memulai hariku dengan membuat satu adonan lagi, untuk mencukupkan semua rasa yang akan di uji coba di laboratorium. Seperti biasa selalu ada drama oleh princess Eci dan akhirnya tepung talasku tumpah sebagian. 

Kue itu pun jadi. Beberapa kali saya mengajak Eci untuk pergi tapi dia masih asik menonton, ketika diberi tahu akan ditinggal malah menangis. Hingga akhirnya dia tertidur dan saya pergi sendiri.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 saat saya naik di pete-pete. Dalam hati saya berdoa agar saat tiba disana, petugasnya masih ada dan saya tak harus kembali lagi besok. Syukurlah doa saya di dengar. Setelah berjalan sekitar 200 meter dari tempat turun pete-pete saya menemukan laboratoriumnya.

Saya disambut dengan ramah oleh seorang petugas pria. Setelah menyerahkan surat pengantar saya pun memperlihatkan sampel produkku. Sang petugas mempertanyakan apakah saya ingin mengujinya semua? Itu berarti saya harus membayar 4 x 375ribu. Saya iyakan saja. Sayapun diminta mengisi formulir. Tiba saat diberikan nota, saya kaget karena harus dibayar saat itu juga. Sedangkan uang di dompet saya tak cukup.

Terpaksa saya harus berjalan kaki lagi keluar, menyebrangi 2 jalur jalan besar dengan kendaraan yang melaju sangat kencang serta ditemani matahari yang sedang unyu-unyunya. Rasanya lelah itu berlipat-lipat belum lagi memikirkan rekening yang terkuras. Rasanya ingin mengulang dan meminta satu sampel saja yang diuji. 

Saya pun kembali ke laboratorium melawati jalur dan kondisi yang sama dan tiba di sana dengan keringat yang bercucuran. Rasanya berat mengeluarkan uang terakhir di dompetku. Tapi sudahlah, niatkan yang baik saja.

Demi berhemat, saya harus berjalan lagi hingga 1 km dari lab untuk mendapatkan pete-pete 02. Itupun harus berdiri lebih lama karena tidak ada satupun 02 yang lewat hingga 30 menit menunggu.

Satu hal yang saya syukuri, Eci tidak ikut pada pengurusan ini. Tidak terbayang kalau harus berjalan jauh, menyebrang jalan besar dan menembus panas matahari sambil menggendongnya.

Biarkan segala lelah ini menjadi kenangan, kelak saat bisnis ini sukses luar biasa ada kisah yang akan saya seceritakan bahwa bisnis ini dibangun tidak instan tapi penuh perjuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *